BANDA ACEH – Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini dikenal sebagai pionir emansipasi wanita di Indonesia.Melalui surat-suratnya, ia menyuarakan hak-hak perempuan untuk mendapat pendidikan dan kebebasan berpikir.
Namun, di balik perjuangannya yang begitu mulia, Kartini harus berpulang di usia 25 tahun pada 1904, hanya beberapa hari setelah melahirkan anak pertamanya—RM Soesalit Djojoadhiningrat.
RM Soesalit Djojoadhiningrat: Anak Kartini yang Terlibat Kontroversi
RM Soesalit merupakan anak semata wayang hasil pernikahan Kartini dengan KRM Adipati Ario Singgih Djojoadhiningrat, Bupati Rembang saat itu.
Setelah dewasa, Soesalit sempat meniti karier militer dan pernah menjadi Panglima Divisi III Diponegoro pada masa pendudukan Jepang.
Ia dikenal sebagai tokoh yang ikut bergerilya melawan penjajahan Belanda saat Agresi Militer II.
Namun, namanya tercemar akibat disebut dalam dokumen terkait Pemberontakan PKI Madiun 1948.
Akibatnya, ia dikenai tahanan rumah dan penurunan pangkat.
Sejak saat itu, bayang-bayang keterlibatan PKI melekat pada keluarganya, membuat kehidupan mereka semakin terpinggirkan.
Cucu Kartini: Boedi Soesalit dan Kehidupan yang Semakin Sulit
Soesalit menikah dengan Siti Loewijah dan memiliki seorang anak, yakni RM Boedi Setyo Soesalit.
Boedi meneruskan darah biru keluarganya, namun hidup dalam tekanan sosial dan Politik karena masa lalu ayahnya.
Boedi menikah dengan Ray Sri Biatini Boedi Setyo Soesalit, dan dari pernikahan tersebut lahir lima anak yang kelak menjadi cicit dari R.A. Kartini.
Lima Cicit Kartini Hidup Memprihatinkan: Semua Mengidap Autisme
Kisah pilu terus berlanjut pada generasi keempat.
Kelima cicit R.A. Kartini diketahui mengidap autisme, yang membuat mereka kesulitan dalam bekerja dan berinteraksi secara sosial.
Nama-nama kelima cicit tersebut antara lain:
RA Kartini Setiawati Soesalit
RM Kartono Boediman Soesalit
RA Roekmini Soesalit
RM Samingoen Bawadiman Soesalit
RM Rahmat Harjanto Soesalit
Keluarga ini tidak tinggal di Jepara, melainkan menetap di Parung, Bogor, dalam kondisi ekonomi yang serba kekurangan.
Boedi Soesalit meninggal dalam usia 57 tahun, meninggalkan sang istri, Sri Biatini, untuk merawat lima anak berkebutuhan khusus seorang diri.
Nasib Tragis Para Cicit: Dari Tukang Ojek hingga Bunuh Diri
Kehidupan kelima cicit Kartini amat jauh dari kata sejahtera.
Berikut sekelumit kisah memilukan mereka:
Kartono dan Samingoen sempat menjadi tukang ojek demi menyambung hidup.
Roekmini harus menjanda setelah suaminya bunuh diri karena tekanan ekonomi.
Rahmat Harjanto meninggal dunia lebih dulu.

































































































Paling Banyak Dipilih
Viral Lagu “Tak Diberi Tulang…
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Inilah 5 Produk Jam Tangan…
Apa benar, yang nomor 4 itu adalah produk ROLEX...???
Berusia Setengah Abad sejak 6/8/1973…
Berikut untuk mengingatkan kita kembali tentang Sejarah: "Kita bukan pembuat…
Pembiayaan Digantung Tak Ada Kabar…
Kriet mate bank Aceh nyan menyoe meurusan ngen ureng Aceh.…
Ada Dua Nama Calon Direktur…
Siapapun nanti dirut yg terpilih, saya siap membantu bas menggarap…
Active Threads
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Hana jelas, Leh kiban di meubut di kelola,Meu peu cap…
Paling Dikomentari
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Kabar Gembira, Bustami Hamzah Resmi…
Bukan Sekadar Pelengkap! PTS Kini…
Komentator Paling Aktif
Komentar Paling Aktif
Syukur lah karena seharusnya memang langsung dimakan karena bukan namanya…
Ara lagi salah minum obat. Kami maklum. hahahaha...
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Si opung, siapa yang ngga' kenal dia. Mafioso Indonesia
Berita Terpopuler