UPDATE

OPINI
OPINI

Kapolri dan Jokowi Pejuang bagi Kepentingannya Masing-masing

Oleh: Erizal1

TERNYATA, Kapolri dan Jokowi punya satu kesamaan. Yakni, sama-sama pejuang. Pejuang yang gigih. Pejuang bagi kepentingannya masing-masing.

Pejuang bagi pendukungnya masing-masing. Ini baru tampak jelas belakangan ini pula, bagi yang jeli melihat dan terbuka atas perkembangan terbaru.

Di hadapan anggota Komisi III DPR, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, tegas memerintahkan jajarannya untuk berjuang sampai titik darah penghabisan, kalau ada pihak-pihak yang menginginkan posisi Polri berada di bawah kementerian.

Artinya, posisi Polri saat ini adalah harga mati yang harus diperjuangkan sampai titik darah penghabisan.

Sedangkan Jokowi di hadapan peserta Rakernas I PSI di Makassar, lantang berpidato akan bekerja mati-matian untuk PSI.

Bahkan, saking bersemangatnya Jokowi sampai keseleo lidah mengatakan kata mati-matian itu sendiri. Tidak saja bekerja mati-matian, tapi juga bekerja habis-habisan untuk kemenangan PSI.

Kalau sudah mati, ya habis. Dan kalau sudah habis, bisa saja mati.

Teriakan Jokowi akan bekerja mati-matian dan habis-habisan untuk PSI disambut gegap-gempita oleh para peserta Rakernas PSI.

Gemuruh teriakan: Jokowi, Jokowi, Jokowi; membahana ke seluruh ruangan gedung Rakernas. Sedangkan perintah Kapolri kepada jajarannya untuk berjuang sampai titik darah penghabisan disambut tepuk tangan anggota Komisi III DPR RI.

“Menyala Kapolri, “teriakan salah seorang anggota Komisi III jelas sekali terdengar di ruangan itu.

Memang agak aneh juga, kelakuan dari anggota Komisi III yang bertepuk tangan atas perintah Kapolri kepada jajarannya untuk berjuang sampai titik darah penghabisan mempertahankan posisi Polri saat ini.

Bahkan Ketua Komisi III Habiburokhman berani bersaksi bahwa itu bentuk loyalitas Kapolri kepada Presiden, bukan justru pembangkangan.

Ternyata, di hadapan kelompok kritis yang baru-baru ini bertemu Presiden Prabowo di Kertanegara, secara eksplisit Presiden membuka opsi Polri berada di bawah Kementerian.

Lalu, apa arti tepuk tangan dari anggota Komisi III itu? Dan apa pula arti kesaksian dari Ketua Komisi III terhadap loyalitas Kapolri itu?

Sebagai salah seorang petinggi Gerindra, mestinya Ketua Komisi III Habiburokhman malu, karena terlalu maju dan pasang badan yang sebetulnya tak terlalu diperlukan.

Kecuali memang, punya kepentingan sendiri pula yang publik tidak mengetahui. Entahlah, tindakan memalukan itu seperti lekat saja pada anggota DPR kita saat ini.

Wajar saja, Jokowi bekerja mati-matian dan habis-habisan untuk PSI, karena Ketua Umumnya Anak Bungsunya dan yang akan diusung nantinya adalah anak sulungnya pula.

  1. Direktur ABC Riset & Consulting[↩]
Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.