Proyek tersebut merupakan proyek kerjasama antara KLHK, UNDP dan GEF yang menitik beratkan pada peningkatan pengelolaan konservasi berbasis lanskap, termasuk kawasan yang berada dil uar kawasan konservasi yang juga memiliki nilai konservasi tinggi dengan memperhatikan aspek pemberdayaan masyarakat lokal dan juga mendorong peningkatan peran dari sektor swasta untuk dapat mendukung pembiayaan konservasi di masa depan.
“Desain proyek ini agak berbeda dengan beberapa proyek kerjasama luar negeri lainnya, proyek CONSERVE adalah proyek yang dilaksanakan langsung di bawah kendali Ditjen KSDAE yaitu dibawah pimpinan Direktur Konservasi Keragaman Hayati dan Sumber Daya Genetik sebagai National Proyek Director, bersama UNDP Indonesia dan didukung oleh pendanaan dari GEF. Komponenan pembiayaan proyek yang bersumber dari GEF bernilai USD 6,272,018 sementara total nilai proyek adalah USD 57,272,544 yang sebagian besar merupakan kontribusi Pemerintah Indonesia sendiri,” ujar Wahdi Azmi, National Project Manager CONSERVE.
Carlos berterimakasih kepada pemerintah Indonesia, mitra pembangunan termasuk UNDP dan semua pihak yang mendukung program konservasi.
“Pemerintah Indonesia lah yang menentukan wilayah di mana proyek ini diimplementasikan dan pemerintah adalah pihak yang berkontribusi paling besar,” ujarnya.
Sebelumnya dijelaskan bahwa wilayah intervensi proyek ini adalah lansekap Ulu Masen di Aceh, lansekap Seblat di Bengkulu dan Pulau Moyo di NTB yang sekarang sudah menjadi Taman Nasional Moyo-Satonda.
Carlos mengatakan, Indonesia negara yang paling besar mendapatkan alokasi dari 150 negara yang di support GEF. Katanya, hal ini patut disyukuri dan kiranya berdampak pada peningkatan populasi spesies kunci Indonesia.
“Ini bukan perjuangan kecil. Ini komitmen langsung direspon oleh GEF dengan memberikan alokasi yang besar untuk Indonesia,” katanya.
Carlos Manuel Rodriguez yang juga merupakan mantan Menteri Lingkungan dan Energi Kosta Rika menyebutkan, pihaknya menekankan 4 hal pada program tersebut. Pertama, memperkuat kapasitas Park Ranger dengan mengedepankan edukasi dan mendampingi masyarakat dengan cara yang baik.
“Kedua, pembangunan infrastruktur yang strategis untuk peningkatan pelayanan dari lembaga pengelola kawasan. Ketiga, manajemen bersama. Program ini tidak hanya dikelola oleh pemerintah tapi juga banyak kerjasama dengan mitra pembangunan termasuk UNDP dan stakeholder lainnya, NGO, akademisi dan lainnya,” kata Carlos.
Dan keempat, visi atau perencanaan kedepan yang panjang untuk pembangunan Sumatera. Baik konservasi maupun restorasi, untuk melihat Sumatera secara keseluruhan.















































































































Paling Banyak Dipilih
Viral Lagu “Tak Diberi Tulang…
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Inilah 5 Produk Jam Tangan…
Apa benar, yang nomor 4 itu adalah produk ROLEX...???
Berusia Setengah Abad sejak 6/8/1973…
Berikut untuk mengingatkan kita kembali tentang Sejarah: "Kita bukan pembuat…
Pembiayaan Digantung Tak Ada Kabar…
Kriet mate bank Aceh nyan menyoe meurusan ngen ureng Aceh.…
Ada Dua Nama Calon Direktur…
Siapapun nanti dirut yg terpilih, saya siap membantu bas menggarap…
Active Threads
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Hana jelas, Leh kiban di meubut di kelola,Meu peu cap…
Paling Dikomentari
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Kabar Gembira, Bustami Hamzah Resmi…
Bukan Sekadar Pelengkap! PTS Kini…
Komentator Paling Aktif
Komentar Paling Aktif
Jeffrey Epstein yahudi nggak jelas dan pelaku pelecehan sensual.
Syukur lah karena seharusnya memang langsung dimakan karena bukan namanya…
Ara lagi salah minum obat. Kami maklum. hahahaha...
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Berita Terpopuler