Wajah kanan dimana daun telinga lebih lebar dan terbuka, dengan volume yang terasa lebih “berisi”. Ini bukan efek kamera, karena proporsinya terhadap rahang dan pipi juga berbeda. Pada foto kanan, telinga tampak lebih dominan dibanding struktur wajah sekitarnya.
Ketiga, heliks telinga nyata berbeda. Wajah kiri dimana heliks tampak lebih tipis, tajam, dan menekuk ke dalam. Lengkungnya sempit dan rapat. Wajah kanan dimana heliks lebih tebal, landai, dan terbuka, dengan lengkung yang lebih lebar dan halus.
Mari saya jelaskan, heliks itu apa? Ini penting, karena sering disebut tapi jarang dipahami. Heliks (helix) adalah tepi luar telinga yang melengkung, mulai dari atas, memutar ke belakang, lalu turun ke bawah. Ibarat pagar, heliks adalah bingkai utama telinga.
Ini bukan detail remeh. Ini detail yang dalam praktik forensik justru sering dipakai untuk membatalkan dugaan kesamaan, bukan menguatkannya. Telinga tidak mengenal kompromi narasi. Ia tidak peduli jabatan, tidak tahu kepentingan, dan tidak bisa dipaksa ikut cerita.
Dalam kajian identifikasi wajah, bentuk heliks dianggap salah satu ciri paling stabil seumur hidup. Ia hampir tidak terpengaruh ekspresi, emosi, pencahayaan, atau kosmetik.
Keempat, perlekatan telinga ke kepala. Ini detail kecil tapi menentukan. Wajah kiri dimana telinga tampak lebih menempel ke sisi kepala. Wajah kanan dimana telinga lebih menonjol keluar, ada jarak yang jelas antara daun telinga dan kepala. Perbedaan ini bukan soal sudut foto semata, karena arah wajah dan kamera relatif sebanding.
Jika kita rangkum, kita bisa bikin kesimpulan anatomi telinga (tanpa drama). Ujung telinga: runcing vs tumpul; daun telinga: ramping vs lebar; heliks: tajam–rapat vs tebal–landai; perlekatan: menempel vs terbuka. Maka secara ilmu anatomi wajah, telinga kedua wajah ini menunjukkan pola individu yang berbeda, bukan variasi usia dari orang yang sama.
-000-
Maka ketika telinga, bagian wajah yang paling jujur dan paling bandel terhadap manipulasi, sudah “angkat tangan” dan berkata, “kami bukan satu orang”, pertanyaannya seharusnya sederhana dan lurus: mengapa justru sistem memilih menutup telinga, secara harfiah dan metaforis, lalu mempersoalkan mereka yang masih mau melihat dengan jujur?
Pertanyaan berikutnya lebih serius, dan di sinilah logika mulai jungkir balik adalah, mengapa aparat dan sebagian kalangan justru tampak kesulitan menyatakan apakah dua foto itu orang yang sama atau bukan, tetapi pada saat yang sama merasa cukup yakin untuk memperkarakan warga yang menyatakan sebaliknya?




















































































































Paling Banyak Dipilih
Viral Lagu “Tak Diberi Tulang…
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Inilah 5 Produk Jam Tangan…
Apa benar, yang nomor 4 itu adalah produk ROLEX...???
Berusia Setengah Abad sejak 6/8/1973…
Berikut untuk mengingatkan kita kembali tentang Sejarah: "Kita bukan pembuat…
Pembiayaan Digantung Tak Ada Kabar…
Kriet mate bank Aceh nyan menyoe meurusan ngen ureng Aceh.…
Ada Dua Nama Calon Direktur…
Siapapun nanti dirut yg terpilih, saya siap membantu bas menggarap…
Active Threads
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Hana jelas, Leh kiban di meubut di kelola,Meu peu cap…
Paling Dikomentari
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Kabar Gembira, Bustami Hamzah Resmi…
Bukan Sekadar Pelengkap! PTS Kini…
Komentator Paling Aktif
Komentar Paling Aktif
Jeffrey Epstein yahudi nggak jelas dan pelaku pelecehan sensual.
Syukur lah karena seharusnya memang langsung dimakan karena bukan namanya…
Ara lagi salah minum obat. Kami maklum. hahahaha...
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Berita Terpopuler