Himpitan diplomatik yang mendera Israel tak menyurutkan mimpi Israel Raya yang membentang antara sungai Nil hingga Eufrat. Perlawanan dunia internasional seolah menjadi bahan bakar untuk melaju lebih kencang mencapai apa yang mereka impikan.
Tapi sayang, Israel telat jumawa. AS sebagai penyokong utama – dan tinggal satu-satunya – sudah berada dalam penurunan performa dalam segala bidang. Ekonomi AS kian melemah. Dolar makin menyusut pemakaiannya di dunia internasional. Kondisi internal AS juga parah, banyak pengamat memprediksi akan terjadinya perpecahan serius di dalam AS. Tinggal menunggu waktu bagi AS untuk tersungkur dan tak bisa bangkit. Padahal nyawa Israel tergantung dukungan AS.
Tanda-tanda alam ini tak dibaca oleh Israel. Atau sebenarnya terbaca tapi diabaikan karena sok jago. Israel masih merasa kuat dan bisa bertindak semaunya dengan gaya koboi. Padahal menjinakkan Gaza saja kesulitan.
Soal hubungan erat AS dan Israel ini membuat kita berkesimpulan, bahwa keruntuhan Israel akan satu paket dengan keruntuhan AS. Inilah barangkali hikmah yang bisa kita ambil di balik derita Gaza yang berkepanjangan. Waktu kemenangan Gaza adalah waktu keruntuhan Israel. Sedangkan waktu keruntuhan Israel bersamaan dengan waktu keruntuhan AS.
Sementara AS sebagai imperium, kematiannya membutuhkan proses lama, sebab usia imperium cenderung lebih panjang, beda dengan usia manusia yang lebih singkat. Tapi jika dibandingkan dengan imperium-imperium masa lalu, masa jaya AS termasuk paling singkat. Mereka mulai berkuasa pada tahun 1945, tapi kini di tahun 2025 kondisi tubuhnya sudah lemah dan penuh luka. Tak sampai 100 tahun sang raksasa sudah oleng.
Israel menyangka puncak kejayaan mereka – punya Israel Raya – baru akan tiba, cahaya terang itu ada di depan. Padahal sejatinya yang mereka lihat fatamorgana. Justru yang terjadi Israel berjalan menuju lorong gelap. Keruntuhan total akan segera tiba, mengikuti keruntuhan pelindungnya – AS.
Perang panjang yang dilakoni Israel melawan pejuang Gaza benar-benar melemahkan Israel di segala sisi, baik militer, ekonomi, politik maupun diplomasi global. Israel hanya bisa membunuh manusia Gaza dan merusak bangunannya, tapi secara politik justru menguatkan Gaza. Nasib Israel sebetulnya sama dengan AS, sedang berjalan menurun menuju jurang.
Donald Trump dan Benyamin Netanyahu sama-sama dianggap pemantik perpecahan internal. Jika AS dan Israel sama-sama pecah, hancurlah keduanya. Sebab, perpecahan internal selalu menjadi pemicu keruntuhan sebuah bangsa, negara maupun imperium. Kita bantu doa agar prediksi itu segara menjadi kenyataan.
Israel Salah Zaman Ketika Bertindak Zalim
Kita hidup di zaman kamera. Banyak orang bertindak zalim dikalahkan oleh kamera. Padahal ia berbuat di ruang sepi. Tapi karena ada kamera yang merekam, lalu disebar melalui media sosial, kecaman mengalir dari segala penjuru, dan tiba-tiba ia menjelma menjadi musuh bersama.






























































































PALING DIKOMENTARI
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Kabar Gembira, Bustami Hamzah Resmi…
Bukan Sekadar Pelengkap! PTS Kini…
KOMENTAR
Ara lagi salah minum obat. Kami maklum. hahahaha...
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Si opung, siapa yang ngga' kenal dia. Mafioso Indonesia
Penipu yang begini gaya dia. sekalinya menipu akan tetap terus…