OPINI
OPINI

#KaburAjaDulu: Mencari Harapan di Tengah Keterpurukan

Penulis: Hanny N**

TAGAR #KaburAjaDulu belakangan ramai diserukan warganet melalui media sosial, termasuk di X atau Twitter. Jika tagar #KaburAjaDulu dilihat di X, media sosial itu akan memunculkan unggahan warganet terkait kesempatan studi atau bekerja di luar negeri untuk “kabur” dari Indonesia. Lewat #KaburAjaDulu, warganet berbagi informasi seputar lowongan kerja, beasiswa, les bahasa, serta pengalaman berkarier dan kisah hidup di luar negeri.

Banyak anak muda yang bercanda—atau mungkin serius—ingin kabur ke luar negeri, entah buat kuliah, kerja, atau sekadar cari hidup yang lebih baik. Fenomena ini sebenarnya bukan sekadar tren digital biasa, tapi gambaran dari kekecewaan generasi terhadap kondisi dalam negeri.

Di satu sisi, sosial media memperlihatkan kehidupan di negara maju yang terlihat jauh lebih menjanjikan. Sementara di sisi lain, realitas di dalam negeri justru penuh dengan kesulitan—pendidikan mahal dan kualitasnya rendah, lapangan kerja susah didapat, gaji kecil, harga kebutuhan pokok melambung. Tidak heran kalau banyak yang mulai berpikir untuk “kabur” dan mencari kehidupan yang lebih layak di negeri orang.

Fenomena Brain Drain dan Kesenjangan Ekonomi Global

Sebenarnya, tren anak muda ingin hijrah ke luar negeri bukan sesuatu yang baru. Dalam ekonomi global, ini dikenal dengan istilah **brain drain**, yaitu migrasi besar-besaran tenaga terampil dari negara berkembang ke negara maju. Indonesia sendiri sudah lama mengalami fenomena ini.

Bayangkan, banyak mahasiswa berprestasi yang akhirnya memilih menetap di luar negeri setelah mendapat beasiswa dari negara-negara maju. Para pekerja, baik yang profesional maupun tenaga kasar, juga lebih memilih merantau ke negeri orang karena di sana mereka bisa mendapatkan gaji berkali-kali lipat lebih besar dibanding di Indonesia. Hal ini diperparah dengan kebijakan dalam negeri yang nggak bisa memberikan kepastian kesejahteraan bagi rakyatnya. Lapangan kerja minim, ekonomi sulit, harga-harga naik, sementara kebijakan pemerintah cenderung lebih memihak investor dan korporasi besar.

Yang paling ironis, negara maju terus mendapatkan manfaat dari masuknya tenaga kerja terampil, sementara negara berkembang kehilangan sumber daya manusianya. Kesenjangan ekonomi antara negara kaya dan miskin pun makin lebar, menciptakan sistem yang tidak adil dan timpang secara global.

Kapitalisme, Biang Keladi yang Bikin Generasi Ingin Kabur

Kalau kita telusuri lebih dalam, semua masalah ini berakar pada sistem ekonomi Kapitalisme yang diadopsi negeri ini. Sistem ini cuma menguntungkan segelintir orang dan menjadikan rakyat sebagai objek eksploitasi. Kekayaan alam yang seharusnya bisa mensejahterakan rakyat malah dikuasai oleh swasta dan asing. Kebijakan negara lebih fokus pada pertumbuhan ekonomi berbasis investasi, bukan kesejahteraan rakyat.

image_print
1 2 3

Reaksi

Berita Lainnya

Uh-oh! It looks like you're using an ad blocker.

Our website relies on ads to provide free content and sustain our operations. By turning off your ad blocker, you help support us and ensure we can continue offering valuable content without any cost to you.

We truly appreciate your understanding and support. Thank you for considering disabling your ad blocker for this website