BANDA ACEH – Gelombang efisiensi perusahaan akibat disrupsi teknologi terus meluas. Berdasarkan survei World Economic Forum (WEF), sekitar 41 persen perusahaan di dunia diprediksi akan memangkas tenaga kerja akibat adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) pada tahun 2030.Tidak hanya itu, sektor perbankan global diperkirakan akan menggantikan ratusan ribu pekerjanya dengan AI dalam lima tahun mendatang. Fenomena ini memaksa banyak perusahaan untuk merestrukturisasi tenaga kerja demi menghadapi persaingan yang semakin ketat.
Meskipun demikian, tidak semua profesi terdampak secara negatif. Sejumlah profesi diprediksi akan bersinar di tengah ancaman PHK massal, seperti profesi yang berkaitan dengan teknologi.
Pekerjaan seperti data scientist, AI trainer, cyber security specialist, dan software developer diperkirakan akan mengalami lonjakan permintaan. Keahlian di bidang pengolahan data, pengembangan sistem berbasis AI, hingga keamanan siber menjadi kebutuhan utama bagi perusahaan yang ingin bertahan di era digital.
Pengamat ketenagakerjaan Arif Novianto menilai ilmuwan data atau data scientist menjadi salah satu pekerjaan yang akan banyak diminati. Data scientist pekerjaan yang mendapat keistimewaan seiring perkembangan AI.
“Terkait pekerjaan apa yang akan banyak diminati atau mendapat semacam privilege di era perkembangan teknologi atau AI ini ya yang paling banyak mendapat kebutuhan yang besar itu adalah misalnya data scientist,” ungkapnya kepada kumparan, Sabtu (11/1).
Selain itu, karena AI membutuhkan pelatihan dengan dilatih langsung oleh manusia yang memasukkan data, peran pelatih AI atau AI trainer juga turut penting. Meski begitu, Arif menyayangkan banyak AI trainer yang justru di bayar murah.
“Mereka digunakan untuk menginfo data, melatih AI, dan lain sebagainya tapi biaya sangat-sangat murah,” lanjutnya.
Namun, keberadaan AI trainer menurut Arif juga dilihat sebagai persoalan ganda. Hal ini karena banyak AI trainer yang digunakan untuk membangun AI canggih di suatu perusahaan namun akhirnya menciptakan pemangkasan pekerja.
“Setelah AI-nya begitu canggih kemudian AI ini bisa digunakan oleh perusahaan dan lain sebagainya justru menciptakan pemangkasan pekerja,” terang Arif.
Bagi tenaga kerja, kondisi ini memberikan sinyal penting yaitu mereka perlu terus meningkatkan keterampilan, khususnya dalam bidang teknologi, agar tetap relevan di pasar kerja. Investasi dalam pendidikan teknologi dan pengembangan keahlian digital menjadi kunci untuk menghadapi perubahan besar di masa depan.
































































































Paling Banyak Dipilih
Viral Lagu “Tak Diberi Tulang…
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Inilah 5 Produk Jam Tangan…
Apa benar, yang nomor 4 itu adalah produk ROLEX...???
Berusia Setengah Abad sejak 6/8/1973…
Berikut untuk mengingatkan kita kembali tentang Sejarah: "Kita bukan pembuat…
Pembiayaan Digantung Tak Ada Kabar…
Kriet mate bank Aceh nyan menyoe meurusan ngen ureng Aceh.…
Ada Dua Nama Calon Direktur…
Siapapun nanti dirut yg terpilih, saya siap membantu bas menggarap…
Active Threads
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Hana jelas, Leh kiban di meubut di kelola,Meu peu cap…
Paling Dikomentari
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Kabar Gembira, Bustami Hamzah Resmi…
Bukan Sekadar Pelengkap! PTS Kini…
Komentator Paling Aktif
Komentar Paling Aktif
Syukur lah karena seharusnya memang langsung dimakan karena bukan namanya…
Ara lagi salah minum obat. Kami maklum. hahahaha...
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Si opung, siapa yang ngga' kenal dia. Mafioso Indonesia
Berita Terpopuler