UPDATE

NASIONAL

Hakim Konstitusi dan Neraka Jahanam

Ditambah lagi dua orang tokoh cawapres yang merasa teraniaya dalam isu kecurangan adalah tokoh utama NU, yakni Muhaimin Iskandar dan Mahfud MD. Sudah seharusnya ada tokoh NU dalam sebuah demonstrasi akbar.

Prof Rochmat sepanjang sejarahnya selama ini dikenal sebagai tokoh yang lembut, yang berpikir penuh kalkulasi. Sehingga keputusan atau keterlibatan dia dalam sebuah demonstrasi besar menunjukkan tingkat tragis yang dialami bangsa ini.

Pada pidatonya kemarin, selain urusan neraka yang dikaitkan dengan keberadaan hakim konstitusi, Prof Rochmat mengaitkan jihad fisabilillah pada keterlibatan aksi di depan MK kemarin.

Kosa kata jihad biasanya keluar dari mulut ustaz kelompok militan garis keras. Namun, kemarin itu keluar dari mulut Prof Rochmat sendiri, yang dikaitkannya dengan kelengkapan pilar Islam. Hal ini menunjukkan adanya anomali besar dalam perjalanan bangsa kita. Suatu kecemasan yang merasuk jiwa Prof Rochmat tersebut.

Alasan ketiga, pentingnya pidato Prof Rochmat adalah bangsa ini di persimpangan jalan. Sebagai tokoh pendidikan, yakni anggota Majelis Wali Amanah UPI Bandung dan profesor di UNY, analisis Prof Rochmat pastinya bertumpu pada kualitas sumber daya manusia (human capital).

Selain itu, seorang pendidik, biasanya berpikir analisis “long term”. Prof Rochmat mengatakan bahwa saat ini Indonesia akan menjadi bangsa progresif atau sebaliknya mundur.

Statement seperti ini adalah sebuah assessment berbahaya. Sebab, semua kita tahu hampir 79 tahun kita merdeka, kita terjebak pada bangsa ber-IQ rendah, atau rata-rata 78,49 (lihat World Population Review 2024), di bawah Myanmar, Kamboja, dan Vietnam, serta terjebak/dijebak dalam “pengemis bansos”.

Dengan demikian, kebangkitan bangsa ini diperlukan sekarang, hanya saatnya sekarang, yakni melalui spirit perubahan. Sebuah langkah membelokkan arah bangsa ke depan.

Menurut Prof Rochmat, harus lebih banyak hakim MK yang mengambil keputusan benar. Jika secara teori hakim masuk neraka dua kali lipat dibandingkan masuk surga, dengan dorongan kaum idealis, seharusnya yang masuk surga lebih banyak dua kali lipat. Dengan demikian bangsa ini akan selamat nantinya.

Prof Rochmat Wahab, tokoh pendidikan, telah merujuk pendapat Rasulullah SAW, bahwa secara teoritis 2/3 hakim masuk neraka. Hal ini berdasarkan penggolongan hakim dalam Islam, yakni sepertiga masuk surga adalah yang berpengetahuan atau profesional dan memutuskan dengan kebenaran. Sedangkan lainnya, pintar tapi culas  serta hakim bodoh.

Aksi demonstrasi Jumat Akbar di depan MK kemarin merupakan panggilan jihad fisabilillah sebagai tanggung jawab keimanan manusia menjaga bumi dari kerusakan. Khalifatullah fil ard.

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2 3
Story Terbaru
MEMUAT STORY...

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.