Jarang Tidur Nyenyak Tingkatkan Risiko Demensia

Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto

Ⓒ Hak Cipta Foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada Pemilik Foto

Wanita yang jarang tidur nyenyak (ilustrasi). Jarang tidur nyenyak dikaitkan dengan risiko demensia.

ADVERTISEMENTS

REPUBLIKA.CO.ID. JAKARTA — Tidur yang tidak nyenyak pada malam hari dapat memberikan perasaan kurang segar ketika terbangun pada pagi hari. Dalam jangka panjang, jarang tertidur dengan nyenyak dapat meningkatkan risiko demensia pada hari tua.

ADVERTISEMENTS

“Kita menemukan bahwa proses penuaan berkaitan dengan penurunan frekuensi terjadinya tidur di tahap terdalam, yang dikenal sebagai slow wave sleep (tidur gelombang lambat),” ujar peneliti senior Matthew P Pase, seperti dilansir WebMD pada Rabu (1/11/2023).

ADVERTISEMENTS

Tim peneliti juga menemukan bahwa orang-orang yang jarang tertidur hingga ke tahap slow wave sleep berisiko lebih besar terhadap demensia. Risiko mereka terhadap demensia bisa meningkat secara signifikan dalam waktu 17 tahun setelahnya.

ADVERTISEMENTS

Studi yang dipublikasikan dalam JAMA Neurology ini melibatkan 346 orang partisipan dengan rerata usia 69 tahun. Tidur para partisipan sempat dipantau selama dua malam pada awal 1990-an.

ADVERTISEMENTS

 

ADVERTISEMENTS

Setelah 17 tahun, para partisipan menjalani pemantauan tidur yang sama. Namun kali ini, sebanyak 52 partisipan sudah terdiagnosis dengan demensia.

ADVERTISEMENTS

Hasil studi menunjukkan, penurunan frekuensi tidur nyenyak dalam tahap slow wave sleep berkaitan dengan peningkatan risiko demensia sebanyak 27 persen. Kondisi tersebut juga berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit Alzheimer sebesar 32 persen.

ADVERTISEMENTS

Tim peneliti juga menemukan bahwa kemampuan individu untuk tertidur hingga ke tahap slow wave sleep mengalami penurunan setelah memasuki usia 60 tahun. Penurunan ini mencapai puncaknya saat individu berusia 75-80 tahun. Setelah itu, penurunan terjadi dengan kecepatan yang lebih lamban.

ADVERTISEMENTS

Dokter dari Institute for Neurodegenerative Disease yang tidak terlibat dalam studi, Richard Isaacson MD, turut berkomentar mengenai temuan ini. Menurut Isaacson, studi ini menyoroti bahwa kualitas tidur bisa memengaruhi penurunan fungsi kognitif dan kemunculan demensia.

Berdasarkan temuan ini, Isaacson menganjurkan agar orang-orang tidak hanya terpaku pada durasi tidur pada malam hari. Untuk mengoptimalkan kesehatan, orang-orang juga perlu memerhatikan dan menjaga kualitas tidur pada malam hari sebaik mungkin.

Sumber: Republika

ADVERTISEMENTS
x
ADVERTISEMENTS
Exit mobile version