NASIONAL
NASIONAL

Prabowo, Gas Melon dan Paska 100 Hari

OLEH: DR. SYAHGANDA NAINGGOLAN

   

BAHLIL, menteri ESDM, yang fotonya dulu beredar dengan Whisky Yamazaki seharga kisaran Rp 30 juta atau Rp 300 juta, kembali menuai kritik di media sosial karena membuat rakyat mengantre mengular gas melon 3 kg, yang bahkan menimbulkan korban jiwa. Rakyat yang biasanya beli gas di toko-toko eceran, gagal membeli, karena gas hanya ada di pangkalan.

Bahlil yang selalu mengaku anak orang miskin dalam perjalanan kemasyhuran karirnya, akhirnya menyaksikan sendiri kebijakannya membuat seorang nenek meninggal karena kemiskinannya. Nenek tersebut, 62 tahun, di Tangerang berusaha mendapatkan gas melon untuk memasak. Namun,  apa daya, antrian sangat panjang, harus pulang dulu karena tidak bawa KTP, lalu mengantri lagi. Harga gas itu tidak seharga Whisky yang mampu dibeli orang-orang kaya, hanya seharga garis kemiskinan, sekitar kurang lebih Rp. 20.000.

Antrian mengular bagi emak-emak dulu memang pernah terjadi di era Jokowi, ketika mereka mengantri minyak goreng. Kala itu jumlah konsumsi minyak goreng kita hanya sebesar 20% dari total produksi yang ada. Namun, karena rakyat hanyalah objek yang terhinakan di era itu, mereka tidak menjadi prioritas, kalamana harga minyak goreng dunia meroket.

Mengantri gas melon ironisnya terjadi di era Prabowo. Khususnya, ketika seluruh rakyat melihat Prabowo bersungguh-sungguh menghadirkan negara untuk kepentingan rakyat, bukan personal interest. Bahkan Prabowo baru saja mengucapkan syukur, kita mempunyai cadangan baru gas dengan ditemukannya ladang di Andaman Aceh. Seperti diberitakan CNBC Indonesia, pada BNI Investor Daiky, Prabowo mengatakan, “Kita bersyukur kita diberi kekayaan alam luar biasa. Minggu demi minggu bulan demi bulan ketemu lagi, kita baru ketemu ladang gas terbesar di Andaman”, (9/10/2024).

Dasco vs. Bahlil

Berita saling tuding terjadi secara terbuka di media massa. Dasco, baik melalui akun IG maupun diberitakan diberbagai media online mengatakan bahwa Prabowo Subianto tidak meminta Bahlil menghentikan pengecer gas melon itu. Sementara Bahlil mengatakan bahwa itu atas perintah Prabowo. Versi Prof. Dasco, sebagai orang terdekat Prabowo, seperti versi “Bocor Alus”, menjelaskan bahwa Prabowo hanya memberikan garis besar perlunya subsidi energi tepat sasaran. Pemberhentian pengecer gas itu, secara mendadak adalah arahan menteri. Statement Dasco ini merupakan langkah mitigasi untuk memastikan kebijakan Prabowo pro rakyat tidak berubah setelah seratus hari.

Mitigasi Dasco sangat penting untuk rakyat tidak membenci Prabowo. Dan memang pula karena Prabowo tidak menginginkan rakyat terhina dengan mengantri seperti itu. Langkah ini merupakan jawaban cepat atas berbagai ejekan dan muntahan sosial rakyat, khususnya di media sosial, kepada Prabowo, bukan Bahlil. Saat ini, dengan kehidupan dunia medsos, di mana hirarki tidak begitu terperhatikan, tuduhan kepada Prabowo Subianto menjadi nyata. Misalnya, ejekan di medsos dikaitkan dengan joget jogetan Prabowo “oke gas, oke gas” yang terhubung dengan hilangnya gas melon itu. Bahkan, pada saat seperti ini turun berita juru bicara presiden Hasan Nasbi mengatakan kebijakan Bahlil benar adanya. (Lihat “Istana Bela Kebijakan Bahlil Soal LPG 3 Kg yang Meresahkan Rakyat”, rilpolitik.com, 3/2/25)

image_print
1 2 3 4

Reaksi

Berita Lainnya