ADVERTISMENT
OPINI
OPINI

Maafkan Kami Dato Seri Anwar Ibrahim

Ketika Prabowo menaikkan upah buruh lebih besar dari ajuan menteri dan para pengusaha, dengan gagahnya Prabowo mengatakan dia mendengar tokoh-tokoh buruh saja untuk sebuah keputusan membela rakyat. Prabowo tidak gentar menghadapi “ancaman” pengusaha.

Persoalannya adalah kekuasaan Prabowo sendiri masih dilumuri orang-orang seperti Gus Miftah dan sejenisnya yang memang “mindset” mereka terhadap rakyat sangat buruk. Sehingga, kekuasaan Prabowo untuk rakyat bisa gagal dalam implementasi. Karena orang orang yang tidak ideologis dapat dengan mudah menjadi pengkhianat atas cita-cita Prabowo.

Orang-orang seperti Gus Miftah juga adalah “toxic” ataupun “komorbid” dari era Jokowi, yang bertentangan dengan Prabowo. Prabowo sendiri dalam sisi karakter adalah produk sejarahnya sendiri, di mana dia tumbuh berkembang sebagai patriot dalam jangka beberapa generasi. Sebaliknya, Gus Miftah dan sejenisnya adalah produk karbitan tanpa ideologi dan idealisme.

Berita Lainnya:
Cara Licik Fadia Arafiq Korupsi

Sehingga untuk menjawab situasi ini akan sampai kapan, yakni kekuatan struktural Prabowo versus budaya rusak bawaan Jokowi, tergantung seberapa cepat konsolidasi kekuatan dan kekuasaan Prabowo ke depan.

Jika tentara, sebagai kekuatan utama sebuah bangsa, dapat dikonsolidasikan Prabowo secepatnya, kemudian selanjutnya polisi dan aparatur sipil, sehingga semuanya berorientasi melayani rakyat. Maka Prabowo dapat secepatnya pula mengimplementasikan cita-cita kerakyatannya selama ini.

Selain tentara dan aparatur lainnya, tentu saja orang-orang seperti Gus Miftah harus dibersihkan dari lingkungan kekuasaan Prabowo. Sehingga, setidaknya tidak membuat rakyat “ambigue” terhadap sosok tulus Prabowo.

Sehingga pula dalam beberapa tahun, orientasi pembangunan kita akan berkiblat pada kemakmuran semua rakyat, bukan segelintir orang. Ukuran keberhasilannya antara lain adalah bagaimana secepatnya kenaikan upah buruh dapat dipatuhi pengusaha, penggusuran petani dan nelayan dapat dihentikan, bank-bank negara berfungsi melayani seluruh rakyat, bukan hanya etnis tertentu, rezim impor dihentikan, ilegal sawit diserahkan kepada koperasi petani, dan lain sebagainya.

Berita Lainnya:
Iran Menolak Tunduk kepada Trump

Penutup

Dato Seri Anwar Ibrahim, Perdana Menteri Malaysia, yang ikut membahas penghinaan Gus Miftah kepada orang miskin yang mencari nafkah, membuat kita harus insaf. Kesombongan elite yang dipelihara rezim Jokowi dan orang-orang seperti Gus Miftah, produk rezim Jokowi, secepatnya harus diubah oleh Presiden Prabowo.

Prabowo tentu harus diapresiasi dengan berbagai upayanya memuliakan rakyat kecil. Namun, tantangan ke depan sangat berat karena budaya bawaan Jokowi masih banyak menguasai orang-orang di sekitar Prabowo serta oligarki sekutu mereka.

image_print
1 2 3 4 5
Logo
Suara Netizen
Memuat konten netizen...
ADVERTISMENT
Update Terbaru
ADVERTISMENT
Orinews Logo
Update Terbaru
Memuat Artikel...
MEMUAT BERITA...

Reaksi

Berita Lainnya