Selasa, 27/02/2024 - 00:46 WIB
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi

TERBARU

LIFESTYLE

Ini Pertanda Orang Sudah Kebanyakan Makan Gorengan

ADVERTISEMENT

Aneka gorengan. Terlalu banyak mengonsumsi gorengan dapat membuat berat badan naik.

ADVERTISEMENTS
Isra' Mi'raj

JAKARTA — Apa tanda seseorang sudah kebanyakan makan gorengan? Dokter spesialis gizi klinis Yohan Samudra mengungkapkan orang dengan berat badan yang mulai bertambah mungkin bisa mencurigai penyebabnya ialah terlalu banyak konsumsi hidangan yang digoreng alias gorengan.

ADVERTISEMENT
Hari Pers Nasional

“Pastinya kalau mulai ada penambahan berat badan, maka mungkin gorengannya kebanyakan karena ada karbohidrat juga di gorengan dan ada minyak,” kata Yohan di Jakarta, Kamis (8/12/2023).

ADVERTISEMENT
Berita Lainnya:
Anak Jadi Pelaku Perundungan, Orang Tua Harus Bagaimana?

Yohan yang lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang, itu mengatakan kalori dalam minyak lebih tinggi hampir dua kali lipat dibandingkan karbohidrat dan protein. Satu gram karbohidrat dan protein total kalorinya empat, maka pada minyak total kalorinya sekitar sembilan kalori.

ADVERTISEMENT
KUR Syariah Bank Aceh

Tak hanya berat badan bertambah, terlalu banyak konsumsi makanan yang digoreng atau mengandung minyak dan lemak juga dapat memunculkan masalah metabolik seperti kolestrol, diabetes, dan hipertensi.

ADVERTISEMENT
Bayar Tol dengan Pengcard

Hanya saja, khusus untuk kolesterol jahat atau Low Density Lipoprotein (LDL) yang dapat meningkatkan risiko penyakit seperti penyakit jantung, tak ada gejala khusus saat kadarnya meningkat. Oleh karena itu, pemeriksaan laboratorium menjadi langkah yang disarankan untuk mengetahui kadar kolesterol dalam tubuh.

ADVERTISEMENTS
Mari Berbagi dengan Action
Berita Lainnya:
Gen Z Sering Bicarakan Masalah Keuangan di Tiktok, Hati-Hati Jadi Korban Produk Influencer

“Enggak ada gejala yang khas untuk kolesterol tinggi. Kalau misalnya LDL tinggi, maka sudah pasti, lemak atau minyak yang jelek yang kebanyakan. HDL atau High Density Lipoprotein banyak maka lemak yang kita konsumsi cukup baik kondisinya atau pilihannya (lemak tak jenuh),” jelas Yohan.

sumber : Antara

Sumber: Republika

x
ADVERTISEMENT

Reaksi & Komentar

Berita Lainnya

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ditemukan berita/artikel lainnya.
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi