Dari jarak 10 meter, sepatu sol tinggi mengkilap, berbalut rim atau kepala sleve yang juga selalu di-brazzo.
Belakangan aku tahu, kenapa dia selalu memilih sepatu kulit bersol tinggi, sebab potongan dan postur tubuhnya sangat pas-pasan untuk ukuran militer polisi era Orde Baru. Tidak tinggi, gempal berotot, berkulit bersih, pokoknya necis.
Sekali-kali kedua tangannya dimasukkan dalam saku celananya, dengan senyum khas lalu kepala menggangguk itu ciri khas yang selalu saya kenang dari Om Piet.
“Rapi itu adalah kesan pertama sekaligus karakter,” katanya suatu waktu.
Perkenalan saya dengan Pieter Sambo boleh disebut tanpa sengaja. Saat itu, dia tengah merintis upaya mengubah apotik yang dikelola istrinya, menjadi klinik kesehatan ibu dan anak di Makassar.
Belakangan, karena rumah sakit spesialis ibu dan anak masih minim di ibu kota provinsi, mimpinya naik dari klinik ke rumah sakit. Rumah sakit itu dia persembahkan khusus untuk istrinya yang juga seorang dokter anak.
Kini sang istri, dr Lauritha Sambo P SPA, masih menjabat sebagai direktur Rumah Sakit Umum Luramay, Makassar. Di momen dia merintis rumah sakit itulah perkenalan awal kami.
Dari sekitar 20-an rangkaian pertemuan terjadwal, dalam 6 tahun, sebagian besar selalu di teras samping RS Luramay, di samping pusat kulakan GORO, Panakkukang.
Di teras rumah sakit itulah dia banyak menceritakan, kisah, pengalaman, suka duka menjadi perwira polisi, dan tentang kerabat dan keluarganya.
Awalnya, kira-kira tiga pertemuan, dia selalu memperkenalkan diri sebagai pengusaha. Saya percaya, sebab dia tahu detail dan lika-liku ekonomi nasional, dan teknis transaksi di bank.
Ternyata, saat pensiun itulah dia mengambil kredit di bank BUMN tertua di Indonesia, Rp500 juta untuk membangun rumah sakit. Saat krisis moneter menerpa negeri, rumah sakitnya hampir kolaps.
Beruntung dia masuk daftar program restrukturisasi pinjaman dan awal tahun 2000, manajemen rumah sakit itu selamat. Rumah sakit itu dikelola sangat profesional dan taat pajak.
Tahun 2007, saat anak kedua saya lahir, Abiy Saad Isdar, dia hanya pasrah saat manajemen rumah sakit hanya bisa memberi diskon 20 persen, kala itu belum ada BPJS. “Itu sudah potongan harga maksimal.”
Sebagai bintara intelijen polisi, dia sangat pandai menyamarkan diri. Namun dalam sebuah pertemuan makan malam di lobi depan Losari Beach Hotel, identitasnya terkuak. Pistol yang disimpan di kaos kakinya terjatuh.
Saat itulah, dia memperkenalkan dirinya sebagai purnawirawan jenderal polisi bintang dua. Dia menceritakan kedekatannya dengan mantan panglima ABRI (1983-1988) Jenderal LB Moerdani.






























































































PALING DIKOMENTARI
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Kabar Gembira, Bustami Hamzah Resmi…
Bukan Sekadar Pelengkap! PTS Kini…
KOMENTAR
Ara lagi salah minum obat. Kami maklum. hahahaha...
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Si opung, siapa yang ngga' kenal dia. Mafioso Indonesia
Penipu yang begini gaya dia. sekalinya menipu akan tetap terus…