Minggu, 21/04/2024 - 02:05 WIB
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi

TERBARU

EDUKASI
EDUKASI

Ketua BEM ITS: Kampus Kerja Sama dengan Pinjol Kurang Etis

ADVERTISEMENTS

Pinjaman online (ilustrasi). Ketua BEM ITS mengatakan kampus kerja sama dengan pinjol kurang etis.

ADVERTISEMENTS
Ucapan Selamat dan Sukses atas Pelantikan Reza Saputra sebagai Kepala BPKA

 SURABAYA — Ketua BEM Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Muhammad Dimas Fikri Alvian menanggapi skema pembayaran uang kukiah tunggal (UKT) lewat pinjaman online (pinjol) yang diterapkan sejumlah kampus, termasuk ITB. Dimas mengatakan, kampus-kampus yang masuk PTN BH memang kewalahan dalam mengelola keuangan sendiri, sehingga berdampak pada kenaikan UKT yang tinggi.

ADVERTISEMENTS
Manyambut Kemenangan Idul Fitri 1445 H dari Bank Aceh Syariah

“Nah dampaknya adalah adanya sistem pinjaman uang. Akan tetapi yang jadi masalah adalah kerja sama dengan pinjol yang menurut saya kurang etis. Seharusnya pemerintah bisa lebih berperan penting dalam menyelesaikan masalah UKT yang tinggi itu,” kata Dimas kepada Republika, Kamis (1/2/2024).

ADVERTISEMENTS
Berita Lainnya:
KPPU Endus Dugaan Monopoli Pinjol UKT, Skema Kredit Mahasiswa 0 Persen Dinilai Diperlukan

Dimas menegaskan, skema kerja sama dengan pinjol untuk pembayaran UKT bukan sistem yang dapat menyelesaikan masalah mahasiswa. Sistem tersebut menurtnya justru memperburuk keadaan. Karena dapat memperparah ekonomi mahasiswa.

“Sistem pinjaman tersebut merupakan sistem yang tidak menyelesaikan masalah yang ada di mahasiswa, bahkan memperparah keadaan perekonomian mahasiswa,” ujarnya.

Berita Lainnya:
Hafiz Quran Bisa Kuliah dengan Beasiswa di Cyber University, Lihat Syaratnya di Sini

 

ADVERTISEMENTS
Mudahkan Hidup Anda!, Bayar PBB Kapan Saja, Di Mana Saja! - Aceh Singkil

Belum lagi, kata Dimas, yang kondisi keluarganya terjerat hutang yang banyak. Menurt Dimas, situasi tersebut dapat memperburuk kondisi mahasiswa yang seharusnya terjamin untuk bisa menjalani pendidikannya hingga selesai.

“Permasalahan seperti ini harus dikawal karena dampak jangka panjangnya terhadap regenerasi indonesia ini. Semakin sedikitnya orang yang berpendidikan karena putus dalam keberlanjutan pendidikannya, semakin sedikit juga orang yang bisa memperbaiki tanah air tercinta ini,” ucapnya.

Sumber: Republika

x
ADVERTISEMENTS

Reaksi & Komentar

Berita Lainnya

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ditemukan berita/artikel lainnya.
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi