– Sejumlah pengamat buka suara terkait keputusan Majelis Umum PBB untuk menangguhkan Rusia dari Dewan Hak Asasi Manusia PBB. Keputusan itu, yang tentu saja atas dorongan AS, menjadi preseden berbahaya yang dapat memecah PBB dan merusak tatanan internasional berbasis aturan. Menuding AS dan Barat mempromosikan mentalitas Perang Dingin yang baru di PBB.
“Pemungutan suara itu telah menetapkan preseden berbahaya, bahwa resolusi tanpa penyelidikan yang solid (ternyata) dapat dibawa ke PBB di mana negara-negara anggota kemudian diculik oleh ideologi politik dan dipaksa untuk memilih,” kata Zhu Ying, seorang profesor dari National Human Rights Education and Training Base of Southwest, seperti dikutip dari Global Times, Sabtu (9/4)
Zhu Ying juga menilai AS dan Barat menggunakan media mereka untuk menggambarkan negara-negara yang memveto resolusi tersebut sebagai pendukung Rusia. As dan Barat juga mencoba untuk membagi dunia menjadi apa yang disebut benar dan jahat, dan untuk membungkam negara-negara yang mencari kebenaran atau memiliki pendapat yang berbeda dari Barat.
Majelis Umum PBB mengadopsi resolusi pada Kamis (7/4), isinya menyerukan agar Rusia ditangguhkan dari Dewan Hak Asasi Manusia. Dalam Majelis yang beranggotakan 193 negara, 93 negara memberikan suara mendukung, 24 menentang, dan 58 abstain.
Rusia, China, Iran dan Vietnam termasuk di antara mereka yang memberikan suara menentang. Mereka yang abstain termasuk India, Brasil, Afrika Selatan, Meksiko, Pakistan, dan Singapura.
Menurut rilis PBB, resolusi dibawa ke Majelis setelah beredar foto berisi adegan yang mengganggu dari “insiden Bucha.”
Sementara menurut pengamat, pemungutan suara resolusi sebenarnya tidak mewakili fakta “insiden Bucha”. Namun, AS dan Barat memaksa negara-negara lain untuk bergabung dengan mereka dalam mengkritik Rusia.
Misalnya, media Rusia TASS melaporkan bahwa Serbia memilih ya karena tekanan dan pemerasan Barat, Presiden Serbia Aleksandar Vucic mengatakan pada Kamis di televisi nasional.
Yasir Habib Khan, pendiri dan presiden Institut Hubungan Internasional dan Penelitian Media di Pakistan, mengatakan bahwa tuduhan terhadap Rusia atas “insiden Bucha” belum terbukti.
“Dunia sangat membutuhkan PBB untuk memastikan kesetaraan, keadilan, dan rasa hormat kepada semua. Namun, peran PBB untuk menyatukan dunia, justru sedang surut karena diam atas kekacauan yang dipimpin AS di Libya, Tunisia, Iran, Suriah, Yaman dan Afghanistan. Keikutsertaan Barat yang tergesa-gesa terhadap resolusi yang didorong AS terhadap Rusia di PBB menyangkal nilai-nilai internasional berbasis aturan,” papar Khan.



























































































































Paling Banyak Dipilih
Viral Lagu “Tak Diberi Tulang…
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Inilah 5 Produk Jam Tangan…
Apa benar, yang nomor 4 itu adalah produk ROLEX...???
Berusia Setengah Abad sejak 6/8/1973…
Berikut untuk mengingatkan kita kembali tentang Sejarah: "Kita bukan pembuat…
Pembiayaan Digantung Tak Ada Kabar…
Kriet mate bank Aceh nyan menyoe meurusan ngen ureng Aceh.…
Ada Dua Nama Calon Direktur…
Siapapun nanti dirut yg terpilih, saya siap membantu bas menggarap…
Active Threads
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Hana jelas, Leh kiban di meubut di kelola,Meu peu cap…
Paling Dikomentari
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Kabar Gembira, Bustami Hamzah Resmi…
Bukan Sekadar Pelengkap! PTS Kini…
Komentator Paling Aktif
Komentar Paling Aktif
Jeffrey Epstein yahudi nggak jelas dan pelaku pelecehan sensual.
Syukur lah karena seharusnya memang langsung dimakan karena bukan namanya…
Ara lagi salah minum obat. Kami maklum. hahahaha...
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Berita Terpopuler