Selasa, 27/02/2024 - 20:03 WIB
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi

TERBARU

EDUKASI
EDUKASI

Kisah Anak Papua Lulus S1 Kedokteran UGM, Ingin Mengabdi di Kampung Halaman

ADVERTISEMENT

BANDA ACEH –  Rivaldy Bram Waromi, merupakan wisudawan asal daerah 3T (terdepan, terpencil, terluar) yang berhasil lulus dari Program Studi Pendidikan Dokter dan menempuh pendidikan di FKKMK UGM. Di UGM, dia kuliah dengan beasiswa afirmasi pendidikan tinggi (Adik) dari Nabire, Papua Tengah.

ADVERTISEMENTS
Isra' Mi'raj

Rivaldy diwisuda pada November lalu. Dari 2.163 lulusan sarrjana dan sarjana terapan yang diwisuda, terdapat 72 lulusan berasal dari daerah 3T, salah satunya Rivaldy.

ADVERTISEMENT
Hari Pers Nasional

Menjelang upacara wisuda, Rivaldy mengaku begadang semalaman. ”Ini peristiwa yang saya tunggu, terkadang masih belum percaya dengan capaian ini. Jauh saya dari Nabire, Papua akhirnya lulus, puji syukur,” ucapnya dilansir dari situs UGM pada Kamis, 7 Desember 2023.

ADVERTISEMENT

Kini, Rivaldy telah menyandang gelar sarjana kedokteran. Berasal dari Nabire, Papua, Rivaldy sadar soal pelayanan kesehatan di daerahnya masih minim. Hal itu yang membuatnya penasaran dan berkeinginan mempelajari ilmu kedokteran. 

ADVERTISEMENT
KUR Syariah Bank Aceh

”Saya mencoba banyak belajar, mencoba terus menjadi pribadi yang lebih mendengarkan keluhan, lebih menghargai pendapat dan keputusan orang lain, bekerja bersama, dan itu saya kira menjadi modal utama saya bisa memberikan pelayanan yang terbaik,” ungkapnya.

ADVERTISEMENT
Bayar Tol dengan Pengcard

Di awal-awal masa kuliah di FKKMK UGM, ia mengaku mengalami kesulitan. Bahkan, saking tidak mudahnya mempelajari ilmu kedokteran, nilainya tidak pernah stabil cenderung menurun.

ADVERTISEMENTS
Mari Berbagi dengan Action
Berita Lainnya:
Innovillage 2024 Diikuti Ribuan Peserta dari 146 Kampus Se-Indonesia

”Saya harus rutin berkonsultasi dengan psikiater untuk menumbuhkan kembali motivasi belajar. Belajar di kedokteran sangat sulit, apalagi yang tidak minat 100 persen tentunya mengalami kesulitan juga dalam beradaptasi. Sistem belajar di kedokteran berputar dan bergerak maju sangat cepat,” terangnya.

Kemampuan dalam berteman dan mencari koneksi, menurut Rivaldy, menjadi salah satu kunci. Menurutnya, itu perlu dilakukan agar tetap mampu bertahan kuliah dan menunjang proses-proses belajar berikutnya. ”Niat dan ketekunan menjadi hal terpenting yang harus dipupuk dan lakukan,” ungkapnya.

Meski lulus dalam rentang waktu 10 semester, ia tetap bangga dan mendedikasikannya bagi warga Nabire. Baginya, setiap orang memiliki cara belajar yang berbeda-beda.

Sempat Diremehkan

Sempat berminat melanjutkan belajar seni setelah lulus SMA, Rivaldy diremehkan dan tidak dipercaya bisa masuk Fakultas Kedokteran UGM oleh teman-temannya. Memang diakuinya, ia sempat merasakan keragu-raguan itu, namun kedua orang tua terus mendorongnya untuk mencoba.

”Saya ditentang untuk pilih seni, orang tua mendorong untuk kedokteran. Saya tes dan saat pengumuman ternyata saya lulus pada pilihan pertama. Saya pun kuliah di Program Studi Kedokteran sampai sekarang, dan kini saya menjalani koas,” tuturnya.

Bukan saat kuliah di FKKMK UGM saja Rivaldy mendapatkan beasiswa afirmasi, ketika duduk di SMA ia juga mendapatkan beasiswa jalur Afirmasi Pendidikan Menengah (Adem). Setelah lulus SMA, ia pun mendapatkan kesempatan yang sama mengikuti tes dari program Adik (beasiswa afirmasi pendidikan tinggi) untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.

Berita Lainnya:
ITS: Kalau Ada Pinjol Datang Ajak Kerja Sama, Kami Tolak

Rivaldy mengaku tidak mudah bisa lolos seleksi beasiswa jalur afirmasi karena harus bersaing dengan teman-teman dari berbagai daerah di Indonesia. Peminat beasiswa inipun dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan.

”Menyicil nilai rata-rata yang baik sejak semester satu duduk di bangku SMA adalah jalan ninjanya agar bisa lolos beasiswa Adik. Termasuk  tekun dengan mengikuti kursus pada mata pelajaran yang kurang dikuasainya. Berlatih menjawab soal untuk menambah variasi penyelesaian masalah dan juga belajar mandiri mencari referensi belajar penyelesaian soal dari kanal Youtube,” imbuhnya.

Ingin kembali ke kampung halaman

Kini Rivaldy menjalani pendidikan co-asst sebelum menyandang profesi dokter. Ia berencana kembali ke Nabire setelah lulus menjadi dokter. Ia berangan-angan bisa mendalami Ilmu Obstetri dan Ginekologi, dan bercita-cita menjadi dokter spesialis bedah dan kandungan.

”Di luar kegiatan co-asst ingin sih menambah pengetahuan dengan mengambil studi magister dalam bidang bisnis dan manajemen,” papar wisudawan dengan indeks prestasi 3,3 ini.

x
ADVERTISEMENT
1 2

Reaksi & Komentar

Berita Lainnya

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ditemukan berita/artikel lainnya.
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi