Pada akhirnya PKS lahir sekadar sebagai pengekor pendahulu mereka, menempuh jalur perjuangan yang tidak jauh berbeda dan akhirnya menuai kegagalan yang sama. Wajar jika para konstituen PKS memanen kekecewaan yang berlipat-lipat, namun inilah demokrasi, berkoalisi atau hancur sendiri? Tidak ada kawan atau musuh yang abadi, hari ini lawan besok berkawan yang penting kepentingan terealisasikan dan pastinya menguntungkan. Cita-cita mewujudkan kebangkitan Islam menguap entah kemana, dikalahkan oleh birahi politik dan kekuasaan.
PKS pun tak menutupi lagi pragmatisme mereka. Melihat sikap para pemimpin partai tampak bahwa PKS telah siap dengan segala resiko tersebut termasuk ditinggalkan oleh konstituennya. Pragmatisme adalah aliran filsafat yang mengajarkan bahwa kebenaran dari segala sesuatu, baik ucapan, dalil, ataupun teori, diukur berdasarkan pada manfaat yang diberikannya. Pragmatisme merupakan cabang dari pemikiran kapitalisme. Asasnya pun sama yaitu sekulerisme.
Karakter yang melekat pada pragmatisme adalah ketundukan pada realitas dan manfaat yang diperoleh. Kita bisa mengindera bagaimana partai politik membina koalisi untuk mendapatkan bagian dalam kekuasaan dengan mengorbankan ideologi dan arah perjuangan. Sikap pragmatis cenderung menggunakan segala cara mengabaikan prinsip-prinsip kebenaran dan kepantasan.
Oleh sebab itu masyarakat tidak perlu kaget ketika Edy Rahmayadi kini diusung oleh PDIP untuk maju di Pilkada Sumatera Utara, sementara Bobby Nasution didukung oleh super koalisi termasuk PKS di dalamnya. Koalisi-koalisi ini bergabung dengan tujuan dan dalih yang sama yaitu demi memperjuangkan perbaikan bangsa dan negara.
Namun di sisi lain, sepak terjang PKS dapat menimbulkan stigma negatif bagi partai politik Islam yang benar-benar mengemban politik Islam. Masyarakat akan mengingat partai Islam sebagaimana kenangan mereka tentang PKS sejajar dengan partai-partai sekuler lainnya yang mempraktikkan politik kotor dan penuh tipu daya.
Dalam hal ini Muhammad Hawari dalam bukunya As-Siyasah al-Hizbiyyah li-al Harakah al-Islamiyah merangkum dua (2) sisi sebab-sebab kegagalan partai Islam yaitu pertama, dari aspek pemikiran dan tujuan yang menyatukan sebuah partai, apakah pemikiran yang mendasarinya sahih atau keliru? Kedua, dari aspek keorganisasian yaitu dari asas yang membangun partai tersebut.
Pada dasarnya, sebuah partai pasti tersusun di atas empat aspek berikut ini; Pertama, pemikiran (fikrah) yang menentukan tujuan serta yang menjadi asas untuk menyatukan masyarakat dengan partai. Kedua, metode (thariqah) yang ditempuh partai untuk meraih tujuannya. Ketiga, anggota-anggota partai serta sejauh mana keyakinan mereka terhadap pemikiran (fikrah) dan metode (thariqah) partainya. Keempat, cara (kayfiyah) untuk menyatukan masyarakat dengan partai tersebut. Keempat aspek ini sangat penting dimana jika partai kehilangan salah satu daripadanya dipastikan partai tersebut akan gagal mewujudkan tujuannya.






























































































PALING DIKOMENTARI
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Kabar Gembira, Bustami Hamzah Resmi…
Bukan Sekadar Pelengkap! PTS Kini…
KOMENTAR
Ara lagi salah minum obat. Kami maklum. hahahaha...
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Si opung, siapa yang ngga' kenal dia. Mafioso Indonesia
Penipu yang begini gaya dia. sekalinya menipu akan tetap terus…