Minggu, 26/05/2024 - 21:07 WIB
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi

TERBARU

NASIONAL
NASIONAL

Hakim Konstitusi dan Neraka Jahanam

OLEH: DR. SYAHGANDA NAINGGOLAN

ADVERTISEMENTS
QRISnya satu Menangnya Banyak

   

ADVERTISEMENTS
Bayar PDAM menggunakan Aplikasi Action Bank Aceh Syariah - Aceh Selatan

DARI semua tokoh yang berpidato di aksi ribuan massa kemarin di depan MK (Mahkamah Konstitusi), menarik untuk mengamati pidato Profesor Rochmat Wahab (lihat: Edy Channel Youtube).

Bukan berarti pidato tokoh-tokoh lainnya seperti Jumhur Hidayat, Prof Eggi Sudjana, Prof Din Syamsuddin, Jenderal (Purn) Fachrul Rozi, Mayor Jenderal (Purn) Soenarko, kiai besar FPI Sobri Lubis, dan lainnya kurang hebat, namun secara relatif saya harus mencatat pentingnya pidato Prof Rochmat ini.

Ada 3 alasan untuk melihat lebih jauh pidato Prof Rochmat tersebut. Pertama, Prof Rochmat menjelaskan keterkaitan hakim konstitusi dengan neraka. Tentu saja ini urgent diangkat dalam isu keputusan hakim dalam beberapa hari ke depan.

ADVERTISEMENTS
PDAM Tirta Bengi Bener Meriah Aplikasi Action Bank Aceh

UU Kehakiman, merujuk pada UUD 1945, menyebutkan bahwa keputusan hakim dimulai dengan “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”. Tuhan Yang Maha Esa, dalam terminologi Islam adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sehingga, makna berdasarkan Ketuhanan YME tersebut menghubungkan hakim dengan penciptaan-Nya serta ajaran-Nya yang harus diikuti.

ADVERTISEMENTS
Top Up Pengcardmu Dimanapun dan Kapanpun mudah dengan Aplikasi Action

Dalam pidatonya Prof Rochmat menyebutkan dua tugas manusia di muka bumi, yakni sebagai hamba dan sebagai pengemban amanah menjaga bumi (Khalifatullah fil Ardh). Hakim harus menjaga keseimbangan bumi, jangan merusak bumi ini. Ini merupakan introspeksi bagi semua anak bangsa, khususnya umat Islam, yang baru selesai melakukan refleksi diri pada bulan Ramadan.

Berita Lainnya:
Gus Yusuf Nilai Sudaryono Sosok Muda dan Inovatif

Sebagai catatan tambahan, mengaitkan keilahian juga sebelum ini telah dilakukan Megawati Soekarnoputri dalam tulisannya di Kompas, dengan mengutip istilah keagamaan “qonaah”, terkait dirinya sebagai sahabat pengadilan MK (amicus curiae).

ADVERTISEMENTS

Menurut Prof Rochmat, dalam Islam ada 3 golongan hakim. Dua golongan pasti masuk neraka. Hanya satu golongan masuk surga.

ADVERTISEMENTS

Golongan yang masuk surga adalah hakim yang mempunyai ilmu atau berkapasitas atau profesional dan sekaligus memutuskan berdasarkan kebenaran. Sedangkan hakim lainnya, yang masuk neraka, adalah hakim berilmu atau profesional tapi culas alias curang.

Hal ini menurutnya terjadi karena banyak hal, di antaranya disogok maupun ditekan. Golongan lainnya hakim bodoh, yang akhirnya membuat keputusan salah.

Alasan kedua, Prof Rochmat sebenarnya seorang kiai besar. Merujuk Wikipedia, istrinya adalah cucu Kiai Wahab Chasbullah, pendiri ormas terbesar Nahdlatul Ulama (NU). Dia sendiri pernah menjadi Ketua NU Yogyakarta dan malang-melintang di organisasi kemahasiswaan NU sejak mahasiswa.

Kehadiran Prof Rochmat dalam demonstrasi kemarin tentu melengkapi klaim pluralitas Islam di Indonesia. Jika Prof Eggi dan Kiai Sobri Lubis saja, misalnya, orang-orang menganggap mereka hanya sebagai representasi kaum militan. Padahal dalam teori totalitas militanisme sebuah gerakan, keikutsertaan tokoh-tokoh “non-militan” merupakan faktor kunci sebagai ukuran dalamnya kemarahan rakyat.

Berita Lainnya:
Viral Video Dugaan Penghentian Kegiatan Ibadah di Cerme Gresik, Polisi Turun Tangan

Ditambah lagi dua orang tokoh cawapres yang merasa teraniaya dalam isu kecurangan adalah tokoh utama NU, yakni Muhaimin Iskandar dan Mahfud MD. Sudah seharusnya ada tokoh NU dalam sebuah demonstrasi akbar.

Prof Rochmat sepanjang sejarahnya selama ini dikenal sebagai tokoh yang lembut, yang berpikir penuh kalkulasi. Sehingga keputusan atau keterlibatan dia dalam sebuah demonstrasi besar menunjukkan tingkat tragis yang dialami bangsa ini.

Pada pidatonya kemarin, selain urusan neraka yang dikaitkan dengan keberadaan hakim konstitusi, Prof Rochmat mengaitkan jihad fisabilillah pada keterlibatan aksi di depan MK kemarin.

Kosa kata jihad biasanya keluar dari mulut ustaz kelompok militan garis keras. Namun, kemarin itu keluar dari mulut Prof Rochmat sendiri, yang dikaitkannya dengan kelengkapan pilar Islam. Hal ini menunjukkan adanya anomali besar dalam perjalanan bangsa kita. Suatu kecemasan yang merasuk jiwa Prof Rochmat tersebut.

Alasan ketiga, pentingnya pidato Prof Rochmat adalah bangsa ini di persimpangan jalan. Sebagai tokoh pendidikan, yakni anggota Majelis Wali Amanah UPI Bandung dan profesor di UNY, analisis Prof Rochmat pastinya bertumpu pada kualitas sumber daya manusia (human capital).

ADVERTISEMENTS
x
ADVERTISEMENTS
1 2

Reaksi & Komentar

Berita Lainnya

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ditemukan berita/artikel lainnya.
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi