Selasa, 27/02/2024 - 00:41 WIB
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi

TERBARU

ASIAINTERNASIONAL

Malala Samakan Perlakuan Taliban pada Perempuan dengan Apartheid

ADVERTISEMENT

 JOHANNESBURG — Peraih hadiah Nobel Perdamaian, Malala Yousafzai, menyamakan pembatasan yang diberlakukan Taliban terhadap perempuan dengan sistem apartheid di Afrika Selatan (Afsel). Hal ini ia sampaikan dalam pidato yang digelar yayasan Nelson Mandela.

ADVERTISEMENTS
Isra' Mi'raj

Pada usia 15 tahun Malala selamat dari penembakan yang dilakukan Taliban di Pakistan. Setelah ia menggelar kampanye yang menolak gerakan Taliban melarang pendidikan untuk anak perempuan.

ADVERTISEMENT
Hari Pers Nasional

Sejak memenangkan hadiah Nobel pada 2014 lalu, Malala yang kini 26 tahun menjadi simbol perjuangan perempuan melawan penindasan di seluruh dunia.

ADVERTISEMENT

“Bila Anda seorang anak perempuan di Afghanistan, Taliban akan memutuskan masa depan Anda, Anda tidak bisa melanjutkan pendidikan menengah atas atau universitas, Anda tidak bisa menemukan perpustakaan di mana Anda bisa membaca, Anda melihat ibu dan kakak perempuan anda dibatasi dan dikurung,” katanya di Pidato Tahunan Nelson Mandela ke-21 di Johannesburg, Rabu (6/12/2023).

ADVERTISEMENT
KUR Syariah Bank Aceh
Berita Lainnya:
Presiden Korsel Peringatan Ancaman Korut Jelang Pemilu

Malala mengatakan tindakan Taliban harus dianggap “apartheid gender” dan pada dasarnya membuat “masa remaja perempuan menjadi ilegal”. Ia mengatakan, aktor-aktor intenasional tidak boleh menormalisasi hubungan dengan Taliban yang merebut kekuasaan di Afghanistan pada 2021 lalu usai Amerika Serikat (AS) menarik pasukannya dari sana setelah 21 tahun.

ADVERTISEMENT
Bayar Tol dengan Pengcard

Juru bicara Taliban belum menanggapi permintaan komenter mengenai pernyataan Malala. Sejak berkuasa Taliban melarang perempuan bekerja di lembaga kemanusiaan, menutup salon perempuan, melarang perempuan mengunjungi taman dan mewajibkan perempuan ditemani muhrimnya saat keluar rumah.

ADVERTISEMENTS
Mari Berbagi dengan Action

Taliban mengatakan mereka menghormati hak-hak perempuan sesuai dengan interpretasi mereka tentang hukum Islam dan adat Afghanistan. Pemerintah Taliban juga mengaku berencana membuka kembali sekolah menengah atas untuk perempuan, tapi setelah 18 bulan mereka belum juga mengungkapkan kerangka waktunya.

Berita Lainnya:
China Akan Terus Berupaya Bantu Palestina

Dalam wawancara usai pidato, Malala mengatakan ia khawatir Taliban akan menjauhkan ilmu pengetahuan dan cara berpikir kritis bahkan terhadap anak laki-laki.

“Jadi sangat penting bagi masyarakat internasional tidak hanya untuk meningkatkan perlindungan pada akses anak perempuan pada pendidikan tapi juga memastikan pendidikan yang berkualitas, bukan indoktrinasi,” katanya.

Mengenai perang di Gaza, ia mengatakan ia ingin melihat gencatan senjata segera dilakukan agar anak-anak dapat kembali ke bersekolah dan menjalani kehidupan normal mereka.

“Kami melihat perang, terutama pengeboman yang terjadi di Gaza, yang baru saja merenggut kehidupan normal dari anak-anak,” katanya. 

 

Sumber: Republika

x
ADVERTISEMENT

Reaksi & Komentar

ADVERTISEMENT

Berita Lainnya

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ditemukan berita/artikel lainnya.
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi