Selasa, 21/05/2024 - 21:31 WIB
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi

TERBARU

INTERNASIONALTIMUR TENGAH

Shah Mohammed Reza Pahlavi dan Masa Ketika Iran Disetir Barat

JAKARTA — Mohammed Reza Pahlavi, namanya. Lahir di Teheran pada 26 Oktober 1919. Dia adalah Shah Iran sekaligus Shah terakhir dari dinasti Iran. Meninggalkan negaranya tanpa pulang kembali pada 16 Januari 1979, setelah yakin bahwa peluangnya untuk tetap berkuasa sangat kecil.

ADVERTISEMENTS
QRISnya satu Menangnya Banyak

Saat itu terjadi demonstrasi dan protes rakyat yang besar-besaran di Iran. Berbagai penjuru di negara tersebut menentang pemerintahannya. Kejatuhan Shah Mohammed Reza Pahlavi tak lepas dari kesetiaannya kepada Barat selama era Perang Dingin.

ADVERTISEMENTS
Bayar PDAM menggunakan Aplikasi Action Bank Aceh Syariah - Aceh Selatan

Mohammed Reza Pahlavi menghadapi ancaman gerakan nasional kiri Iran bersama dengan kalangan pemuka Syiah, yang dipimpin oleh Ayatollah Khomeini. Mohammed Reza Pahlavi adalah putra sulung Reza Shah Pahlavi, seorang perwira militer yang menjadi penguasa Iran dan mendirikan dinasti Pahlavi pada tahun 1925. Muhammad Reza menempuh pendidikan di Swiss dan kembali ke Iran pada tahun 1935.

Inggris dan bekas Uni Soviet menduduki Iran pada tahun 1941 dan memaksa Shah Pahlavi keluar dari Iran dan mengasingkannya ke Afrika Selatan. Inggris dan negara bekas Uni Soviet khawatir terhadap kerja sama Shah Pahlavi dan Nazi Jerman, serta takut Iran memasok minyak ke Jerman selama perang. Kemudian pada 16 September 1941, tahta Shah Iran diserahkan kepada Mohammed Reza Pahlavi.

Pada awal tahun 1950-an, terjadi konflik politik antara Shah dan tokoh nasional, Muhammad Mosaddegh. Pada bulan Maret 1951, Mosaddeq berhasil meloloskan rancangan undang-undang di Parlemen untuk menasionalisasi kekayaan minyak besar yang dikuasai Inggris. Kekuasaan Mossadegh berkembang pesat, dan pada akhir April, Mohammed Reza terpaksa mengangkat Mossadegh sebagai perdana menteri. Terjadi periode ketegangan dan konflik yang berlangsung selama dua tahun.

ADVERTISEMENTS
PDAM Tirta Bengi Bener Meriah Aplikasi Action Bank Aceh
Berita Lainnya:
Afsel Minta Mahkamah Internasional Perintahkan Israel Hentikan Serangan ke Rafah

Pada Agustus 1953, Shah Mohammed Reza berusaha memecat Mossadegh, tetapi ia terpaksa meninggalkan negara itu di bawah tekanan para pendukung Mossadeq. Namun setelah beberapa hari, para pendukung Shah, dengan dukungan rahasia dari Amerika Serikat dan Inggris, mampu mengembalikan Mohammed Reza ke tampuk kekuasaan.

ADVERTISEMENTS
Top Up Pengcardmu Dimanapun dan Kapanpun mudah dengan Aplikasi Action

Meskipun minyak tetap dinasionalisasi di Iran, pada tahun 1954 Shah menandatangani perjanjian untuk membagi pendapatan minyak dengan perusahaan minyak Inggris dan Amerika yang mengelola produksinya.

Dengan bantuan Amerika Serikat, Shah Mohammed Reza memulai program pembangunan nasional berskala besar, yang disebutnya “Revolusi Putih”. Program tersebut mencakup pembangunan jaringan jalan darat dan kereta api, bandara, dan berbagai proyek bendungan dan irigasi. Malaria diberantas. Pembangunan industri pun didorong.

ADVERTISEMENTS
ADVERTISEMENTS

Saat itu juga ada tim pemberantasan literasi dan lainnya yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada warga pedesaan di daerah terpencil. Selama tahun 1960-an dan 1970-an, Shah Mohammed Reza berusaha menerapkan kebijakan luar negeri yang lebih independen dari Barat dan menjalin hubungan kerja dengan Uni Soviet dan negara-negara Eropa Timur.

Revolusi Putih memperkuat popularitas Shah di dalam negeri. Namun ditentang oleh kalangan yang menganggap reformasi yang ia lakukan tidak cukup. Bahkan kebijakan Shah Mohammed Reza juga ditentang para ulama yang melihat bahwa reformasi tersebut membuat negara mengikuti jejak Barat dan tidak sesuai dengan Islam.

Pemerintahan Shah Mohammed Reza juga menghadapi tentangan yang kuat karena sifat pemerintahannya yang otoriter, korup, distribusi kekayaan minyak yang tidak merata, penerapan nilai-nilai modernis, dan penindasan terhadap SAVAK (polisi rahasia). Dampak negatif dari pemerintahan Shah menjadi jelas setelah Iran mulai memperoleh pendapatan lebih besar dari ekspor minyaknya pada awal tahun 1973.

Berita Lainnya:
PBB Kembali Gelar Pemungutan Suara Resolusi Keanggotaan Penuh Palestina

Ketidakpuasan yang meluas di kalangan masyarakat miskin, pemuka Syiah, pedagang pasar, dan pelajar pada tahun 1978 menyebabkan semakin populernya Ayatollah Khomeini. Khomeini, sebelumnya, berada di tempat pengasingannya di Paris, Prancis.

Karena begitu besar gelombang penolakan terhadap pemerintahan Shah Mohammed Reza, terjadilah kerusuhan demi kerusuhan di kota-kota besar Iran, hingga menyebabkan penggulingan. Lalu pada 16 Januari 1979, Shah Mohammed Reza meninggalkan Iran. Khomeini lalu mengambil alih. Meski Shah Mohammed Reza tidak secara resmi turun tahta, referendum yang terjadi kemudian membuka jalan bagi berdirinya Republik Islam Iran pada tanggal 1 April 1979.

Shah Mohammed melakukan perjalanan ke Mesir, Maroko, Bahama, dan Meksiko sebelum memasuki Amerika Serikat pada 22 Oktober 1979. Di sana dia menerima perawatan medis karena limfoma. Dua pekan kemudian, pengunjuk rasa menggeruduk Kedutaan Besar Amerika di Teheran dan menyandera lebih dari 50 orang Amerika.

Mereka menuntut ekstradisi Shah Mohammed Reza sebagai imbalan atas pembebasannya. Amerika Serikat menolak permintaan tersebut, namun Shah kemudian berangkat ke Panama dan kemudian ke Kairo, di mana ia diberikan suaka oleh Presiden Mesir Anwar Sadat. Shah meninggal di Mesir pada 27 Juni 1980, pada usia 60 tahun. Sebuah pemakaman militer diadakan untuknya, yang dihadiri oleh Sadat. Dimakamkan di Masjid Al-Rifai di Kairo.

Sumber:

https://www.bbc.com/arabic/middleeast-46894502

sumber : BBC

ADVERTISEMENTS
x
ADVERTISEMENTS
1 2

Reaksi & Komentar

Berita Lainnya

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ditemukan berita/artikel lainnya.
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi