SABANG – Perhimpunan Penjelajah Alam Bencana dan Konservasi Generasi Rimba Alam Semesta (GRAS) resmi mendapat sertifikat, tanda, sebagai bukti kunjungan ke 300494 pada Senin 12 Agustus 2024 di Nol Kilometer Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dari sisi wilayah terbarat Indonesia.
Founder sekaligus Ketua Umum GRAS Nurhabli Ridwan mengungkapkan ini pertama kalinya GRAS mengunjungi titik nol kilometer NKRI dari sisi wilayah terbarat.
Sebagai penjelajah alam senang sekali bisa berada disini membawa nama GRAS melihat tugu yang fenomenal kental dengan sejarah dan keindahan alam ujung Indonesia.
Titik Nol Kilometer NKRI ditandai dengan Tugu Nol Kilometer yang berdiri di atas tebing dan menghadap langsung ke Samudra Hindia. Terletak di Sabang, Provinsi Aceh, menandai titik paling barat Indonesia. Tugu ini telah menjadi salah satu tujuan wisata utama di Pulau Weh.
Tugu ini berdiri setinggi 43,6 meter, terletak pada koordinat geografis 05° 54′ 21.42″ LU dan 95° 13′ 00.50″ BT, hasil pengukuran oleh ahli BPP Teknologi dengan teknologi GPS.
Dari bawah bentuknya menyerupai mata bor yang menembus langit, melambangkan semangat bangsa yang terus menggali makna persatuan. Di puncaknya, burung Garuda menggenggam angka nol, simbol bahwa dari titik inilah Indonesia bermula.
Empat pilar kokoh yang menopang bangunan melambangkan batas-batas negeri Sabang, Merauke, Miangas, dan Rote. Di sekelilingnya, ornamen bercorak Aceh dan simbol rencong memperlihatkan kebanggaan masyarakat setempat.
Di bawah tugu, terdapat beberapa prasasti penting. Salah satunya ditandatangani oleh BJ Habibie saat menjabat sebagai Menristek, berisi koordinat geografis yang diukur menggunakan GPS. Satu lagi ditandatangani Wakil Presiden Try Sutrisno pada peresmian tanggal 9 September 1997.
Selain tugu titik nol kilometer, sabang terkenal dengan keindahan bahari atau bawah laut yang dapat di kunjungi.






























































































