TEKNOLOGI

Ancaman Sunyi Ruang Digital: Bahaya Konten Merusak bagi Generasi Muda

Generasi muda kini terpapar konten digital merusak yang memengaruhi pola pikir, akhlak, dan kepribadian. Negara sekuler gagal menciptakan ruang digital aman, sementara Islam menawarkan solusi perlindungan generasi. Baca analisis lengkapnya.

Oleh: Hanny N

DI era ketika layar menjadi “teman paling dekat” bagi anak-anak muda, kita menyaksikan sebuah ironi besar: teknologi yang seharusnya memudahkan hidup, justru menjadi pintu bencana yang merusak cara berpikir dan kepribadian generasi.

Ruang digital hari ini berubah menjadi arena yang bising, penuh dengan konten yang entah sejak kapan mulai mengambil peran sebagai “pendidik bayangan” bagi remaja—pendidik yang tidak punya moral, tidak punya aturan, tidak punya kasih sayang, tetapi sangat agresif memengaruhi pikiran.

Smartphone kini menjadi guru baru, pendamping baru, bahkan kadang “orang tua baru” bagi jutaan anak dan remaja. Setiap hari mereka digempur oleh konten—mulai dari yang ringan namun toxic, sampai yang sangat berbahaya. Pornografi, game tanpa kontrol, judi online, pinjol, cyberbullying, konten liberal, normalisasi pergaulan bebas, hingga moderasi beragama yang mendorong relativisme nilai. Setiap scroll membuka peluang pada satu hal: kerusakan karakter.

Fenomena ini bukan sekadar statistik, tetapi realitas yang mengalir deras di depan mata. Dan yang lebih menyedihkan, banyak anak muda yang tidak menyadari bahwa mereka sedang dibentuk oleh sesuatu yang tidak mereka pilih.

Paparan Konten Merusak dan Tumbuhnya Generasi Rapuh

Ketika konten-konten negatif muncul dengan intensitas tinggi, dampaknya bukan lagi sekadar gangguan sesaat. Ia membentuk cara berpikir: apa yang dianggap lucu, apa yang dianggap normal, apa yang dianggap bebas dilakukan, bahkan apa yang dianggap benar atau salah.

Pelan-pelan, generasi ini mengalami apa yang oleh psikolog disebut sebagai split personality (kepribadian terbelah). Di satu sisi mereka tetap muslim, menjalankan ibadah, beridentitas sebagai orang beragama. Tetapi di sisi lain, pola pikir, gaya hidup, selera hiburan, dan cara mengambil keputusan sudah terpengaruh oleh nilai-nilai sekuler yang mereka konsumsi setiap hari.

Akhirnya lahirlah generasi muslim yang gamang, rapuh, dan kehilangan arah. Mereka mudah stres, mudah depresi, mudah putus asa. Mereka tidak sanggup menahan tekanan sosial media. Mereka sering merasa “tidak cukup”, “tidak sempurna”, “tidak bahagia”. Padahal semua itu hanya karena mereka sedang membandingkan hidupnya dengan potongan-potongan palsu yang muncul di layar.

Allah SWT telah mengingatkan bahwa bentuk kebinasaan sering muncul dari apa yang manusia lakukan sendiri, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rum: 41)

Jika kerusakan fisik saja Allah soroti, apalagi kerusakan mental, ideologis, dan kepribadian yang merusak satu generasi.

Ketika Negara Absen: Ruang Digital Dikuasai Pasar

Kemajuan teknologi memang tidak bisa dihentikan. Ia adalah bagian dari sunnatullah. Tetapi cara negara mengelola kemajuan teknologi itulah yang menentukan apakah ia membawa maslahat atau mudarat.

Sayangnya, kita hidup di sistem negara sekuler—yang memandang teknologi sebagai ruang bebas pasar, bukan ruang peradaban. Negara hanya berperan sebagai regulator minimalis, bukan penjaga generasi. Konten digital yang merusak dibiarkan meluas dengan dalih kebebasan berekspresi, kebebasan usaha, kebebasan platform global.

Tidak ada filter ideologis. Tidak ada visi membina generasi. Tidak ada ketegasan menjaga moral publik. Akibatnya, ruang digital menjadi seperti padang liar: yang kuat bebas mencari mangsa, sementara anak-anak muda kita menjadi korban paling empuk.

Padahal Rasulullah SAW bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika kepala keluarga saja bertanggung jawab menjaga keluarganya, apalagi negara yang memimpin seluruh umat.

Negara seharusnya menjadi penjaga (hâris) yang memastikan keamanan, kebaikan, dan kelayakan setiap ruang yang diakses rakyat—termasuk ruang digital. Tapi dalam sistem sekuler hari ini, negara justru cenderung tunduk pada kepentingan pasar dan kebijakan global big tech.

Teknologi: Berkah atau Bencana? Semua Bergantung Tata Kelola

Tidak ada yang salah dengan teknologi. Yang salah adalah ketika teknologi dilepas tanpa nilai. Di tangan sistem yang benar, teknologi bisa menjadi alat pendidikan yang mencerdaskan, menginspirasi, dan menguatkan kepribadian generasi. Namun di tangan sistem yang keliru, teknologi berubah menjadi bom waktu yang perlahan merusak mental masyarakat.

Inilah yang hari ini kita saksikan. Ruang digital kita dipenuhi pornografi yang mengubah anak-anak menjadi pecandu sejak dini, judi online yang menjerat remaja dalam utang, pinjol yang mengeksploitasi putus asa, konten sampah yang normalisasi maksiat, moderasi beragama yang mengikis akidah, dan trafficking yang berkeliaran di balik anonim akun.

Dan negara sekuler seringkali hanya bisa berkata: “Kami imbau masyarakat berhati-hati.” Padahal, imbauan tidak akan pernah cukup untuk melawan industri konten global raksasa yang bergerak 24 jam.

Bagaimana Islam Menjaga Generasi di Era Teknologi

Sejarah Islam pernah mencatat bagaimana peradaban ini unggul dalam mengelola ilmu dan teknologi. Bahkan teknologi militer, astronomi, kedokteran, transportasi, hingga mesin mekanik berkembang pesat, tetapi tidak pernah ada kekacauan moral seperti hari ini.

Mengapa? Karena dalam peradaban Islam, negara berfungsi sebagai râ’in (pengurus) dan junnah (pelindung) bagi rakyatnya. Negara tidak hanya mengatur, tapi melindungi. Tidak hanya membangun, tapi mengarahkan. Tidak hanya menyediakan fasilitas, tapi memastikan setiap fasilitas itu mendukung terbentuknya kepribadian Islam.

Jika model ini diterapkan pada ruang digital, maka konten merusak akan disaring secara ketat dengan teknologi terbaik. Bukan hanya diblokir, melainkan dicegah masuk melalui sistem pengawasan yang jelas, tegas, dan ideologis. Negara akan memprioritaskan keselamatan generasi, bukan kepentingan korporasi global.

Ruang digital diarahkan menjadi sarana pendidikan dan dakwah. Platform digital tidak lagi menjadi tempat kebisingan, tetapi menjadi ruang ilmu, kreativitas, inovasi, dan pembentukan karakter mulia.

Syariat diterapkan secara komprehensif sehingga akar kejahatan digital terkubur. Ketika hukum syara’ ditegakkan, prostitusi hilang, narkoba hilang, perjudian hilang, pemujaan kebebasan tubuh hilang—maka otomatis sumber-sumber konten merusak pun hilang. Tidak hanya dipangkas di layar, tetapi diputus dari akarnya.

Sejarah membuktikan, ketika negara berdiri di atas syariat, masyarakat hidup dengan ketenangan, kehormatan, dan kejernihan moral. Inilah yang membuat generasi muslim pada masa dahulu tumbuh menjadi generasi yang kuat, cerdas, dan berkepribadian kokoh.

Penutup: Menyelamatkan Generasi Bukan Sekadar Tugas Keluarga, Tetapi Tugas Peradaban

Hari ini kita sedang mempertaruhkan masa depan generasi. Ruang digital terlalu besar untuk hanya diserahkan kepada orang tua, sekolah, atau imbauan moral. Ia membutuhkan peran negara yang benar-benar melindungi rakyat—bukan hanya dari kejahatan fisik, tetapi dari kerusakan pemikiran yang merusak ruh.

Karena itu, perjuangan untuk menghadirkan sistem yang melindungi generasi secara menyeluruh bukanlah pilihan, tetapi kebutuhan mendesak. Kita membutuhkan negara yang benar-benar mengemban amanah, bukan yang tunduk pada kepentingan pasar global.

Dan satu hal yang pasti, Generasi tidak akan pernah kokoh tanpa payung syariat yang melindungi mereka.

Wallahu’alam bish shawab.

image_print

Reaksi

Berita Lainnya

Uh-oh! It looks like you're using an ad blocker.

Our website relies on ads to provide free content and sustain our operations. By turning off your ad blocker, you help support us and ensure we can continue offering valuable content without any cost to you.

We truly appreciate your understanding and support. Thank you for considering disabling your ad blocker for this website