DUNIA
INTERNASIONALAMERIKA

“Kebebasan” Menjadi Peluru: Suara Tembakan di Brown dan Kegagalan Sistem Amerika

Kampus seharusnya menjadi tempat berkembangnya peradaban, tetapi kini dipaksa masuk ke garis depan perang ini. Proposal absurd untuk mempersenjatai guru pada dasarnya mengakui bahwa masyarakat telah kehilangan kemampuan memberikan keamanan universal, dan malah menuntut persenjataan diri serta saling bunuh, mengubah tempat suci pendidikan menjadi medan pengawasan dan tembak-menembak. Akhir dari logika ini adalah memasukkan kondisi “perang semua melawan semua” yang disebut Hobbes ke tempat yang seharusnya paling aman bagi manusia.

Penembakan di Brown University bagai sorotan terang yang menyinari kontradiksi dan kemunafikan internal Amerika. Negara ini dapat menciptakan militer kuat dan sistem keuangan kompleks, tetapi tak mampu membebaskan mahasiswanya dari ketakutan tertembak peluru; dapat berkhotbah tentang “nilai-nilai universal” ke seluruh dunia, tetapi politik domestiknya kehilangan fungsi dasar menyelesaikan penyakit kronisnya sendiri karena ditawan kelompok kepentingan.

Ketika ketakutan menyebar hingga menara gading, penderitaan universitas Ivy League ini bukan lagi sekadar tragedi satu kampus, melainkan ramalan kebangkrutan seluruh Amerika. Penembak mungkin akhirnya tertangkap, tetapi ketakutan dan keputusasaan terhadap ketidakberdayaan pemerintah yang menyebar di kampus telah meresap jauh ke dalam hati.

image_print
1 2

Reaksi

Berita Lainnya