Ketika Prabowo menaikkan upah buruh lebih besar dari ajuan menteri dan para pengusaha, dengan gagahnya Prabowo mengatakan dia mendengar tokoh-tokoh buruh saja untuk sebuah keputusan membela rakyat. Prabowo tidak gentar menghadapi “ancaman” pengusaha.
Persoalannya adalah kekuasaan Prabowo sendiri masih dilumuri orang-orang seperti Gus Miftah dan sejenisnya yang memang “mindset” mereka terhadap rakyat sangat buruk. Sehingga, kekuasaan Prabowo untuk rakyat bisa gagal dalam implementasi. Karena orang orang yang tidak ideologis dapat dengan mudah menjadi pengkhianat atas cita-cita Prabowo.
Orang-orang seperti Gus Miftah juga adalah “toxic” ataupun “komorbid” dari era Jokowi, yang bertentangan dengan Prabowo. Prabowo sendiri dalam sisi karakter adalah produk sejarahnya sendiri, di mana dia tumbuh berkembang sebagai patriot dalam jangka beberapa generasi. Sebaliknya, Gus Miftah dan sejenisnya adalah produk karbitan tanpa ideologi dan idealisme.
Sehingga untuk menjawab situasi ini akan sampai kapan, yakni kekuatan struktural Prabowo versus budaya rusak bawaan Jokowi, tergantung seberapa cepat konsolidasi kekuatan dan kekuasaan Prabowo ke depan.
Jika tentara, sebagai kekuatan utama sebuah bangsa, dapat dikonsolidasikan Prabowo secepatnya, kemudian selanjutnya polisi dan aparatur sipil, sehingga semuanya berorientasi melayani rakyat. Maka Prabowo dapat secepatnya pula mengimplementasikan cita-cita kerakyatannya selama ini.
Selain tentara dan aparatur lainnya, tentu saja orang-orang seperti Gus Miftah harus dibersihkan dari lingkungan kekuasaan Prabowo. Sehingga, setidaknya tidak membuat rakyat “ambigue” terhadap sosok tulus Prabowo.
Sehingga pula dalam beberapa tahun, orientasi pembangunan kita akan berkiblat pada kemakmuran semua rakyat, bukan segelintir orang. Ukuran keberhasilannya antara lain adalah bagaimana secepatnya kenaikan upah buruh dapat dipatuhi pengusaha, penggusuran petani dan nelayan dapat dihentikan, bank-bank negara berfungsi melayani seluruh rakyat, bukan hanya etnis tertentu, rezim impor dihentikan, ilegal sawit diserahkan kepada koperasi petani, dan lain sebagainya.
Penutup
Dato Seri Anwar Ibrahim, Perdana Menteri Malaysia, yang ikut membahas penghinaan Gus Miftah kepada orang miskin yang mencari nafkah, membuat kita harus insaf. Kesombongan elite yang dipelihara rezim Jokowi dan orang-orang seperti Gus Miftah, produk rezim Jokowi, secepatnya harus diubah oleh Presiden Prabowo.
Prabowo tentu harus diapresiasi dengan berbagai upayanya memuliakan rakyat kecil. Namun, tantangan ke depan sangat berat karena budaya bawaan Jokowi masih banyak menguasai orang-orang di sekitar Prabowo serta oligarki sekutu mereka.
































































































Paling Banyak Dipilih
Viral Lagu “Tak Diberi Tulang…
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Inilah 5 Produk Jam Tangan…
Apa benar, yang nomor 4 itu adalah produk ROLEX...???
Berusia Setengah Abad sejak 6/8/1973…
Berikut untuk mengingatkan kita kembali tentang Sejarah: "Kita bukan pembuat…
Pembiayaan Digantung Tak Ada Kabar…
Kriet mate bank Aceh nyan menyoe meurusan ngen ureng Aceh.…
Ada Dua Nama Calon Direktur…
Siapapun nanti dirut yg terpilih, saya siap membantu bas menggarap…
Active Threads
Nabi Isa 'alaihissalam, yang disebut sama org kafir sebagai Yesus…
Keren Bank Aceh Syariah. Dari waktu ke waktu penuh inovasi.…
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Hana jelas, Leh kiban di meubut di kelola,Meu peu cap…
Paling Dikomentari
Beredar Narasi di Tentara AS,…
Bank Aceh Siapkan Reward Khusus…
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Komentator Paling Aktif
Komentar Paling Aktif
Indonesia, khususnya Aceh, perintah Allah dan Rasulullah itu, level urgensi…
😥 Inna lillahi wa Inna ilahi raaji'un
😂 Mana pernah ngaku penjahat.
😂 Mereka orang-orang penyembah berhala yang terlalu delusional…
Iran is the best 👌 Amerika Serikat dan Teroris…
Berita Terpopuler