Selasa, 23/04/2024 - 10:40 WIB
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi

TERBARU

IN-DEPTH

Mampukah Kejahatan Korporasi Industri Farmasi Dijerat Hukum Pidana?

ADVERTISEMENTS

Pendekatan hukum progressif penting untuk jerat kejahatan korporasi industri farmasi

ADVERTISEMENTS
Ucapan Selamat Memperingati Hari Kartini dari Bank Aceh Syariah

Penulis: Dr. Ari Yusuf Amir, SH, MH**

ADVERTISEMENTS
Ucapan Selamat dan Sukses atas Pelantikan Reza Saputra sebagai Kepala BPKA

Kasus kejahatan industri farmasi di Indonesia, kembali merenggut banyak korban jiwa. Kali ini, beberapa produk obat sirup ditengarai menyebabkan gagal ginjal akut pada anak-anak (acute kidney injury/AKI). Awalnya kasus ini marak terjadi pada Agustus 2022 di Sumatera Barat dan Denpasar yang menyebabkan sejumlah anak meregang nyawa.  Kasus ini kemudian terus mengalami lonjakan. Tercatat hingga 18 november 2022, tercatat 324 anak mengalami gagal ginjal akut, bahkan 199 anak diantaranya meninggal dunia. 

ADVERTISEMENTS
Manyambut Kemenangan Idul Fitri 1445 H dari Bank Aceh Syariah

Kondisi ini semakin miris ditengah minimnya fasilitas kesehatan dan dokter spesialis di beberapa daerah. Sebagaimana dialami Nafisa, balita 2 tahun 7 bulan. Setelah meminum obat kemasan sirup untuk mengatasi batuk pileknya, ia malah sering muntah. Sehari berselang, Nafisa tak lagi kencing. Badannya membengkak. Oleh dokter ia divonis mengalami gangguan pernafasan akibat racun menumpuk di tubuh lantaran tak bisa berkemih. Balita Nafisa kemudian diminta cuci darah setiap hari. Nafisa disarankan untuk perawatan di Pekanbaru atau Jakarta, tapi karena keterbatasan biaya, orang tuanya tak sanggup. 

ADVERTISEMENTS

Begitu juga yang dialami balita 11 bulan, Rizky Nuryanto. Ia mengalami diare dan kakinya kaku setelah meneguk vitamin dan paracetamol sirup dari salah satu rumah sakit. Sebelumnya pada pertengahan September, balita Rizki meminum obat batuk dari pusat kesehatan masyarakat setempat, tapi justru pingsan dan kejang. Ia lalu dirujuk ke salahsatu Rumah Sakit, tubuhnya bengkak karena tak bisa kencing. Setelah mengalami beberapa kali transfusi darah, nyawanya tetap tak bisa diselamatkan, balita itu berpulang untuk selama-lamanya.                  

ADVERTISEMENTS
Mudahkan Hidup Anda!, Bayar PBB Kapan Saja, Di Mana Saja! - Aceh Singkil
Berita Lainnya:
Aiptu FN Polisi yang Nembak Debt Collector Buron, Polda Sumsel: Mobil Avanzanya Nunggak Cicilan 2 Tahun

Tingginya jumlah kasus kematian anak akibat gagal ginjal akut tersebut sangat mengkhawatirkan. Bahkan jumlahnya jauh melebihi kasus serupa di Gambia, negara terbelakang di Benua Afrika. Jumlah korban di Indonesia juga melampaui kasus di negara lain pada kejadian serupa di Uganda (2013), Nigeria (2009), Bangladesh (2009), atau Haiti (1995). Fenomena memilukan ini menandakan, ‘alarm’ system keamanan kesehatan di negeri ini kurang berjalan dengan baik. 

Awalnya kasus gagal ginjal akut pada anak itu diduga akibat post covid 19, namun setelah dilakukan observasi mendalam, diketahui penyebabnya adalah senyawa toksin yang berasal dari kandungan dalam obat sirup yang dikonsumsi anak yaitu: Etilen Glikol dan Dietilen Glikol. Etilen Glikol dan Dietilen Glikol merupakan bahan kimia yang dapat digunakan sebagai pelarut dalam obat sediaan cair. Keduanya merupakan senyawa beracun apabila digunakan dalam jumlah besar melebihi 0,1%, efek samping dari over dosis kedua zat tersebut adalah gagal ginjal akut. 

Industri Farmasi dan Kejahatan Kemanusiaan

Masyarakat sejatinya menaruh kepercayaan mutlak pada industry farmasi. Sebab sebagai awam, masyarakat tidak memahami bahan baku obat, komposisi dan proses pembuatannya. Awam hanya berpikir sembuh dan sehat. Masyarakat mempercayai industri farmasi telah meneliti dan mengembangkan, serta memproduksi obat untuk meningkatkan kesehatan masyarakat. Demi menjaga kesehatan setiap orang cenderung berobat ke dokter dan akan memenuhi saran dan nasehat dokter, termasuk mematuhi untuk membeli obat yang diresepkan. 

Namun kepercayaan masyarakat terhadap industri farmasi itu acapkali dirusak oleh perilaku buruk sebagian perusahaan yang terobsesi hanya mengeruk keuntungan semata. Perilaku nir etik tersebut semakin subur ditengah dominasi paham neoliberalisme yang mengkondisikan korporasi memiliki peran yang sangat besar dalam mempengaruhi kehidupan manusia, terutama dalam aspek kesehatan. Asumsi dasar dari neoliberal adalah meletakkan pasar sebagai pelaku utama ekonomi; liberalisasi pasar dalam model kebebasan pergerakan barang, jasa, investasi dan modal tanpa diperlukan intervensi negara

Liberalisasi pasar dan minimnya peran negara, dapat dimanfaatkan oleh para pemegang saham atau investor untuk menekan korporasi demi memperoleh keuntungan sebesar-besarnya, yang pada akhirnya nilai dan etika disingkirkan. Dalam konteks industri farmasi, ambisi memperoleh keuntungan sebesar-besarnya dari pemegang saham maupun investor, dapat berakibat pada rusaknya sistem kesehatan, bahkan hingga jatuhnya korban jiwa. Kejahatan korporasi itu termasuk dalam kejahatan kerah putih (white collar crime).

x
ADVERTISEMENTS
1 2 3 4

Reaksi & Komentar

Berita Lainnya

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ditemukan berita/artikel lainnya.
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi