Membuka cabang baru memberi perusahaan peluang menjangkau lebih banyak pelanggan. Namun, setiap cabang juga menambah proses yang harus dikoordinasikan: menerima pesanan, melakukan pembelian, menyetujui pengeluaran, melayani pelanggan, dan melaporkan hasil kerja. Ketika tiap lokasi menjalankan proses tersebut dengan cara berbeda, kantor pusat akan semakin sulit melihat kondisi bisnis secara utuh.
Perbedaan kecil mungkin belum terasa saat jumlah cabang masih sedikit. Menurut data Internal HashMicro, terdapat perusahaan menyatukan 10 sistem ERP di 12 negara dan meningkatkan otomatisasi pesanan penjualan di salah satu negara dari 18% menjadi 42%. Seiring pertumbuhan, cara kerja yang tidak seragam dapat memperlambat koordinasi dan membuat hasil antar-cabang sulit dibandingkan.
Proses yang berbeda menghasilkan data yang sulit dibandingkan
Satu cabang mungkin mencatat pesanan segera setelah diterima, sementara cabang lain baru memasukkannya ketika barang dikirim. Ada pula cabang yang memakai kategori layanan atau alasan pembatalan yang berbeda. Saat data digabungkan, laporan dapat terlihat rapi tetapi tidak selalu menggambarkan kegiatan yang sama.Akibatnya, manajemen memerlukan waktu tambahan untuk memastikan arti setiap angka sebelum mengambil keputusan. Perusahaan pun sulit mengetahui apakah perbedaan kinerja berasal dari kondisi pasar, kapasitas tim, atau sekadar perbedaan cara pencatatan.
Standarisasi tidak berarti setiap cabang harus mengabaikan kebutuhan lokal. Yang perlu diseragamkan adalah proses inti dan definisi data, sehingga pengecualian dapat terlihat dan dijelaskan.
Persetujuan dan koordinasi semakin sulit diikuti
Tanpa alur kerja bersama, keputusan sehari-hari kerap berpindah melalui pesan pribadi, email, atau dokumen terpisah. Permintaan pembelian dari cabang, misalnya, bisa menunggu karena tidak jelas siapa yang berwenang menyetujuinya. Ketika penanggung jawab berganti, riwayat keputusan juga sulit ditelusuri.Hambatan serupa muncul dalam pelayanan pelanggan. Tim penjualan dapat menjanjikan waktu penyelesaian tanpa mengetahui kapasitas operasional cabang. Kantor pusat mungkin baru melihat masalah setelah keluhan meningkat. Semakin banyak cabang, semakin besar usaha yang dibutuhkan untuk menyatukan informasi tersebut secara manual.
Pertumbuhan cabang membutuhkan standar yang dapat dijalankan
Perusahaan perlu menetapkan kapan suatu transaksi dicatat, siapa yang menyetujui tiap jenis permintaan, dan informasi apa yang wajib tersedia sebelum pekerjaan diteruskan ke tim lain. Standar tersebut harus cukup jelas untuk diikuti cabang baru, tetapi tetap menyediakan mekanisme pengecualian ketika kondisi setempat memang berbeda.Di sinilah aplikasi ERP berperan sebagai solusi dan data lintas cabang dijalankan dengan aturan yang sama. Pesanan, persetujuan, dan pembaruan status dapat mengikuti alur yang telah ditetapkan perusahaan. Kantor pusat memperoleh gambaran yang lebih konsisten, sementara cabang mengetahui langkah dan tanggung jawabnya pada setiap tahap.


















































































































Komentar Terbaru