Selasa, 28/05/2024 - 11:20 WIB
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi

TERBARU

ISLAM

Empat Hal yang Bikin Anda Kembali Bangun Sahur untuk Puasa Syawal

JAKARTA — Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Ayyub al-Anshari, Nabi SAW bersabda, “Siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan lalu diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka seolah-olah dia telah berpuasa setahun penuh.” (HR Muslim).

ADVERTISEMENTS
Selamat & Sukses kepada Pemerintah Aceh

Bulan Syawal dikhususkan untuk menjalankan puasa tambahan, karena bulan ini berada di waktu setelah Ramadhan. Puasa sunnah enam hari ini memiliki keutamaan yang besar dalam Islam.

ADVERTISEMENTS
Ucapan Selamat & Sukses atas Pelantikan Pejabat di Pemerintah Aceh

Diriwayatkan dari Thauban bahwa Nabi SAW bersabda, “Puasa Ramadhan ibarat menjalankan puasa sepuluh bulan. Puasa enam hari di bulan Syawal ibarat menjalankan puasa dua bulan. Penggabungan ini ibarat puasa sepanjang tahun. (HR Ibnu Khuzaimah dan An Nasa’i).

ADVERTISEMENTS
QRISnya satu Menangnya Banyak

Imam An Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menyebutkan, para ulama menjelaskan bahwa puasa tersebut yakni Ramadhan yang kemudian disertai puasa Syawal, ibarat menjalankan puasa setahun, karena pahalanya berlipat sepuluh kali lipat. Oleh karena itu puasa bulan Ramadhan ibarat puasa 10 bulan, dan puasa enam hari di bulan Syawal ibarat puasa dua bulan.

ADVERTISEMENTS
Bayar PDAM menggunakan Aplikasi Action Bank Aceh Syariah - Aceh Selatan

Apa saja keutamaan puasa enam hari di bulan Syawal? Berikut penjelasannya.

1. Pahala besar

ADVERTISEMENTS
Top Up Pengcardmu Dimanapun dan Kapanpun mudah dengan Aplikasi Action

Puasa enam hari di bulan Syawal setelah menjalankan puasa Ramadhan memberikan pahala bagi seseorang ibarat berpuasa sepanjang tahun.

ADVERTISEMENTS
PDAM Tirta Bengi Bener Meriah Aplikasi Action Bank Aceh

2. Menutupi Kekurangan

ADVERTISEMENTS

Puasa Sya’ban dan Syawal ibarat sholat sunnah yang mengiringi salat wajib lima waktu. Seperti halnya shalat Sunnah, puasa tambahan ini menutupi kekurangan kita dalam menjalankan ibadah wajib.

ADVERTISEMENTS

Pada hari kiamat, ibadah sunnah kita akan menutupi kekurangan kita dalam melaksanakan tugas kita. Kebanyakan dari kita memiliki kekurangan dalam menjalankan puasa Ramadhan. Kita perlu sesuatu untuk menutupi kekurangan tersebut.

Berita Lainnya:
Ketum MUI dan LDII Yakini Kebebasan Beragama adalah Identitas Bangsa

3. Tanda Diterimanya Ramadhan

Kembalinya kita pada kebiasaan berpuasa tepat setelah Ramadhan, yaitu pada bulan Syawal, merupakan tanda diterimanya puasa Ramadhan. Ketika Allah menerima ibadah kita, Dia memberikan keberkahan kepada hamba-Nya untuk melakukan ketakwaan lebih lanjut. Maka, menyertai satu amal shaleh dengan amalan lain yang sejenis merupakan tanda bahwa amalan pertama telah diterima oleh Allah.

4. Sebagai Rasa Syukur

Siapa yang menjalankan puasa Ramadhan mendapatkan pahala pada hari Idul Fitri. Membiasakan kembali berpuasa segera setelahnya merupakan salah satu wujud rasa syukur kepada Allah atas nikmat yang telah kita terima. Tidak ada berkat yang lebih besar daripada pengampunan dosa.

Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kita untuk bersyukur atas nikmat puasa Ramadhan dan melakukannya dengan menyebut Dia dan melalui cara mengucap syukur lainnya.

Allah berfirman, “… Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.” (QS Al Baqarah ayat 185).

Berita Lainnya:
Cara Saudagar Arab Menyebarkan Dakwah Islam di India

Dengan demikian, puasa enam hari di bulan Syawal merupakan salah satu cara mengungkapkan rasa syukur atas nikmat Allah SWT dalam menjalankan puasa Ramadhan.

Generasi salaf terdahulu, berusaha bangun di malam hari untuk melaksanakan sholat tahajud. Ketika Allah memberkahi mereka sehingga bisa bangun dan melakukannya, maka mereka akan berpuasa keesokan harinya sebagai rasa syukur kepada Allah karena telah memberikan kemudahan dan keberkahan kepada mereka dalam melaksanakan sholat Tahajud.

Suatu ketika, Wuhaib bin Al Ward ditanya tentang keberkahan berbagai ibadah, lalu dia menjawab, “Jangan bertanya tentang keberkahan yang bisa diperoleh dengan melakukan ibadah tersebut. Sebaliknya, tanyakanlah bagaimana kamu dapat menunjukkan rasa syukurmu kepada Allah jika Dia memberkahimu untuk melakukan hal tersebut, karena Dialah yang membantu kita dalam melakukan hal tersebut.”

Setiap nikmat yang Allah berikan adalah sesuatu yang patut kita syukuri. Terlebih lagi, ketika Allah memberkati kita untuk menunjukkan rasa syukur, ini adalah nikmat lebih lanjut dari Allah yang patut kita syukuri lebih lanjut. Jika kita lebih bersyukur lagi, ini merupakan berkat lain yang patut kita syukuri.

Ini tidak ada habisnya. Ketika kita menyadari bahwa rasa syukur kita tidak pernah cukup, inilah ungkapan rasa syukur tertinggi yang bisa kita berikan.

Sumber:

These 4 Virtues Will Motivate You to Fast 6 Days of Shawwal

ADVERTISEMENTS
x
ADVERTISEMENTS
1 2

Reaksi & Komentar

Berita Lainnya

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ditemukan berita/artikel lainnya.
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi