Kamis, 30/05/2024 - 13:34 WIB
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi

TERBARU

LIFESTYLE

Bocil Kecanduan Free Fire Sampai Tantrum, Problemnya Ada di Pengasuhan atau Gimnya?

JAKARTA — Beberapa hari lalu, video yang memperlihatkan sejumlah gamers cilik dengan berbagai ekspresi tantrumnya viral di media sosial X. Para bocil itu disebut kecanduan gim daring, seperti Free Fire yang memiliki rating aplikasi 12+ alias game dengan tingkat kekerasan menengah..

ADVERTISEMENTS
ActionLink Hadir Lebih dekat dengan Anda

Video itu muncul nyaris berbarengan dengan kabar bahwa Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) serta Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak telah merekomendasikan pemblokiran gim yang dinilai dapat menimbulkan dampak buruk terhadap anak-anak, seperti Free Fire. Pendapat warganet pun terbelah soal ini.

ADVERTISEMENTS
Selamat & Sukses kepada Pemerintah Aceh

Tak mendukung pemblokiran Free Fire, sebagian warganet menyoroti peran orang tua dalam mencegah anaknya mengakses gim yang tidak sesuai dengan kategori usianya. Mengomentari hal tersebut, psikolog anak dan remaja dari Tiga Generasi, Mayang Gita Mardian, menyebut bahwa mencari siapa yang salah ibarat memecahkan teka-teki “lebih dulu telur atau ayam”.

ADVERTISEMENTS
Ucapan Selamat & Sukses atas Pelantikan Pejabat di Pemerintah Aceh

Di satu sisi, pengembang gim daring, seperti Garena dengan Free Fire-nya, beroperasi secara legal dan memiliki kebijakan usia pengguna, panduan bermain, dan lainnya. Meski begitu, gim daring ini umumnya sangat mudah diakses.

Berita Lainnya:
Konsumsi Karbohidrat Kompleks Bantu Jaga Tingkat Gula Darah

Jadi, menurut Mayang, kontrolnya ada di keluarga. Bagaimanapun, penggunaan gawai sudah tidak mungkin dihindari karena memang banyak manfaatnya, baik dari segi hiburan, pendidikan, maupun untuk pekerjaan.

ADVERTISEMENTS
QRISnya satu Menangnya Banyak

“Cuma ada segelintir orang tua, yang secara sadar atau tidak, menggunakan gawai sebagai ‘obat instan’, jadi anaknya nangis terus ketika tak bisa mengakses gimnya sesuka hati, besoknya sampai lempar barang saat minta ponsel. Makin lama perilaku ini akan makin meningkat,” kata Mayang, Rabu (24/4/2024).

ADVERTISEMENTS
Bayar PDAM menggunakan Aplikasi Action Bank Aceh Syariah - Aceh Selatan

Terhadap anak yang seperti itu, orang tua perlu merefleksikan pola pengasuhannya, misalnya jika kerap merasa takut untuk mengontrol anaknya. Bisa jadi, ayah dan ibu khawatir dianggap terlalu ketat atau tidak ingin anaknya merasakan pengasuhan dengan banyak larangan seperti yang dulu ia alami.

ADVERTISEMENTS
Top Up Pengcardmu Dimanapun dan Kapanpun mudah dengan Aplikasi Action
Berita Lainnya:
Penderita Penyakit Jantung tidak Disarankan Olahraga Malam Hari

Padahal, menurut Mayang, kontrol pada anak usia dini memang harus banyak dipegang orang tua. Itu artinya, ayah dan ibu perlu melakukan pengasuhan yang tepat agar anaknya tak sampai menjadi tantrum karena kuota data internetnya habis, membanting ponsel jika ada yang mengecewakannya saat bermain, atau menangis karena tidak diberikan uang untuk membeli aksesori gim favoritnya.

ADVERTISEMENTS
PDAM Tirta Bengi Bener Meriah Aplikasi Action Bank Aceh
ADVERTISEMENTS

Mayang mengatakan, pengawasan dan pendampingan pada anak sangat penting, apalagi untuk usia di bawah sekolah dasar (SD). Pada rentang usia tersebut, orang tua mau tidak mau harus terlibat.

ADVERTISEMENTS

Selanjutnya, orang tua jangan sampai tidak tahu aktivitas daring anak. Penting memperhatikan jenis aplikasi yang diakses anak berikut batasan durasi aksesnya.

“Tidak bisa cuma aturan durasi melainkan konten dulu di-filter. Untuk game, peruntukan usianya sudah ada,” kata Mayang.

Sumber: Republika

ADVERTISEMENTS
x
ADVERTISEMENTS

Reaksi & Komentar

Berita Lainnya

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ditemukan berita/artikel lainnya.
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi