ISLAM
ISLAM

Krisis Gaza, Kelaparan Sistemis, dan Janji Allah untuk Kebangkitan Umat

Krisis Kemanusiaan yang Mengguncang Nurani Dunia

TRAGEDI kemanusiaan di Gaza kini telah melampaui batas-batas yang mampu dibayangkan. Setelah puluhan ribu nyawa melayang akibat serangan militer Zionis sejak Oktober 2023, penderitaan rakyat Gaza memasuki fase baru: kelaparan sistemis yang dijadikan senjata genosida.

Bukan sekadar akibat konflik bersenjata, tetapi strategi yang disengaja. Blokade total diberlakukan: makanan, obat-obatan, bahan bakar, dan listrik dihentikan masuk. Konvoi bantuan kemanusiaan dari dunia internasional berulang kali dihadang. Bahkan, laporan World Food Programme (WFP) menyebutkan, 1,1 juta warga Gaza kini berada dalam kondisi kelaparan akut—angka yang jarang ditemui dalam sejarah modern.

Lebih ironis lagi, tekanan terhadap rakyat Gaza tidak hanya datang dari Zionis Israel. Sejumlah negara Arab dan Muslim seperti Arab Saudi, Qatar, dan Mesir dilaporkan turut menekan Hamas agar melucuti senjata dan menyerahkan kendali Gaza kepada Otoritas Palestina. Tekanan politik ini—seperti dilaporkan Sindonews.com (1/8/2025)—justru terjadi di saat rakyat Gaza berada di ambang kematian massal akibat kelaparan.

Bahkan Mesir, negara yang memiliki akses langsung ke Gaza melalui Rafah, dilaporkan menekan Imam Besar Al-Azhar untuk mencabut pernyataan kerasnya yang mengutuk kebiadaban Zionis. Ini adalah ironi sejarah: dunia menyaksikan bukti terang-benderang bahwa kelaparan digunakan sebagai senjata genosida, namun sebagian penguasa Muslim justru memilih diam atau ikut berkompromi.

Penguasa Muslim: Buta, Tuli, dan Mati Rasa

Firman Allah dalam QS Al-Hujurat ayat 10 menjadi pengingat yang seharusnya menggetarkan hati:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”

Namun, realitas menunjukkan sebagian besar penguasa Muslim bersikap layaknya buta, tuli, dan mati rasa terhadap penderitaan rakyat Gaza. Kepentingan politik, kekuasaan, dan kesepakatan dengan pihak-pihak yang justru menjadi sumber penindasan membuat mereka kehilangan empati.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

“Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta, kasih sayang, dan kelembutan mereka seperti satu tubuh; apabila salah satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (HR Muslim)

Dulu, semangat persaudaraan ini mampu menggerakkan kekuatan militer terbesar di dunia hanya demi membela kehormatan seorang Muslim. Hari ini, dengan teknologi informasi yang membuat penderitaan rakyat Gaza dapat disaksikan secara langsung dari ponsel di genggaman tangan, reaksi sebagian pemimpin Muslim justru semakin dingin.

image_print
1 2 3

Reaksi

Berita Lainnya