Semua ini bukti nyata penerapan sistem Demokrasi kapitalisme di negeri ini, bahkan di negeri -negeri muslim di dunia. Padahal sistem ini nyata-nyata menjadikan akal manusia sebagai sumber aturan. Padahal manusia adalah makhluk yang lemah, akalnya terbatas sehingga berpotensi memunculkan pertentangan dan berkonsekuensi lahirnya berbagai permasalahan.
Dari sisi negara, ketika idiologinya diklaim menggunakan Pancasila, hukumnya justru mengadopsi KUHP yang merupakan warisan Belanda. Sungguh tidak berkorelasi samasekali. Pantas saja, lembaga perwakilan rakyat kita sebagai lembaga yudikatif terus menerus disibukkan dengan merancang undang-undang.
Jika tidak membuat undang-undang baru maka mereka akan melakukan revisi. Sedihnya, tidak ada satu pun undang -undang yang mampu mewujudkan keadilan dan kesejahteraan. Meski di dalam tubuh parlemen ada orang Islam. Seringkali yang muslim justru terjebak dalam pembahasan undang -undang yang jelas-jelas dalam syariat diharamkan.
Tentang miras, pemilihan pemimpin perempuan, minerba, pelibatan asing dalam eksplorasi tambang dan energi, pemberian hak pengelolaan tambang kepada ormas, koperasi, pesantren dan lainnya. Bukankah itu sama dengan merendahkan hukum syari’at yang telah ditetapkan Allah tak layak untuk mengatur kehidupan manusia. Dan menganggap hukum manusia lebih tinggi, Nauzubillah, inilah tingkat musyrik tertinggi.
Demokrasi Kapitalisme juga meniscayakan lahirnya pemimpin boneka, yang tamak dan hanya mementingkan kepentingan investor. Setiap kebijakannya tak berpihak kepada rakyat yang dipimpinnya, bahkan rakyat dianggap beban. Tak ada belaskasih kepada rakyat ketika rakyat tergusur karena Proyek Strategis Nasional (PSN) merenggut ruang hidup mereka, tak berusaha menghentikan pajak meski rakyat telah kesulitan mendapatkan pendapatan karena gelombang PHK menghantam, impor berlebihan dan daya beli masyarakat melemah akibat banyak pengangguran.
Korupsi makin menggurita, menyasar BUMN yang semestinya bekerja untuk negara, malah menjadi sapi perah oknum pejabat, partai dan menyenangkan konglomerat. Padahal mayoritas pejabat itu disumpah di bawah Kitab Al-Qur’an saat pelantikan. Di kepala mereka hanya ada keuntungan materi, dan bukan ancaman azab Allah ketika selama menjabat mereka bersikap tak adil kepada rakyat.
Jelas Rasulullah Saw bersabda,”Sungguh manusia yang paling Allah cintai pada Hari Kiamat kelak dan paling dekat kedudukannya dengan Dia adalah seorang pemimpin yang adil. Sungguh manusia yang paling Allah benci dan paling keras mendapatkan azab-Nya adalah seorang pemimpin yang zalim.” (HR at-Tirmidzi).






























































































Paling Banyak Dipilih
Viral Lagu “Tak Diberi Tulang…
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Inilah 5 Produk Jam Tangan…
Apa benar, yang nomor 4 itu adalah produk ROLEX...???
Berusia Setengah Abad sejak 6/8/1973…
Berikut untuk mengingatkan kita kembali tentang Sejarah: "Kita bukan pembuat…
Pembiayaan Digantung Tak Ada Kabar…
Kriet mate bank Aceh nyan menyoe meurusan ngen ureng Aceh.…
Ada Dua Nama Calon Direktur…
Siapapun nanti dirut yg terpilih, saya siap membantu bas menggarap…
Active Threads
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Hana jelas, Leh kiban di meubut di kelola,Meu peu cap…
Paling Dikomentari
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Kabar Gembira, Bustami Hamzah Resmi…
Bukan Sekadar Pelengkap! PTS Kini…
Komentator Paling Aktif
Komentar Paling Aktif
Jeffrey Epstein yahudi nggak jelas dan pelaku pelecehan sensual.
Syukur lah karena seharusnya memang langsung dimakan karena bukan namanya…
Ara lagi salah minum obat. Kami maklum. hahahaha...
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Berita Terpopuler