1.200 orang ditangkap, brand mewah dijarah. Apa kata Al-Qur’an, hadits, dan sejarah Islam tentang kemarahan rakyat & ketimpangan? Baca opini ini.
Daftar Isi
KOTA yang menjadi ikon kemewahan dunia — Paris, rumah bagi Galeries Lafayette dan butik-butik mewahnya — kini menjadi panggung kekacauan.
Balai kota Limoges luluh lantak dibakar. Kantor pariwisata Lyon dilalap api. Massa bertopeng menghajar kaca-kaca toko Lacoste dan Arc’Teryx, merampas isinya, lalu menyemprotkan cat bertuliskan, “Arc’Teryx untuk semua!” Seorang remaja tujuh belas tahun kehilangan tangannya. Sekitar 1.200 orang ditangkap. Wakil Wali Kota Paris mengakui jalanan ibu kota Prancis “hancur lebur”.
Kubu pemerintah menyebut para perusuh ini “sayap kiri ekstrem” dan penjahat. Presiden Emmanuel Macron berjanji menghukum para “penebar kekacauan”.
Seorang guru bernama Regine Monfroid berkata, “Kami sudah muak bekerja keras dengan upah yang sangat rendah, sementara biaya sewa terus naik.” Seorang siswa berusia 18 tahun, Kamil Alahyan, berdemo karena “politisi yang berbohong, serta kelompok ultra-kaya yang terus menumpuk kekayaan dalam 10 tahun terakhir.”
Di Marseille, sebagian massa berteriak membandingkan dirinya dengan Revolusi 1789: “Ini adalah Revolusi, kita sedang merebut Bastille!” Di La Rochelle, sebuah poster berkumandang: “Revolusi atau mati.”
Bagaimana sebuah negara kaya bisa sampai membuat rakyatnya merasa tidak punya apa-apa lagi untuk dirugikan?
Apa yang Terjadi di Jalanan Paris
Demo bermula sejak bulan lalu dari sekolah-sekolah menengah di pinggiran utara Paris — kemarahan atas kekurangan guru dan fasilitas yang buruk. Ia tumbuh menjadi gerakan nasional menentang kenaikan biaya hidup, ketimpangan, dan pemangkasan layanan publik, sebagian dipicu perang di Timur Tengah yang mendorong harga energi. Pemerintah memperkirakan 550 ribu orang turun ke jalan, sementara serikat pekerja CGT memperkirakan 800 ribu. Rompi kuning kembali menyala — mengingatkan bahwa kemarahan yang sama pernah meledak di masa Macron dan tidak pernah benar-benar padam.
Dan kerusuhan ini bukan fenomena Prancis semata. Brussel, Lisbon, Milan, bahkan Tirana ikut bergolak dengan tuntutan serupa yaitu perumahan mahal, pendidikan tak terjangkau, biaya hidup yang menindas. Kerusuhan pecah hanya enam bulan sebelum pemilu presiden 2027, menjadikan setiap jalanan sekaligus panggung politik yang memanas.
Yang Dikatakan Wahyu
Al-Qur’an tidak pernah membaca berita ekonomi, tetapi ia membaca hati manusia lebih jauh dari semua laporan statistik. Allah berfirman, “Kemegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.” (QS. At-Takaatsur: 1-3)
Ayat ini turun menggambarkan peradaban yang sibuk mengumpulkan dan memamerkan kekayaan — sibuk sekadar sibuk, tanpa peduli tetangganya. Apakah tidak ini gambaran yang tepat untuk era ketika logo-logo mewah dijarah bukan karena orang Paris tiba-tiba menjadi pencuri, melainkan karena ketimpangan telah membentuk tembok yang tak terlihat antara yang lapar dan yang berlebih-lebihan?
Namun Islam tidak hanya mengkritik kemewahan; ia mengingatkan bahwa rezeki adalah amanah yang harus mengalir. Allah berfirman, “Dan di langit terdapat rezekimu dan juga apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Dzariyat: 22)
Rezeki dari langit itu turun ke bumi — bukan berhenti di gudang segelintir orang. Ketika distribusi terhenti di tangan sedikit pihak, keadilan ikut mati, dan kemarahan rakyat hanyalah detak jantung dari keadilan yang telah lama berhenti.
Yang Diperingatkan Rasulullah ﷺ
Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadits yang sangat mengejutkan bagi pemimpin mana pun, “Sesungguhnya yang paling saya khawatirkan bagi umatku adalah kelaparan.” (HR. Bukhari)
Perhatikan sabda Rasul tersebut, bukan kekalahan perang, bukan fitnah akidah — tetapi kelaparan. Nabi ﷺ memahami dengan kebijaksanaan ilahi bahwa perut yang kosong bisa meruntuhkan segalanya, baik iman, moral, dan ketertiban. Rakyat yang lapar tidak takut pada gas air mata, karena ia sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dilindungi.
Rasulullah ﷺ juga bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad dan At-Thabrani)
Sebuah negara bisa memiliki gedung parlemen yang megah dan pasukan polisi yang kuat, tetapi jika ia gagal menjadi “pelindung” bagi rakyatnya — guru yang gajinya tak cukup, siswa yang ruang kelasnya membusuk, pekerja yang upahnya tertinggal dari sewa — maka ia telah gagal dalam amanahnya. “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Yang Dituliskan Sejarah
Sejarah Islam menawarkan cermin yang menarik. Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, tahun kelaparan yang dikenal sebagai Am ash-Sha’b melanda wilayah Syam dan Hijaz. Beliau tidak menyalahkan “penjahat” atau memperkuat pasukan. Ia mengirim utusan mencari pasokan, mengguyur distribusi makanan, dan sampai menulis surat kepada pejabat daerah, “Sekiranya Allah memberi rezeki kepada kita, lalu mengapa kita membebani mereka?” Ia bahkan menangguhkan pungutan dari rakyat yang menderita. Sebuah negara yang kaya tidak berhak menekan rakyat yang kelaparan — prinsip ini sudah dipraktikkan empat belas abad silam.
Ada pula Umar bin Abdul Aziz, khalifah yang begitu menata distribusi kekayaan negara hingga para pejabatnya melaporkan bahwa tidak ada lagi orang miskin yang datang mengambil zakat. Kemiskinan musnah bukan karena ekonomi sihir, tetapi karena keadilan administrasi.
Dan sebaliknya, pada masa penaklukan Mekah, Rasulullah ﷺ masuk kota itu dengan pasukan besar, tetapi mengumumkan bahwa tidak ada pembalasan, tidak ada perampasan harta, tidak ada penjarahan. Kemenangan besar itu dimenangkan tanpa satu toko pun dijarah. Kontrasnya dengan jalanan Paris kini amat mengejernihkan bahwa kemarahan yang menghancurkan bukanlah warisan agama mana pun, melainkan gejala kegagalan negara.
Antara Kemarahan yang Sah dan Amarah yang Menyimpang
Di sinilah opini ini hendak menegaskan sesuatu yang penting bahwa kemarahan rakyat Prancis itu sah. Islam sendiri mengajarkan untuk menegakkan kebenaran dan melawan ketidakadilan. Seorang pendemo berusia 19 tahun, Lola, berkata mereka berjuang karena biaya hidup, harga bahan bakar, dan siswa yang diserang hanya karena meminta lebih banyak guru. Tuntutan semacam itu bukan kekacauan; itu adalah suara nurani.
Tetapi ada batas yang tidak boleh dilanggar adalah harta orang lain, fasilitas publik, dan keselamatan jiwa. Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun membahayakan orang lain.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad)
Menjarah toko, membakar balai kota, dan membuat seorang remaja kehilangan tangannya bukanlah perjuangan — itu kerusakan yang akan menimpa kembali rakyat itu sendiri. Sekolah yang dibakar tidak akan melahirkan guru baru; toko yang dirampok tidak akan menurunkan harga sewa.
Maka keduanya harus dihukum dengan adil. Negara yang lalai memenuhi amanahnya kepada rakyat, dan segelintir perusuh yang mengubah keluhan menjadi kerusakan. Islam tidak memilih salah satu — Islam menuntut keduanya.
Penutup
Di La Rochelle, massa membawa poster “Revolusi atau mati.” Tetapi sejarah peradaban mengajarkan bahwa revolusi yang lahir dari perut kosong dan hati penuh, tanpa keadilan yang ditata, hanya melahirkan kekacauan baru. Revolusi 1789 menggulingkan raja, tetapi rakyat Prancis tetap harus menunggu lama sebelum keadilan sosial menemukan bentuknya.
Islam datang membawa jalan ketiga yaitu negara yang adil, pemimpin yang bertanggung jawab, harta yang mengalir, dan rakyat yang menuntut haknya tanpa menumpahkan darah atau merampas harta. Jalan itu tidak sekali menang di jalanan, tetapi terus-menerus dimenangkan dalam setiap kebijakan, setiap anggaran, setiap keputusan yang menempatkan manusia di atas kemegahan.
Karena pada akhirnya, masalah Paris bukan soal harga bahan bakar atau kaca butik yang pecah. Masalahnya adalah ketika kemewahan berdiri terlalu dekat dengan kelaparan, suatu hari keduanya akan saling berhadapan — dan jalanan adalah saksi yang paling jujur.
“Maka demi Tuhan langit dan bumi, sungguh apa yang dijanjikan itu benar-benar akan terjadi, seperti perkataan yang kamu ucapkan.” — QS. Adz-Dzariyat: 23
Wallahu’alam bish shawab.






























































































