OPINI
OPINI

Raksasa Asia di Ambang Perang: Cina vs Jepang, Dunia Waspada

Konflik Cina–Jepang tidak berdiri sendiri; ia berdampak langsung pada dunia Islam melalui investasi, utang, proyek infrastruktur, dan aliansi militer. Alih-alih mengambil sikap mandiri, banyak negeri Muslim justru terjebak dalam politik pragmatis—condong ke Cina demi modal, atau ke Jepang dan sekutunya demi keamanan. Dalam perspektif Islam, sikap ini mencerminkan hilangnya kepemimpinan politik yang berlandaskan akidah.

Akankah Ketegangan Ini Berujung Perang?

Melihat eskalasi saat ini, perang terbuka antara kedua kekuatan itu masih bukan sesuatu yang pasti—namun risikonya terus meningkat jika diplomasi gagal. Sejarah mengajarkan bahwa perang besar sering dimulai dari insiden kecil yang kemudian tidak dikelola secara bijak, hingga memicu reaksi berantai.

Mars yang digelar oleh jet tempur dan ancaman saling bertahan bukanlah hal baru dalam sejarah. Namun bagaimana kedua negara menanggapi insiden radar ini, diiringi tekanan diplomatik, pengaruh sekutu seperti AS, serta sensitivitas isu Taiwan, semua itu memberi pelajaran bahwa ketidakstabilan satu wilayah dapat dengan cepat memengaruhi keseluruhan tatanan global.

Bagaimana Posisi Politik Islam terhadap Ketegangan Ini?

Dari perspektif Islam, politik bukan sekadar seni diplomasi atau perebutan kekuasaan, melainkan ri‘āyatusy syu’ūn—pengurusan urusan umat berdasarkan sebuah ideologi. Karena itu, konflik antarnegara harus dibaca melalui ideologi yang menggerakkan kebijakan mereka. Islam menolak politik non-blok, politik netral, politik ikut poros Barat atau Timur. Karena dengan mengakui semua ini, kita masuk dalam labirin dan klasifikasi asing.

Dalam Islam hubungan internasional dibangun untuk menjaga kepentingan umat Islam, membawa risalah Islam ke dunia, dan mncegah dominasi juga penjajahan. Maka Islam tidak berpihak ke Cina atau Jepang, karena keduanya bukan negara ideologis Islam, keduanya bergerak dengan logika penjajahan ekonomi dan kekuatan. Dukungan kepada salah satu hanya akan memperpanjang ketergantungan dan melemahkan posisi umat.

Sayangnya, dunia Islam hari ini tidak berdaulat. Negara-negara Muslim dijadikan pasar oleh Cina, dijadikan basis militer dan sekutu oleh Jepang-AS. Konflik Cina–Jepang justru membuka peluang eksploitasi baru menjadikan negeri-negeri Muslim sebagai objek investasi, jalur logistik, dan medan perebutan pengaruh.

Yang seharusnya dilakukan dunia Islam adalah menjaga independensi politik umat, menyadarkan umat bahwa konflik ini bukan konflik mereka, membangun kekuatan ideologis Islam, mengakhiri sistem negara-bangsa, dan menegakkan Khilafah sebagai negara ideologis.

image_print
1 2 3 4

Reaksi

Berita Lainnya

Uh-oh! It looks like you're using an ad blocker.

Our website relies on ads to provide free content and sustain our operations. By turning off your ad blocker, you help support us and ensure we can continue offering valuable content without any cost to you.

We truly appreciate your understanding and support. Thank you for considering disabling your ad blocker for this website