ISLAM
ISLAM

Fenomena Job Hugging: Cermin Gagalnya Kapitalisme Global dan Urgensi Solusi Islam

Data Internasional: Job Hugging Sebagai Fenomena Global

Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Survei Gallup Global Workplace Report 2024 menemukan bahwa 59 persen pekerja di seluruh dunia masuk kategori “quiet quitters”, yakni karyawan yang bekerja sekadarnya, tanpa antusiasme, hanya untuk bertahan hidup. Di Amerika Serikat sendiri, laporan dari U.S. Bureau of Labor Statistics (2023) menunjukkan tingkat “employee disengagement” mencapai 18 persen, yang menyebabkan kerugian produktivitas hingga USD 8,8 triliun per tahun bagi perekonomian global.

Sementara di Asia, khususnya di negara berkembang seperti Indonesia, Vietnam, dan Filipina, fenomena ini semakin parah karena pasar kerja sangat padat, sementara kualitas pekerjaan yang tersedia rendah. Menurut International Labour Organization (ILO), sekitar 1 dari 5 pekerja muda di kawasan Asia Tenggara bekerja di sektor dengan “low quality job” yang tidak memberikan jaminan keamanan maupun penghasilan layak.

Dengan kondisi ini, job hugging bukan sekadar pilihan, melainkan “jalan paling realistis” bagi banyak orang yang tidak punya alternatif.

Perspektif Islam: Negara Wajib Menjamin Pekerjaan

Berbeda dengan kapitalisme, Islam menempatkan negara sebagai penanggung jawab penuh terhadap urusan rakyat, termasuk masalah pekerjaan.

Dalam Muqaddimah Dustur pasal 153 (konsep konstitusi Islam), ditegaskan bahwa negara wajib menyediakan lapangan kerja bagi seluruh warganya.

Islam memiliki kebijakan yang menyeluruh dalam menjamin ketersediaan pekerjaan:

  1. Pengelolaan sumber daya alam
    SDA strategis—air, hutan, tambang, energi—ditetapkan sebagai milik umum. Negara wajib mengelolanya dan hasilnya digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat, termasuk membuka lapangan kerja luas.

  2. Industrialisasi mandiri
    Negara mendorong pembangunan industri berat maupun ringan dengan basis kemandirian, bukan ketergantungan asing. Dengan demikian, kebutuhan rakyat terpenuhi dan kesempatan kerja tercipta secara luas.

  3. Ihyaul Mawat (menghidupkan tanah mati)
    Islam memberi kesempatan rakyat untuk mengelola tanah terlantar agar produktif. Negara mendukung dengan sarana, modal, dan keterampilan sehingga rakyat bisa bekerja.

  4. Bantuan modal dan keterampilan
    Jika ada warga yang tidak memiliki pekerjaan, negara akan membekali mereka dengan keterampilan serta modal agar bisa mandiri secara ekonomi.

  5. Pendidikan berbasis ruh iman
    Pendidikan dalam Islam tidak hanya menyiapkan skill kerja, tetapi juga membangun kesadaran bahwa bekerja adalah ibadah. Rasulullah ﷺ bersabda:
    “Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari)

Dengan paradigma iman, pekerjaan bukan sekadar soal gaji, melainkan bagian dari pengabdian kepada Allah SWT.

image_print
1 2 3

Reaksi

Berita Lainnya

Uh-oh! It looks like you're using an ad blocker.

Our website relies on ads to provide free content and sustain our operations. By turning off your ad blocker, you help support us and ensure we can continue offering valuable content without any cost to you.

We truly appreciate your understanding and support. Thank you for considering disabling your ad blocker for this website