BANDA ACEH – Kemunculan produk Whip Pink menjadi ramai dalam perbincangan publik di media sosial.Meski namanya terdengar seperti pelengkap hidangan pencuci mulut, tapi ternyata bisa menyebabkan kerusakan organ dalam manusia, di mana menurut ahli paru ungkap Whip Pink narkoba penghancur jantung.
Dokter Spesialis Paru, Prof. dr. Erlina Burhan, memberikan penjelasan mendalam mengenai fenomena ini.
Ia menegaskan adanya pergeseran fungsi yang sangat mengerikan, di mana produk yang seharusnya digunakan di dapur, justru disalahgunakan menjadi sarana pengantar narkotika berbahaya.
Berdasarkan temuan medis, produk yang disalahgunakan ini diduga kuat mengandung zat psikoaktif seperti Piperazine dan Catinone.
Prof. Erlina menjelaskan bahwa kedua zat ini termasuk dalam kategori narkotika yang memiliki efek destruktif terhadap metabolisme manusia.
“Secara umum, whipping itu sebetulnya dipakai untuk kuliner, untuk bikin krim. Tapi yang marak sekarang ini adalah penyalahgunaan. Isinya ada Piperazine dan Catinone,” ujar Prof. Erlina saat dihubungi oleh jurnalis Disway, Minggu 25 Januari 2026.
Pola distribusinya pun beragam, mulai dari bentuk bubuk hingga kristal. Cara masuknya ke tubuh pun bervariasi bisa dihirup, diminum, bahkan disuntikkan namun metode hirup menjadi yang paling lazim ditemukan di kalangan pengguna remaja.
Prof. Erlina menyoroti bahwa dampak paling fatal dari penggunaan zat ini adalah pada sistem kardiovaskular. Pengguna berisiko tinggi mengalami gangguan irama jantung atau aritmia.
Dalam dosis yang berlebihan, jantung bisa kehilangan kendali irama dan berhenti berdetak secara mendadak.
Bagi sang dokter paru, dampak pada saluran pernapasan juga menjadi perhatian utama. Proses menghirup zat kimia ini memicu iritasi hebat.
“Bisa menimbulkan iritasi pada saluran napas. Terjadi pembengkakan, batuk, hingga sesak napas yang akut. Apalagi kalau penggunanya punya riwayat asma, itu efeknya akan jauh lebih parah,” tegasnya.
Pengguna akan merasakan sensasi euforia, rasa nyaman, dan kepercayaan diri yang meningkat secara instan. Rasa “bahagia” semu inilah yang membuat remaja terjebak dalam lingkaran setan adiksi.
Namun, harga yang harus dibayar sangat mahal. Selain merusak jantung dan paru, zat ini perlahan menggerogoti saluran pencernaan, memicu mual, muntah, hingga diare kronis. Dalam jangka panjang, mekanisme berpikir di otak akan mengalami gangguan permanen.
“Kalau terus-menerus, selain adiksi, ke otak juga bisa berdampak pada gangguan cara berpikir,” tutup Prof. Erlina.
































































































