Selasa, 25/06/2024 - 14:59 WIB
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi

TERBARU

ISLAM

Akhlak Rasulullah Ketika Hendak Tidur

JAKARTA — Rasulullah SAW adalah suri teladan bagi umatnya, karena segala sesuatu yang dilakukannya merupakan contoh yang patut untuk diikuti. Segala tindak tanduk yang dilakukan beliau, aktivitas-aktivitasnya adalah bernilai ibadah, maka mengikutinya pun disunnahkan. 

Sebagai umatnya, kita disunnahkan untuk mengikuti sunnah-sunnahnya, termasuk aktivitasnya ketika hendak tidur. Dikutip dari buku Nabi Muhammad Sehari-Hari karya Muhammad Ismail Al-Jawisy, Rasulullah SAW mulai tidur pada awal malam dan bangun pada awal pertengahan malam. Beliau bangun, bersiwak, kemudian berwudhu dan shalat sampai datangnya waktu fajar, beliau tidak pernah tidur seperti biasanya yang orang perlukan.

Namun begitu, beliau tidak pernah menghalangi dirinya untuk memperoleh bagian yang sangat penting untuk beristirahat bagi tubuhnya, yaitu, sepertiga waktu dalam satu hari satu malam, atau sekitar delapan jam dalam satu hari sebagaimana banyak dianjurkan oleh para ahli kesehatan modern.

Rasulullah SAW tidur memejamkan kedua mata namun hatinya tetap terjaga. Tidak pernah ada orang yang sampai membangunkannya dari tidur, disebabkan beliau selalu bangun dengan sendirinya.

Posisi tidur Rasulullah selalu menghadap ke sebelah kanan sambil berdzikir kepada Allah sampai kedua matanya terpejam tidur. Beliau tidak pernah tidur dalam keadaan perut kenyang dengan makanan atau minuman, beliau tidak tidur di atas tanah, begitu pun tidak membuat ranjang yang tinggi dari permukaan tanah, melainkan hanya tidur beralas kulit yang dipenuhi sabut, terkadang juga tidur menggunakan bantal dan terkadang hanya berbantalkan tangannya yang diletakan di pipi.

Berita Lainnya:
Bung Karno dan Islam

Al-Barrâ bin ‘Azib meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah berkata, “Jika kamu hendak tidur, maka berwudhulah sebagaimana wudhunya hendak melakukan shalat, kemudian berbaringlah ke sebelah kanan, dan bacalah, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku serahkan diriku kepada-Mu, aku hadapkan wajahku kepada-Mu, aku serahkan semua urusanku kepada-Mu, aku serahkan kuasaku kepada-Mu, baik suka ataupun duka, sesungguhnya tidak ada tempat berlindung dan tidak ada tempat mencari keselamatan terkecuali hanya kepada-Mu, aku percaya terhadap kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan percaya terhadap semua Nabi-Mu yang telah Engkau utus.” 

Maka jadikanlah bacaan doa tersebut sebagai akhir menutup hari, dengan begitu walaupun kita harus mati pada malam itu juga maka kita mati dalam keadaan fitrah.

Rasulullah SAW bangun pagi sebelum matahari terbit, lalu beliau memuji Allah, bertakbir, bertasbih, berdoa, kemudian bersiwak, berwudhu dan shalat. “tiada Tuhan kecuali Engkau. Aku memohon ampunan-Mu atas segala dosa-dosaku, dan aku memohon rahmat-Mu. Ya Allah, tambahkanlah ilmu-ku dan jangan Engkau simpangkan hatiku setelah Engkau beri petunjuk, berilah aku kasih sayang dari sisi-Mu, sesungguhnya hanya Engkaulah yang Maha Pemberi.” 

Dalam riwayat lain, ketika terbangun dari tidur beliau membaca, “Segala puji hanya bagi Allah yang telah menghidupkan setelah mematikan kami, dan hanya kepada-Nyalah kami kembali.” Kemudian membaca sepuluh ayat terakhir surat Ali ‘Imân, dan bermunajat kepada Tuhannya, “Ya Allah, segala puji hanya bagi-Mu. Engkaulah cahaya langit tujuh dan bumi beserta isinya. Segala puji hanya bagi-Mu. Engkaulah yang Maha Benar, janji-Mu adalah benar, dan pertemuan-Mu adalah benar. Surga itu adalah benar, neraka itu adalah benar, para Nabi yang Kau utus adalah benar, Muhammad adalah benar, dan hari kiamat pun benar kedatangannya.”

Ya Allah hanya kepada-Mu kami berserah, kepada-Mu kami beriman, kepada-Mu kami bertawakkal, kepada-Mu kami bertaubat, kepada-Mu kami memohon perlindungan, dan kepada-Mu kami mengadu. Maka ampunilah aku atas apa yang telah aku perbuat dan apa yang akan aku perbuat, baik secara sembunyi-sembunyi maupun secara terang-terangan. Wahai Tuhanku, sesungguhnya tiada Tuhan selain Engkau…”

Dari Ya’îsy bin Dhakhfah Al-Ghifâry, ia meriwayatkan dari ayahnya yang berkata kepadanya, “Tatkala aku sedang berbaring di masjid dengan posisi telungkup di atas perutku, tiba-tiba seseorang menggerakkan tubuhku, ia berkata, ‘Sesungguhnya ini adalah posisi tidur yang Allah murkai.’ Dan ternyata orang itu adalah Rasulullah SAW.”

Berita Lainnya:
Tuntunan Islam Jaga Lingkungan Hidup

Beliau berkata, “Barangsiapa yang duduk di tempat duduk tidak menyebut Allah terlebih dahulu, maka antara dia dengan Allah ada kekurangan. Dan barangsiapa yang tidur berbaring tidak menyebut Allah terlebih dahulu, maka antara ia dengan Allah ada kekurangan.”

 

 

 

1 2

Reaksi & Komentar

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَاهُ لَا أَبْرَحُ حَتَّىٰ أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا الكهف [60] Listen
And [mention] when Moses said to his servant, "I will not cease [traveling] until I reach the junction of the two seas or continue for a long period." Al-Kahf ( The Cave ) [60] Listen

Berita Lainnya

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ditemukan berita/artikel lainnya.
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi