Anies adalah magnet politik baru nasional yang teruji dan terbukti memimpin DKI Jakarta. Hasil survei LSI menyebutkan bahwa 80,9 persen warga Jakarta puas terhadap kinerja Anies lima tahun mengomandani Ibu Kota Negara.
Lepas dari paradoks pencalonan Anies dan efeknya terhadap Nasdem, yang pasti Anies merupakan tokoh yang tak punya party ID dibanding dengan dua calon presiden lainnya.
Ganjar Pranowo, jelas Party ID-nya PDIP, sementara Prabowo Subianto juga terang Gerindra. Anies dan dua nama tersebut merupakan 3 besar yang selalu muncul di berbagai survey calon presiden.
Sebagai calon presiden, Anies punya riwayat pemerintahan dan elektoral yang paling lengkap dibandingkan yang lain. Mengapa?
Pertama, Anies merupakan Gubernur DKI Jakarta Periode 2017-2022 dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Periode 2014-2016. Ia tokoh yang lahir dari rahim pemilu demokratis yang menang Pilgub 2017 dengan suara 3,2 juta lebih atau setara 57,96 persen.
Sebagai Mendikbud, Anies adalah pembantu presiden yang memimpin kementerian terbesar anggaran dan sumberdaya manusianya. Ia dipercaya lantaran kiprahnya sebagai Rektor Universitas Paramadina dan juru bicara Pasangan Calon Presiden Jokowi-Jusuf Kalla pada Pilpres 2014.
Kedua, Ganjar merupakan Gubernur Jawa Tengah Periode 2013-2023 dan anggota DPR RI Periode 2004-2013. Ia tokoh dari rahim pemilu demokratis yang memenangkan 2 kali Pilgub 2013 dengan suara 6,9 juta lebih atau setara 48,82 persen, dan Pilgub 2018 dengan suara 10,3 juta lebih atau setara dengan 58,78 persen.
Selain itu, Ganjar pernah menjadi anggota DPR RI dari Fraksi PDIP pada Pileg 2004 dengan suara 32,482 suara dari Dapil Jateng VII, dan pada Pileg 2009 dengan suara 65.864 dari Dapil yang sama.
Ketiga, Prabowo merupakan Menteri Pertahanan pada Kabinet Jokowi-Ma’ruf Amien Periode 2019-2024. Ia pesaing Presiden Jokowi 2 kali Pilpres. Selama 3 kali pemilu, hasil perolehan suaranya selalu di posisi
runner up.
Prabowo pada Pilpres 2009, berhasil memperoleh suara sebanyak 32,5 juta (26,79 persen) sebagai calon wakil presiden dari Megawati Soekartoputrri. Suaranya berada pada peringkat kedua. Begitu pula pada Pilpres 2014 dengan suara 62,5 juta (46,85 persen), serta pada Pilpres 2019 dengan suara 68,6 juta (44,5 persen).
Uraian di atas mengkonfirmasi bahwa alasan Surya Paloh memilih Anies adalah benar adanya. Ia memang why not the best dari calon presiden yang kuat lainnya. Tinggal, apakah ia bisa mengulang kembali kesuksesan elektoral pada Pilgub DKI Jakarta dan berpengaruh terhadap penambahan perolehan suara NasDem pada pemilu serentak 2024 mendatang? Biarlah sejarah yang menjawabnya.






























































































PALING DIKOMENTARI
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Kabar Gembira, Bustami Hamzah Resmi…
Bukan Sekadar Pelengkap! PTS Kini…
KOMENTAR
Ara lagi salah minum obat. Kami maklum. hahahaha...
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Si opung, siapa yang ngga' kenal dia. Mafioso Indonesia
Penipu yang begini gaya dia. sekalinya menipu akan tetap terus…