Ketenangan hari ini bisa dibaca dengan dua cara. Pertama, mungkin massa puas karena tuntutan mereka mulai didengar. Kedua, bisa jadi ini hanyalah jeda sebelum gelombang yang lebih besar. Pepatah lama menyebut air tenang menghanyutkan.
Jika pemerintah tidak segera menjawab tuntutan rakyat dengan kebijakan yang adil, transparan, dan solutif, maka apa yang terjadi di 1998 bisa saja kembali berulang, meski dalam wajah yang berbeda.
Demo Jakarta dan kerusuhan yang menyertainya bukan peristiwa insidental, melainkan cermin dari akumulasi masalah struktural dan krusial yakni ketidakadilan ekonomi, kegagalan komunikasi politik, serta menurunnya kepercayaan publik pada elit.
Terakhir, tugas negara bukan sekadar mengamankan jalanan dengan barisan aparat, melainkan mengamankan rasa keadilan di hati rakyat. Tanpa itu, “tenang” hari ini hanyalah ketenangan semu, yang sewaktu-waktu dapat meledak menjadi badai sosial yang lebih dahsyat.





























































































Beri Komentar