Serangan itu menimbulkan kerusakan pada infrastruktur militer Israel.
Permukiman seperti Kiryat Shmona, Zar’it, dan Ramot Naftali juga diserang Hizbullah dengan rentetan roket.
Sebagai bagian dari rangkaian operasi Khaybar Hizbullah, dan menggalang seruan “Labbayka Ya Nasrallah” atau “Siap melayanimu wahai Nasrallah”, para pejuang Perlawanan Islam di Lebanon melancarkan dua serangan terpisah terhadap Pangkalan Angkatan Laut Stella Maris dan Pangkalan Teknis Haifa di Haifa yang diduduki.
Serangan itu menggunakan dua rentetan roket canggih.
Pangkalan militer Shraga, markas besar administratif Komando Brigade Golani, yang terletak di Akka utara, juga menjadi sasaran serangkaian roket.
Di kota Yaroun di Lebanon selatan, serangan pesawat tak berawak yang dilancarkan oleh Hizbullah menargetkan sekelompok tentara Israel dan mengenai sasarannya dengan tepat.
Sementara itu, roket canggih yang diluncurkan oleh Hizbullah menyerang lokasi militer strategis Israel di Golan Suriah yang diduduki, termasuk lokasi Haboushit, markas besar militer utama, dan pusat intelijen peringatan dini di Gunung Hermon.
Houthi Luncurkan Rudal Hipersonik ke Pangkalan AU Israel
Serangan juga dilakukan Angkatan Bersenjata Yaman yang terafiliasi gerakan Houthi.
Juru bicara Angkatan Bersenjata Yaman Brigadir Jenderal Yahya Saree mengatakan kalau pasukan angkatan laut negara itu menyerang pangkalan Nevatim rezim Israel menggunakan rudal hipersonik.
“Selama operasi militer, kami menargetkan Pangkalan Udara Nevatim dari musuh Israel di wilayah Negev, yang terletak di selatan Palestina yang diduduki,” kata Saree pada Jumat.
Dia menambahkan bahwa operasi itu dilakukan dengan rudal balistik hipersonik ‘Palestina 2’ dan berhasil menyasar targetnya.
“Operasi Angkatan Bersenjata Yaman akan berhenti hanya ketika invasi Jalur Gaza dihentikan, blokade dicabut dan agresi terhadap Lebanon dihentikan,” kata Yahya Saree menekankan.
Warga Yaman telah menyatakan dukungan terbuka mereka untuk perjuangan Palestina melawan pendudukan Israel sejak rezim tersebut melancarkan perang yang menghancurkan di Gaza pada 7 Oktober setelah gerakan Perlawanan Palestina di wilayah itu melakukan serangan balasan yang mengejutkan, yang dijuluki Operasi Badai Al-Aqsa, terhadap entitas pendudukan.
Angkatan Bersenjata Yaman mengatakan bahwa mereka tidak akan menghentikan serangan mereka sampai serangan darat dan udara Israel yang tak henti-hentahkan di Gaza, yang telah menewaskan sedikitnya 27.948 orang dan melukai 67.459 orang lainnya, berakhir.















































































































