Selasa, 25/06/2024 - 08:48 WIB
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi

TERBARU

EROPAINTERNASIONAL

Apa Itu Bom Tandan dan Bagaimana Bahayanya?

WASHINGTON — Amerika Serikat (AS) akan memasok bom tandan atau bom kluster untuk Ukraina. Langkah tersebut telah dikritik oleh kelompok hak asasi manusia, karena senjata tersebut dilarang oleh lebih dari 100 negara.

Berikut adalah penjelasan mengenai bom tandan dan mengapa mereka dilarang, dilansir BBC, Jumat (7/7/2023).

Apa itu bom tandan?

Bom tandan adalah metode untuk menyebarkan sejumlah besar bom kecil dari roket, misil, atau peluru artileri yang menyebarkannya di tengah penerbangan di area yang luas. Bom ini dimaksudkan untuk meledak pada benturan. Bom tandan tidak dapat meledak jika mendarat di tanah basah atau lunak. Namun bom tandan ini dapat meledak di kemudian hari saat diambil atau diinjak, sehingga bisa membunuh atau melukai korban.

 

Dari perspektif militer, bom tandan bisa sangat efektif ketika digunakan melawan pasukan darat. Bom tandan yang tertinggal di parit sangat berbahaya, dan perlu dipindahkan atau dibersihkan dengan hati-hati.

Mengapa bom tandan dilarang?

Lebih dari 100 negara, termasuk Inggris, Prancis, dan Jerman, telah menandatangani perjanjian internasional yaitu Konvensi Amunisi Tandan. Konvensi ini melarang penggunaan atau penimbunan bom tandan karena efeknya sangat berbahaya terhadap penduduk sipil.

Berita Lainnya:
PBB: Kebutuhan Kemanusiaan di Afganistan Masih Sangat Tinggi

Anak-anak sangat rentan terkena ledakan bom tandan. Karena bom itu menyerupai mainan kecil yang ditinggalkan di area pemukiman atau lahan pertanian. Anak-anak sering mengambil bom tandan itu karena penasaran. Kelompok hak asasi manusia menggambarkan amunisi tandan sebagai kejahatan perang.

Siapa yang masih menggunakan bom tandan?

Rusia maupun Ukraina telah menggunakan amunisi tandan sejak dimulainya invasi besar-besaran Rusia pada Februari 2022. Tidak ada yang menandatangani perjanjian yang melarang Rusia dan Ukraina menggunakan bom tandan. Amerika Serikat sebelumnya telah mengkritik penggunaan bom tandan oleh Rusia secara ekstensif.

Amunisi tandan Rusia dilaporkan memiliki “tingkat tak berguna” sebesar 40 persen, yang berarti sangat berbahaya di darat. Sedangkan tingkat tak berguna rata-rata diyakini mendekati 20 persen. Pentagon memperkirakan bom tandan mereka memiliki tingkat tak berguna kurang dari 3 persen

Mengapa Ukraina meminta bom tandan?

Pasukan Ukraina kehabisan peluru artileri, karena mereka menggunakannya dengan kecepatan yang sangat tinggi. Barat tidak dapat memasok amunisi dengan cepat untuk menyesuaikan kebutuhan Ukraina. Artileri telah menjadi senjata utama di Ukraina selatan dan timur dengan intensitas serangan tinggi.

Berita Lainnya:
Pesepak Bola Palestina dan Keluarganya Tewas dalam Serangan Udara Israel di Gaza

Karena peluru artileri tidak mencukupi, Ukraina telah meminta AS untuk memasok persediaan amunisi tandan untuk menargetkan infanteri Rusia yang menjaga semua parit pertahanan itu. Ini bukanlah keputusan yang mudah bagi Washington, dan sangat tidak disukai oleh banyak pendukung Demokrat dan hak asasi manusia.  Perdebatan telah berlangsung setidaknya selama enam bulan.

Apa dampak keputusan AS ini?

Efek langsungnya adalah merobohkan sebagian besar landasan moral yang diduduki Washington dalam perang Rusia-Ukraina. Berbagai dugaan kejahatan perang Rusia didokumentasikan dengan baik, tetapi langkah ini kemungkinan akan menimbulkan tuduhan kemunafikan bagi AS.

Amunisi tandan adalah senjata yang mengerikan dan dilarang di sebagian besar dunia karena alasan yang baik. Langkah AS ini pasti akan menimbulkan perselisihan dengan sekutunya. Perpecahan dalam aliansi Barat dapat membuat Presiden Rusia Vladimir Putin tersenyum.

Sumber: Republika


Reaksi & Komentar

وَتِلْكَ الْقُرَىٰ أَهْلَكْنَاهُمْ لَمَّا ظَلَمُوا وَجَعَلْنَا لِمَهْلِكِهِم مَّوْعِدًا الكهف [59] Listen
And those cities - We destroyed them when they wronged, and We made for their destruction an appointed time. Al-Kahf ( The Cave ) [59] Listen

Berita Lainnya

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ditemukan berita/artikel lainnya.
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi