Selasa, 18/06/2024 - 18:21 WIB
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi

TERBARU

EKONOMIFINANSIAL

Pakar UI Luruskan Soal Bahaya EG dan BPA dalam Botol Air Kemasan

Pakar UI menyebut bahan baku EG relatif amat sulit alami peluruhan di dalam botol PET

ADVERTISEMENTS
Selamat Hari Raya Idul Adha 1445 H dari Bank Aceh Syariah

 JAKARTA– Ahli Teknologi Polimer dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI), Mochamad Chalid, membantah pernah menyampaikan paparan bisfenol A (BPA) lebih berbahaya dari etilen glikol. Menurutnya, semua zat kimia dalam bentuk monomernya yang ada kemasan minuman itu sama-sama berbahaya. 

ADVERTISEMENTS
Selamat & Sukses atas Dilantiknya Daddi Peryoga sebagai Kepala OJK Provinsi Aceh


“Jadi, saya tidak pernah tidak pernah memberikan pernyataan secara eksplisit maupun implisit, bahkan kesimpulan bahwa paparan BPA itu jauh lebih berbahaya dari etilen glikol,” ujarnya kepada wartawan, Ahad (30/10/2022).

ADVERTISEMENTS
Menuju Haji Mabrur dengan Tabungan Sahara Bank Aceh Syariah


Kata Chalid, dirinya tidak pernah menyatakan perbandingan lepasan BPA dari kemasan berbasis polikarbonat (PC) dan lepasan etilen glikol (EG) dari kemasan berbasis PET. Menurutnya, hal ini sulit diterima, karena keduanya berasal dari material polimer yang jauh berbeda dan sulit dibandingkan secara langsung.

ADVERTISEMENTS
ActionLink Hadir Lebih dekat dengan Anda


Begitu juga tentang batas bahaya BPA yakni 0,6 ppm (bagian per sejuta), sedangkan EG yakni 30 ppm, sehingga BPA 50 kali lebih berbahaya dibandingkan dengan EG atau sedikit saja kandungan BPA sudah berbahaya bagi tubuh, sedangkan EG butuh 50 kali lebih banyak baru dikategorikan bahaya.

ADVERTISEMENTS
Selamat & Sukses kepada Pemerintah Aceh


Chalid menegaskan pihaknya tidak pernah memberikan pernyataan bahkan perbandingan tingkat bahaya BPA dan EG, apalagi menyimpulkan perbandingan tingkat bahaya kemasan AMDK berbasis PC dan PET. 

ADVERTISEMENTS
Selamat Menunaikan Ibadah Haji bagi Para Calon Jamaah Haji Provinsi Aceh
Berita Lainnya:
Paket RoaMAX Haji Telkomsel, Solusi Kebutuhan Komunikasi Jamaah di Tanah Suci


“Terlebih, hal tersebut di luar bidang saya,” tegasnya,

ADVERTISEMENTS
Ucapan Selamat & Sukses atas Pelantikan Pejabat di Pemerintah Aceh


Dia menjelaskan EG digunakan sebagai bahan baku untuk memproduksi PET, oleh industri hulu polimer sebagai produsen bahan baku polimer, yang kemudian diproses oleh industri botol PET, yang tentunya tidak ada lagi karakter EG, sebagai kemasan air minum. Jika digunakan sesuai prosedur pemakaian, botol PET relatif sangat sulit mengalami peluruhan menjadi EG kembali.

ADVERTISEMENTS
ADVERTISEMENTS
Selamat Memperingati Hari Kelahiran Pancasila 1 Juni 2024


Sebelumnya, diberitakan Chalid menyampaikan bahwa sejumlah fakta menunjukkan bahwa kandungan BPA pada kemasan AMDK galon guna ulang memiliki potensi paparan yang lebih tinggi dibandingkan dengan senyawa etilen glikol pada kemasan PET.  Diberitakan, dia mengatakan terkait dengan mekanisme penggunaan ulang kemasan Polikarbonat akan membuat kandungan BPA akan lebih mudah luruh dan bermigrasi dari kemasan ke makanan dan minuman. 

ADVERTISEMENTS
ADVERTISEMENTS
Selamat dan Sukses kepada Pemerintah Aceh atas Capai WTP BPK


Kedua, yakni terkait dengan batas bahaya BPA yakni 0,6 ppm (bagian per sejuta), sedangkan EG yakni 30 ppm, sehingga BPA 50 kali lebih berbahaya dibandingkan dengan EG. Atau, sedikit saja kandungan BPA sudah berbahaya bagi tubuh, sedangkan EG butuh 50 kali lebih banyak baru dikategorikan bahaya.

ADVERTISEMENTS
Top Up Pengcardmu Dimanapun dan Kapanpun mudah dengan Aplikasi Action
Berita Lainnya:
Perjalanan Shopee Membantu UMKM Bertransformasi dan Berdaya Saing di Awal 2024


Dalam beberapa hari ini berita terkait EG menjadi pembicaraan utama dimedia terkait kematian 143 anak-anak akibat gagal ginjal akut yang diduga diakibatkan paparan zat kimia Etilen Glikol. EG juga digunakan sebagai zat aditif kemasan galon PET. 

ADVERTISEMENTS
Bayar Jalan tol dengan Pencard


Dosen dan Peneliti di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB) dan SEAFAST Center, Nugraha E. Suyatma, menambahkan kemasan PET yang juga memiliki resiko karena memiliki kandungan asetaldehid, etilen glikol, antimon dan lain-lain yang juga berbahaya. 


“Saatini IARC (International Agency for Research on Cancer), badan yang di bawah WHO masih mengkategorikan BPA masuk grup 3, belum masuk grup 2A atau 2B. Sedang acetaldehyde, justru masuk ke grup 2B itu sejak lama. Acetaldehyde yang ada dalam kemasan sekali pakai atau PET seperti yang ada pada galon sekali pakai justru sudah dimasukkan ke kelompok yang kemungkinan besar karsinogenik bagi manusia,” ucapnya.


IARC mengklasifikasikan karsinogenik ini dalam empat grup. Kelompok 1, karsinogenik bagi manusia. Kelompok 2A, kemungkinan besar karsinogenik bagi manusia. Kelompok 2B, dicurigai berpotensi karsinogenik bagi manusia. Kelompok 3, tidak termasuk karsinogenik pada manusia. Kelompok 4, kemungkinan besar tidak karsinogenik bagi manusia.

Sumber: Republika

ADVERTISEMENTS
x
ADVERTISEMENTS

Reaksi & Komentar

قَالَ أَلَمْ أَقُلْ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا الكهف [72] Listen
[Al-Khidh r] said, "Did I not say that with me you would never be able to have patience?" Al-Kahf ( The Cave ) [72] Listen

Berita Lainnya

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ditemukan berita/artikel lainnya.
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi