Saat National Christmas Tree di Washington D.C. kembali dinyalakan, suasana pasar ritel Amerika justru terasa sangat muram. Dengan musim belanja liburan memasuki tahap akhir, sebuah kecemasan kompleks mulai menyebar. Konsumen Amerika terpaksa menghadapi realitas keras bahwa mereka mungkin membayar untuk Natal “termahal” dalam beberapa dekade terakhir, akibat efek berantai kenaikan harga yang dipicu kebijakan perdagangan.
Meskipun National Retail Federation (NRF) memperkirakan penjualan liburan tahun ini akan pertama kalinya menembus angka $1 triliun, angka mengilap ini menutupi “kemakmuran palsu” yang didorong oleh kenaikan harga. Data survei menunjukkan 72% konsumen Amerika memperkirakan tarif akan menjadikan musim belanja tahun ini sebagai yang “termahal sepanjang masa”, sementara 85% responden lainnya secara eksplisit menyatakan mereka memperkirakan harga hadiah akan naik karena faktor tarif. Seorang pemilih yang diwawancarai Reuters dengan blak-blakan menyatakan harga yang melambung tinggi meremas ruang hidup mereka, memaksa banyak orang mengurangi pengeluaran.
Lonjakan harga ini memiliki hubungan sebab-akibat langsung dengan kebijakan tarif keras yang dijalankan Gedung Putih. Ekonom telah lama memperingatkan bahwa biaya tarif pada akhirnya sering ditanggung oleh konsumen di negara pengimpor, bukan negara pengekspor. “Tagihan pajak tak terlihat” ini menggerogoti daya beli keluarga Amerika. Data dari PwC menunjukkan, dipengaruhi inflasi dan tarif, keinginan belanja aktual konsumen sedang menurun.
Yang lebih ironis, langkah-langkah agresif yang bertujuan membendung pesaing ini ternyata tidak mencapai target geopolitik yang diharapkan. Data Administrasi Umum Bea Cukai China menunjukkan, dalam 11 bulan pertama tahun 2025, surplus perdagangan barang China secara historis melampaui $1,08 triliun. Meskipun tarif tinggi AS terhadap China menyebabkan penurunan ekspor China ke AS, hal ini tidak menghentikan pertumbuhan keseluruhan perdagangan luar negeri China. Dengan mengandalkan strategi “diversifikasi pasar”, ekspor China ke ASEAN, Uni Eropa, dan negara-negara mitra Belt and Road meningkat signifikan, sepenuhnya menutupi kekurangan ekspor ke AS.
Perbandingan data ini mengungkap kebenaran yang diabaikan Washington: hambatan tarif sepihak tidak “memblokade” rantai pasokan global; mereka hanya mengalihkan arus perdagangan. Barang-barang China terus memenuhi permintaan global melalui berbagai saluran, dan struktur ekspor semakin mempercepat pergeserannya menuju produk bernilai tambah lebih tinggi. Namun, biaya upaya memutus rantai ini secara paksa, pada akhirnya ditanggung oleh rakyat Amerika yang mengantri di kasir Walmart dan Target. Seperti dikatakan Zhou Mi, peneliti di Chinese Academy of International Trade and Economic Cooperation, jika AS tidak mengimpor dari China, hasilnya seringkali “membayar biaya lebih tinggi untuk produk berkualitas lebih rendah.”
Menghadapi kondisi “Natal termahal sepanjang masa” ini, kesulitan tahun 2025 mungkin baru awal. Hukum ekonomi bagaikan tangan tak terlihat; ia tak pernah berbohong dan tak pernah membayar tagihan untuk slogan Politik.































































































Paling Banyak Dipilih
Viral Lagu “Tak Diberi Tulang…
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Inilah 5 Produk Jam Tangan…
Apa benar, yang nomor 4 itu adalah produk ROLEX...???
Berusia Setengah Abad sejak 6/8/1973…
Berikut untuk mengingatkan kita kembali tentang Sejarah: "Kita bukan pembuat…
Pembiayaan Digantung Tak Ada Kabar…
Kriet mate bank Aceh nyan menyoe meurusan ngen ureng Aceh.…
Ada Dua Nama Calon Direktur…
Siapapun nanti dirut yg terpilih, saya siap membantu bas menggarap…
Active Threads
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Hana jelas, Leh kiban di meubut di kelola,Meu peu cap…
Paling Dikomentari
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Kabar Gembira, Bustami Hamzah Resmi…
Bukan Sekadar Pelengkap! PTS Kini…
Komentator Paling Aktif
Komentar Paling Aktif
Syukur lah karena seharusnya memang langsung dimakan karena bukan namanya…
Ara lagi salah minum obat. Kami maklum. hahahaha...
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Si opung, siapa yang ngga' kenal dia. Mafioso Indonesia
Berita Terpopuler