Oleh: Rosadi Jamani 1
SEBAGAI rakyat, ada baiknya sering menyimak pidato-pidato Presiden Prabowo Subianto. Kalian akan tergugah, sekaligus muncul pertanyaan. Sebab, penguasa negeri ini sering menyebut kekuatan asing.
Setiap kali Prabowo Subianto naik podium, publik sudah bisa menebak satu hal, akan ada pihak asing yang muncul sebagai tokoh antagonis.
Entah itu kekuatan asing, antek asing, atau pihak asing yang tidak ingin Indonesia maju.
Kata-kata itu meluncur seperti mantra sakti, seolah-olah ada sosok bayangan internasional yang setiap malam duduk di ruang gelap, merancang skenario agar Indonesia tetap miskin, lemah, dan penuh defisit.
Ironisnya, di tahun 2025 saja Prabowo tercatat melakukan 34 kali kunjungan ke luar negeri. Apakah ia sedang bernegosiasi dengan musuh yang ia kutuk, atau justru sedang berfoto bersama mereka sambil tersenyum diplomatis?
Mari kita lihat data. Pada 24 Desember 2025, di Kejaksaan Agung, Prabowo berpidato lantang menyerahkan uang sitaan korupsi Rp6,62 triliun.
Di sana ia menegaskan, ada kekuatan asing yang merugikan Indonesia. Ia tidak peduli jika ditertawakan. Ia menambahkan, ada pihak asing yang tidak menghendaki Indonesia menjadi negara maju.
Pernyataan ini bukan hal baru. Sejak lama, Prabowo konsisten menyebut asing sebagai biang kerok kebocoran anggaran dan perampokan sumber daya alam. Namun, ia tidak pernah menyebut nama negara.
Tidak ada Amerika Serikat, tidak ada China, tidak ada Qatar. Hanya asing yang misterius, seperti hantu Politik yang bisa dipakai kapan saja untuk menakut-nakuti rakyat.
Sekarang mari kita bandingkan dengan kenyataan. Sepanjang 2025, Prabowo melakukan lawatan ke Doha, Qatar pada April, lalu rangkaian kunjungan ke Timur Tengah, Amerika Latin, dan Eropa pada Juli.
Pada September ia hadir di Sidang Umum PBB ke-80 di New York, Amerika Serikat, dan dalam enam hari mengunjungi empat negara sekaligus.
Oktober, Prabowo muncul di Seoul, Korea Selatan, menghadiri KTT APEC dan bertemu Perdana Menteri Selandia Baru. Terbaru beliau berkunjung Pakistan dan Rusia.
Totalnya, lebih dari 10 negara dikunjungi, dengan catatan resmi menyebut angka 34 kali perjalanan luar negeri.
Apakah kekuatan asing itu sebenarnya adalah negara-negara yang ia kunjungi? Atau justru ia sedang bernegosiasi dengan mereka sambil diam-diam mengakui bahwa tanpa asing, Indonesia tidak bisa berdiri tegak di panggung global?
Kita belum selesai. Tahun 2026, Prabowo merencanakan utang baru sebesar Rp781,8 triliun untuk menutup defisit APBN Rp638,8 triliun, setara 2,48 persen dari PDB.
Catatan Kaki:- Penulis adalah Ketua Satupena Kalimantan Barat[↩]






























































































