Memuat berita...

Imsak --:--
Iftar --:--
ADVERTISMENT
OPINI
OPINI

Maafkan Kami Dato Seri Anwar Ibrahim

Mungkin banyak orang di elite nasional bingung, bagaimana makhluk seperti ini bisa menjadi Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia?

Ketiga, Malaysia adalah tempat di mana sekitar 5 juta rakyat Indonesia mencari nafkah, lebih setengahnya diperkirakan “ilegal”. Berbagai kasus menimpa pekerja-pekerja kita di sana, ada yang diperkosa majikan, disiksa dengan setrikaan, kerja tanpa kenal waktu, dan lain sebagainya.

Tentu saja kejadian-kejadian ini bisa terjadi karena memang banyak rakyat kecil kita adalah manusia “tanpa kehormatan” alias pasrah dihina. Sebab, di dalam negeri mereka sudah juga menjadi manusia yang suka atau tak berdaya dihinakan.

Persoalannya ke depan, jika standar penghinaan Gus Miftah ini menjadi “mainstream”, maka besar kemungkinannya pekerja kita di Malaysia bisa dianggap benar-benar setara budak oleh Bangsa Malaysia. Saat ini sendiri, sudah acapkali ditengarai bahwa bangsa Malaysia merasa lebih superior dari kita.

Berita Lainnya:
NasDem Berpeluang Mengusung Anies Lagi

Keangkuhan dan Kesombongan Elite

Dato Anwar Ibrahim mungkin tidak paham bahwa Miftah bukanlah sekadar pendakwah. Dia adalah elit kekuasaan. Dia adalah Utusan Khusus Presiden alias setingkat dengan Menteri, dengan gaji dan fasilitas besar.

Penghinaan terhadap rakyat jelata sesungguhnya merujuk fenomena baru di Indonesia, khususnya di era Jokowi. Jokowi sering dengan gaya angkuh melempar-lemparkan kantongan bansos kepada rakyat di tepi jalan, lalu dipertontonkan melalui video viral. Bahkan, suatu kali di istana, orang-orang terinjak-injak karena rebutan bansos Jokowi.

Model ini kemudian mengilhami orang-orang dekat Jokowi mengejek-ngejek rakyat dan kelompok ras tertentu. Tercatat misalnya, dua orang dekat Jokowi, menyamakan seorang tokoh Papua, Natalius Pigai, dengan gorilla.

Ada lagi yang menyamakan anak-anak kecil pengajian dengan “calon teroris”. Menghina orang-orang yang celananya cingkrang. Menghina anak-anak Masjid yang senang menyuarakan azan. Menghina ibu-ibu pengajian dianggap menelantarkan anak. Menghina tukang bakso untuk dijodohkan dengan anaknya. Membunuh anak-anak muda FPI tanpa salah di KM50.

Berita Lainnya:
Jokowi Memang sudah Selesai, Tapi Masih Ada Gibran dan Kaesang

Banyak lagi lainnya sampai dengan membudayanya suap-menyuap dalam masyarakat di pemilihan umum (rakyat hanya dihargai 50 ribu suaranya). Alhasil, “power relation” yang tidak equal, menyebabkan rakyat kecil menjadi bangsa terhina. Miftah adalah pendakwah yang top di era Jokowi. Mungkin dia termasuk terilhami Jokowi pula.

Era Jokowi itu sesungguhnya terbalik dari era sebelumnya, yakni era SBY. Penggunaan binatang, kerbau, pernah diasosiasikan kepada SBY saat dia berkuasa. Para demonstran membawa kerbau dan menuliskannya “SBY” di badan kerbau itu.

image_print
1 2 3 4 5
Logo
Suara Netizen
Memuat konten netizen...
ADVERTISMENT
Update Terbaru
ADVERTISMENT
Orinews Logo

Imsakiyah Ramadhan 1447 H

Kota Banda Aceh & Sekitarnya

Harian Aceh Indonesia
Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh
Tanggal Imsak Subuh Dzuhur Ashar Maghrib Isya
Memuat data resmi...
Update Terbaru
Memuat Artikel...
MEMUAT BERITA...

Reaksi

Berita Lainnya