SAAT ini generasi muda berusaha keras bertahan di tengah berbagai persoalan yang berkelindan di tengah kehidupan.
Daftar Isi
Tidak mudah memang. Apalagi bagi Gen Z yang hidup di dua alam, dunia maya dan nyata.
Mereka tak pernah lepas berselancar di media sosial, agar tak ketinggalan info untuk berkomunikasi dengan siapapun.
Mereka takut ketinggalan isu terbaru, dan tidak mau disebut kudet atau kurang update.
Celakanya, paparan konten media sosial yang berlebihan justru rentan memicu depresi di kalangan anak muda.
Saat mereka larut di dunia maya, nilai-nilai yang ada di sana pun akan mereka serap.
Tak peduli benar atau salah, baik atau buruk, apabila ditampilkan oleh pesohor negeri, maka itu dianggap layak untuk diikuti.
Mereka terperangkap dalam FOMO (Fear of Missing Out) dan menjadi people pleasure (tidak enakan) demi bisa diterima di lingkungan pertemanan, yang ujung-ujungnya malah membuat mereka bingung tanpa arah, hingga mengikis kepribadian mereka.
Sudut pandang, perspektif atau pov (point of view) mereka telah dipengaruhi gaya hidup kekinian.
Sementara di usia belia mereka masih mencari-cari jati diri.
Mereka belum memiliki bentuk yang jelas tentang diri mereka sendiri.
Mereka pun gamang berpijak pada setiap kondisi dan mudah terbawa arus.
Akibatnya, media laksana ibu asuh yang membesarkan mereka yang membentuk membentuk pov sekuler kapitalistik di kalangan anak muda, yang tanpa sadar menjadikan mereka sebagai target pasar kapitalisme global dan terus menyeret remaja pada budaya materialistik, konsumtif dan liberal.
Akibatnya, tak hanya soal konsumsi, mereka pun akhirnya terpapar konten kekerasan, sehingga membawa mereka pada kasus-kasus kriminalitas.
Siswa bersenjata tajam, tawuran, geng motor, perundungan, dan sebagainya, pun dilakukan demi konten.
Mereka tak punya pemahaman yang benar tentang sikap baik yang harusnya melekat pada kepribadian mereka
Tren Tandingan
Namun tak kalah menariknya, terdapat tren soft life dan digital wellness di kalangan mereka, dengan melakukan digital detox (puasa medsos) atau ikutan program konseling remaja di sekolah lewat Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) demi menjaga kewarasan.
Hal ini sebagai upaya untuk mengurangi keterikatan terhadap gawai.
Pasalnya, Gen Z rata-rata menghabiskan waktu sekitar 6 hingga 9 jam per hari untuk menatap layar ponsel (screen time).
Di samping itu, kondisi perekonomian yang semakin berat memunculkan pula tren downgrade lifestyle agar mampu bertahan dalam kesempitan.
Kini mereka tak sungkan lagi melawan gengsi dengan menggeser tren flexing yang sempat menggejala beberapa waktu lalu.
Mereka mulai beralih ke transportasi umum, dan perlahan meninggalkan kebiasaan menggunakan transportasi mahal.
Mereka juga berani meninggalkan kebiasaan kuliner bergengsi dan kembali ke makanan biasa di tempat-tempat sederhana.
Bahkan outfit pun menggunakan mix and match dari pakaian yang telah ada, serta meninggalkan tren fast fashion yang konsumtif.
Mereka berusaha menekan pengeluaran dan menjaga keseimbangan hidup (work life balance), serta meninggalkan hustle culture atau kerja rodi yang pernah mereka lakukan demi membeli barang impian.
Namun tren ini masih dalam bingkai sekularisme kapitalisme, yang mudah goyah dan dipatahkan dengan tren lain yang nantinya akan kembali menyerang hati dan kepala anak-anak muda ini.
Oleh sebab itu, perlu memberi pemahaman yang kuat berlandaskan akidah, agar pemikiran para pemuda tetap berada dalam ketaatan.
Solusi Islam
Islam menjadi jalan hidup manusia (way of life). Islam memiliki panduan bagi manusia dalam mengarungi kancah kehidupan.
Tidak hanya mengatur ibadah, tetapi Islam memiliki kerangka berpikir yang khas, untuk setiap aktivitas manusia di seluruh lini kehidupan.
Seluruhnya terikat hukum Allah dan ditujukan untuk meraih rida Allah semata.
Maka generasi muslim sejatinya tak akan terbawa arus. Mereka berpijak kuat di atas fondasi syariat.
Aktivitas mereka terukur dan bernilai surga. Sebab seluruh perbuatan yang bersandar pada hukum syara an didedikasikan hanya untuk Allah SWT, akan menghasilkan manusia mulia (khairu ummah).
Generasi muslim pun akan memiliki sudut pandang atau perspektif terbaik. Mereka akan selalu mengaitkan fakta dengan halal—haram.
Mereka juga mengindera (ihsas) permasalahan umat yang terjadi sepanjang waktu. Pemikiran generasi muslim mengungguli masyarakat awam.
Mereka melihat kondisi umat dan segala hal yang tersembunyi di balik tembok, dan mampu terbang memetakan seluruh permasalahan serta mengetahui jalan ke luar yang sahih.
Islam membentuk karakter generasi sehingga mereka paham bahwasanya yang viral di media sosial tidak berarti sebuah kebenaran, dan dalam tatanan kehidupan Islam, anak muda muslim akan senantiasa selektif, kritis dan waspada.
Tidak terbawa arus dan tetap mempertahankan jati dirinya, untuk membangun peradaban Islam yang mulia.
Allahumma ahyanaa bil Islam.















































































































Komentar Terbaru