Rabu, 17/04/2024 - 22:52 WIB
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi

TERBARU

ASIAINTERNASIONAL

Putra Aung San Suu Kyi Khawatirkan Kondisi Ibunya

ADVERTISEMENTS

 BANGKOK — Putra bungsu pemimpin Myanmar yang digulingkan Aung Sang Suu Kyi, Kim Aris mengkhawatirkan kesehatan ibunya di penjara. Aris yang biasanya menghindari berbicara dengan media, mengungkapkan keprihatinan tentang krisis politik yang penuh kekerasan di Myanmar.

ADVERTISEMENTS
Ucapan Selamat dan Sukses atas Pelantikan Reza Saputra sebagai Kepala BPKA

“Saya benar-benar ingin melakukan kontak dengannya sehingga saya tahu bahwa dia baik-baik saja, karena saat ini dia tidak memiliki akses ke penasihat hukumnya,” kata Aris dalam wawancara video dengan The Associated Press dari rumahnya di London, Rabu (13/9/2023).

ADVERTISEMENTS
Manyambut Kemenangan Idul Fitri 1445 H dari Bank Aceh Syariah

“Dia tidak punya akses ke dokter pribadinya.  Sejauh yang saya tahu, dia tidak diizinkan menerima pengunjung mana pun.  Dia bahkan tidak diperbolehkan bergaul dengan tahanan lain, yang berarti dia pada dasarnya berada di sel isolasi,” ujar Aris.

ADVERTISEMENTS

Suu Kyi ditangkap pada 2021 ketika tentara merebut kekuasaan dari pemerintahannya yang dipilih secara demokratis.  Sejak saat itu, ia telah diadili dan dihukum dengan puluhan dakwaan pelanggaran. Menurut para pendukungnya, dakwaan itu dibuat untuk menjauhkan Suu Kyi dari politik. Suu Kyi hadapi total hukuman penjara 27 tahun.

Aris mengatakan, dia telah berusaha untuk tidak menjadi pusat perhatian selama beberapa dekade. Aris juga berusaha menghindari aktivisme politik. Dia ingin tetap tenang dan melanjutkan kehidupan bersama keluarganya.

Berita Lainnya:
Ratusan Ribu Pasukan Irak Tunggu Perintah dari Iran, Amerika Gak Mau Ikut-ikutan

“Saya selalu berusaha menghindari berbicara dengan media dan (telah) menghindari media sosial sepanjang hidup saya. Namun situasi di Burma saat ini benar-benar menyedihkan,” kata Aris, mengacu pada nama lama Myanmar. 

ADVERTISEMENTS
Mudahkan Hidup Anda!, Bayar PBB Kapan Saja, Di Mana Saja! - Aceh Singkil

Aris mengatakan, dia sama sekali tidak dibolehkan berkomunikasi dengan Suu Kyi selama lebih dari dua setengah tahun. Oleh karena itu, kini saatnya Aris angkat bicara.

“Jadi sekarang saya melakukan semua yang saya bisa untuk mencoba membantu situasi ini dan membawa kesadaran akan situasi ini ke dunia yang lebih luas,” kata Aris.

Aris semakin aktif di media sosial. Aris mengatakan, dia merencanakan kampanye untuk meningkatkan kesadaran dan pendanaan untuk tujuan kemanusiaan. Aris mengatakan, dia mendengar ibunya sakit parah dengan mengalami masalah gusi, dan tidak bisa makan. 

“Dia menderita pusing dan muntah-muntah dan tidak bisa berjalan,” ujar Aris.

Aris mengetahui kondisi ibunya dari media independen Myanmar dan media sosial. Aris telah mencoba menghubungi pemerintah militer Myanmar, termasuk kedutaan besarnya di London, tetapi  tidak mendapat tanggapan.

Berita Lainnya:
PBB: Perlu Aksi Global Lebih Kuat untuk Atasi Krisis di Myanmar

“Mereka bahkan tidak mau membukakan pintu untuk saya,” ujar Aris.

Ini bukan pertama kalinya Suu Kyi menghadapi hukuman penjara.  Dia menghabiskan hampir 15 tahun dalam tahanan rumah di bawah pemerintahan militer sebelumnya pada 1989, setahun setelah ikut mendirikan partai Liga Nasional untuk Demokrasi.  Namun ketika itu sebagian besar waktunya dihabiskan di rumah keluarganya di Yangon, dan dia tidak sepenuhnya terisolasi.

“Saat itu, dia berada di rumahnya sendiri dan dia dibolehkan berkunjung.  Kadang-kadang, saya diizinkan menghabiskan waktu bersamanya dalam tahanan rumah.  Dan kami diizinkan mengirim paket perawatan dan surat serta berkomunikasi dengannya.  Selama dua setengah tahun terakhir, kami tidak memiliki hak asasi manusia yang mendasar,” kata Aris.

Aris berharap masyarakat di seluruh dunia dapat bersatu dan membantu masyarakat di Myanmar,  sehingga dapat mengakhiri pertumpahan darah. Dia menyoroti dunia internasional yang cenderung hanya fokus pada perang di Ukraina. Sementara masyarakat Myanmar juga membutuhkan bantuan yang mendesak.

“Jika hanya 2 persen dari apa yang telah diberikan kepada pasukan Ukraina diberikan kepada pasukan perlawanan di Burma, situasinya akan sangat berbeda sekarang,” kata Aris.

sumber : AP

Sumber: Republika

x
ADVERTISEMENTS

Reaksi & Komentar

Berita Lainnya

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ditemukan berita/artikel lainnya.
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi