NASIONAL
NASIONAL

Menjawab Tuntutan Rakyat Sebelum Terlambat

JAKARTA –  Gelombang demonstrasi yang sempat mengguncang Jakarta kini mulai mereda. Jalanan yang beberapa hari lalu dipenuhi ribuan massa tampak lengang, transportasi umum mulai beroperasi kembali, dan sebagian besar aktivitas masyarakat berjalan normal.

Namun di balik ketenangan ini, jejak luka sosial, kerugian ekonomi, serta keretakan politik masih jelas terlihat. Data kuantitatif yang muncul justru memperlihatkan bahwa masalah belum selesai, melainkan berpotensi memunculkan gelombang berikutnya.

Kerusuhan yang menyertai demonstrasi meninggalkan catatan kelam. Di Makassar, massa membakar gedung DPRD hingga menewaskan sedikitnya tiga orang dan melukai lima lainnya.

Peristiwa serupa terjadi di beberapa daerah lain, dengan korban jiwa dan luka-luka yang semakin menambah daftar panjang tragedi.

Di Jakarta sendiri, enam korban luka masih dirawat intensif, salah satunya harus menjalani operasi akibat hantaman benda tumpul. Polisi juga mengamankan 351 orang, termasuk hampir dua ratus pelajar di bawah umur.

Meskipun sebagian besar telah dibebaskan, fakta ini menyingkap dimensi baru keterlibatan generasi muda yang mengindikasikan ketidakpuasan yang makin meluas di kalangan akar rumput.

Dampak ekonomi pun langsung terasa. Rupiah melemah hampir 1 persen terhadap dolar AS, sementara IHSG jatuh lebih dari 2 persen hanya dalam satu sesi perdagangan. Investor merespons kerusuhan dengan kepanikan, menunjukkan bahwa instabilitas politik tidak hanya berhenti pada kerusakan fasilitas publik, melainkan langsung mengguncang fondasi keuangan nasional.

Pemerintah DKI sendiri mencatat kerugian antara Rp25 hingga Rp65 miliar akibat perusakan halte Transjakarta, pos polisi, lampu lalu lintas, dan berbagai infrastruktur lainnya. Kerugian individu pun tidak sedikit; seorang lurah bahkan kehilangan mobil dinas dan barang pribadi senilai puluhan juta rupiah. Semua ini memperlihatkan bahwa kerusakan akibat demo bukan sekadar simbolik, tetapi nyata dan sistemik.

Namun, dimensi paling sensitif dari kerusuhan ini bukan hanya korban materi atau stabilitas ekonomi, melainkan krisis legitimasi. Kematian seorang pengemudi ojek online bernama Affan Kurniawan—yang sejatinya tidak terlibat langsung dalam aksi—menjadi simbol pergeseran opini publik. Ia dipersepsikan sebagai korban represifitas aparat terhadap rakyat biasa.

Simbol inilah yang berpotensi mempercepat runtuhnya kepercayaan publik terhadap elit politik dan institusi negara. Teori politik klasik Max Weber mengingatkan bahwa kekuasaan hanya bisa bertahan sejauh memiliki legitimasi. Begitu legitimasi runtuh, negara hanya bertahan dengan represi, yang pada akhirnya justru menumbuhkan resistensi baru.

image_print
1 2

Reaksi

Berita Lainnya

Uh-oh! It looks like you're using an ad blocker.

Our website relies on ads to provide free content and sustain our operations. By turning off your ad blocker, you help support us and ensure we can continue offering valuable content without any cost to you.

We truly appreciate your understanding and support. Thank you for considering disabling your ad blocker for this website