EDUKASI
EDUKASI

Pendirian Kampus St Peterburg University di Indonesia Semakin Terbuka

BANDA ACEH –   Indonesia dan Rusia berpeluang mendirikan kampus bersama di bidang nuklir, metalurgi, kimia, nanoteknologi, bioteknologi. Tim Rusia melalui St.Petersburg University (SPBU) serta dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) segera membahas detil teknis kerja sama tersebut.Hal itu terungkap di dalam pembicaraan delegasi Indonesia yang dipimpin Presiden Kelima RI Megawati Soekarnoputri, dalam kapasitasnya sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), dengan delegasi SPBU Rusia dipimpin Rektor Prof. Nikolay Kropachev.

Pertemuan dilakukan di kantor Rektor Universitas St. Petersburg pada Senin waktu setempat (16/9).

“Terima kasih banyak sudah mampir. Hari ini hari yang agung dan luar biasa bagi kami. Saya tentu saja mendengar soal ibu dan rekam jejak ibu memperkuat kemampuan Indonesia, Ibu Mega terkenal kokoh dan teguh melindungi kepentingan negara dan bangsa Indonesia,” kata Nikolay memulai pembicaraan.

Berita Lainnya:
Prodi Ilmu Perpustakaan UIN Ar-Raniry Sosialisasikan PMB 2026 ke Pidie-Pidie Jaya

Nikolay lalu memberi penjelasan panjang tentang rekam jejak kampus tertua di Rusia itu. Ia juga menjelaskan berbagai kerja sama yang sudah dilakukan kampus tersebut dengan berbagai negara di dunia.

Menurutnya, SPBU sudah mendirikan kampus perwakilan di setidaknya 10 negara seperti China, Korea Selatan, Italia, Spanyol, dan Serbia. Bahkan sampai membuka cabang di negara seperti China dan Uzbekistan.

“Kami sangat senang bila ada kesempatan membuka perwakilan atau cabang di Indonesia,” katanya.

Menurutnya, ada 500-an program studi yang di cover oleh kampus, dan kerja sama bisa dilakukan berdasarkan kebutuhan Indonesia.

Satu hal lagi, pihak SPBU mendorong agar kerja sama pendidikan juga melibatkan pelaku ekonomi diantara dua negara. Ia mencontohkan, dengan Azerbaijan, kerja sama pembangunan kampus bersama juga didukung oleh pebisnis migas Rusia dan Azerbaijan.

Berita Lainnya:
50 Guru MTsN Pidie Jaya Pertajam Pedagogik Lewat Pelatihan Kolaboratif Pasca Banjir

“Satu contoh lagi, di Mesir, sesuai keinginan Mesir, kami buka kedokteran dan IT. Pengajaran dua bahasa yakni Inggris dan Arab, di masa depan kami rencanakan mengajar dengan bahasa Arab saja,” kata Nikolay.

Ia juga mengakui bahwa keinginan mereka membuka kampus bersama di Indonesia, adalah sejalan dengan perintah Presiden Rusia, Vladimir Putin.

“Presiden Putin memberikan perintah, kita harus melihat ke Timur. Bagi kami itu petunjuk,” kata Nikolay.

Menanggapi hal itu, Megawati lantas menjelaskan dirinya hadir juga sebagai Ketua Dewan Pengarah BRIN, dengan 8000-an lebih peneliti Indonesia yang berpengalaman. Presiden Kelima RI itu lalu memperkenalkan delegasi yang hadir bersamanya.

image_print
1 2

Reaksi

Berita Lainnya