UPDATE

DUNIA
INTERNASIONALAFRIKA

Perang Saudara Di Sudan Memasuki Tahun Ketiga, Krisis Kemanusiaan Memburuk

SUDAN – Perang saudara antara Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) dan pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) yang dimulai pada April 2023 terus berkecamuk dan memperburuk kondisi warga sipil di seluruh negeri.

Konflik ini bermula dari perebutan kekuasaan antara dua kekuatan militer yang sebelumnya bersekutu setelah jatuhnya rezim Omar al-Bashir.

RSF telah berhasil merebut El-Fasher, ibu kota North Darfur, setelah pengepungan panjang selama berbulan-bulan. Dalam kunjungan pertama tim PBB sejak jatuhnya kota itu, kondisi di El-Fasher digambarkan sebagai “adegan kejahatan (crime scene)” dengan kerusakan luas, fasilitas dasar yang hancur, dan sebagian besar penduduk telah mengungsi.

Seorang pejabat PBB menyatakan bahwa banyak penduduk tidak lagi memiliki akses ke makanan, air bersih, atau layanan kesehatan, sementara kerusakan infrastruktur parah membuat bantuan kemanusiaan sulit dijangkau.

Berita Lainnya:
Ramalan Kiamat saat Natal 2025 Meleset, Ribuan Pengikut ‘Nabi Nuh’ dari Ghana Sudah Naik Bahtera

Konflik berdampak luas terhadap penduduk sipil. Laporan dari lembaga internasional FAO menunjukkan bahwa puluhan juta orang kini membutuhkan bantuan kemanusiaan dan banyak wilayah menghadapi ancaman kelaparan akut karena terganggunya pasokan makanan dan serangan yang memblokir rute bantuan.

Selain itu, berbagai organisasi hak asasi internasional mengecam serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil, termasuk rumah sakit dan fasilitas publik lainnya. Amnesty International menyatakan RSF harus segera menghentikan serangan terhadap warga tak bersenjata dan memberikan akses bantuan kemanusiaan tanpa hambatan.

Berita Lainnya:
Divonis 15 Tahun Penjara dan Denda Rp47 Triliun, Najib Razak Ajukan Banding

Reaksi internasional terhadap krisis ini terus meningkat. Kelompok negara G7 mengecam serangan terhadap warga sipil dan mendesak gencatan senjata serta penghormatan terhadap hak asasi manusia dalam konflik tersebut.

Sementara itu, upaya diplomatik untuk menghentikan perang berlanjut, termasuk ajakan agar semua pihak menerima gencatan senjata kemanusiaan untuk membuka jalur bantuan bagi warga yang terjebak dalam konflik.

Krisis ini telah memicu salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia, dengan jutaan pengungsi internal, fasilitas kesehatan yang kolaps, dan angka kematian yang terus meningkat di tengah perang yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Reaksi

Berita Lainnya

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ditemukan berita/artikel lainnya.

Uh-oh! It looks like you're using an ad blocker.

Our website relies on ads to provide free content and sustain our operations. By turning off your ad blocker, you help support us and ensure we can continue offering valuable content without any cost to you.

We truly appreciate your understanding and support. Thank you for considering disabling your ad blocker for this website