OPINI
OPINI

Long March To Gaza: Pentingya Membebaskan Pemikiran Sebelum Membebaskan Tanah

Tipuan Israel: Goliath dengan Kaki dari Tanah Liat

Citra Israel sebagai negara superpower di kawasan, dijaga dengan cermat oleh media dan sekutunya. Namun kenyataannya jauh dari itu. Israel rapuh. Mereka memiliki tentara, senjata, teknologi, bahkan bom nuklir—namun tidak memiliki ketahanan moral dan mental yang utuh.

Operasi Taufan al Aqsa dan serangan rudal Iran ke Tel Aviv beberapa waktu lalu menunjukkan kenyataan itu. Puluhan rudal menembus sistem pertahanan udara “tercanggih di dunia”. Netanyahu bersembunyi. Tentara-tentaranya depresi. Bahkan tingkat bunuh diri di kalangan tentara IDF melonjak tajam.

Jika benar Israel sekuat itu, mengapa negara kecil seperti Gaza mampu membuatnya porak-poranda? Jika pertahanannya sempurna, mengapa rudal bisa menembusnya? Jika benar memiliki kekuatan, mengapa harus bergantung pada negara-negara Arab untuk membantu mempertahankan dirinya?

Sistem propaganda menjadikan kita buta. Kita terlalu sibuk mengonsumsi informasi tanpa mengolahnya. Terlalu lama kita ditidurkan oleh retorika dan ketakutan, hingga tak lagi bisa membedakan antara realitas dan ilusi.

Ironi Para Pengkhianat

Yordania, negara yang secara historis memiliki ikatan kuat dengan Palestina, justru membantu Israel menembak jatuh drone Iran. Pakistan, negara mayoritas Muslim dengan kekuatan militer besar, memilih diam bahkan condong mendukung posisi Israel. Semua ini membuktikan satu hal: kita dikelilingi oleh pengkhianat, yang lebih takut kehilangan dukungan Amerika daripada kehilangan harga diri dan iman.

Persaudaraan Islam yang seharusnya menjadi tameng utama melawan kezaliman, dikoyak oleh nasionalisme, sekularisme, dan kepentingan politik praktis. Umat Islam diperintah untuk bersatu, namun justru diajari untuk saling curiga. Negara-negara yang seharusnya menjadi benteng Islam, berubah menjadi pelayan kekuasaan Barat.

Inilah balada para pengkhianat. Mereka bukan hanya mengkhianati Palestina. Mereka mengkhianati Rasulullah SAW, mengkhianati Al-Qur’an, mengkhianati syuhada, dan mengkhianati umat yang terus berharap pada mereka.

Kunci Pembebasan

Kita harus berani mengatakan: sistem saat ini telah gagal. Negara-negara Islam tidak bisa lagi bergerak berdasarkan kepentingan nasional sempit. Dunia Islam butuh visi baru—atau tepatnya visi lama yang telah dikubur: Khilafah Islamiyah.

Khilafah bukan sekadar nostalgia sejarah, tapi kebutuhan mendesak umat hari ini. Dalam Khilafah, tidak ada sekat nasionalisme, tidak ada perjanjian dengan penjajah, tidak ada ketundukan pada zionis, dan tidak ada kekuasaan atas nama demokrasi yang bisa diperjualbelikan.

Ukhuwah Islamiyah yang sejati hanya bisa dibangun di atas akidah yang sama, dengan satu kepemimpinan, satu tujuan, dan satu bendera. Jika tidak, maka umat ini akan terus menjadi bulan-bulanan—seperti yang terjadi sekarang di Gaza, Yaman, Suriah, Rohingya, dan tempat-tempat lain.

image_print
1 2 3

Reaksi

Berita Lainnya