BANDA ACEH – Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), tengah menimbang jalur hukum setelah namanya ikut dikaitkan dalam polemik tudingan ijazah palsu Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.
Isu tersebut dinilai berpotensi melebar dan memicu ketegangan Politik antarelite jika tidak disikapi secara tepat.
Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago, memandang opsi hukum yang dipertimbangkan SBY sebagai langkah strategis untuk meredam eskalasi isu agar tidak berkembang menjadi konflik terbuka antara dua tokoh nasional tersebut.
Arifki menilai SBY tidak masuk ke perdebatan substansi terkait benar atau tidaknya isu ijazah, melainkan menyoroti asal-usul tudingan yang menyeret namanya.
Pendekatan ini dinilai lebih terukur dalam konteks komunikasi politik.
“Langkah hukum yang diambil oleh Pak SBY tepat karena diamnya selama ini juga tidak menguntungkan. Karena yang menikmati isu ijazah Jokowi berbagai kelompok politik,” ujar Arifki dalam keterangannya, Jumat (2/1/2026), melansir dari Tribunnews.
Menurutnya, sikap pasif justru berisiko mempersempit ruang dialog politik di masa mendatang.
“Jika situasi ini tidak disikapi oleh SBY, maka bakal mengunci ruang komunikasi SBY dan Jokowi dalam momentum politik ke depan,” sambungnya.
Relasi Politik SBY–Jokowi Dinilai Masih Terbuka
Lebih lanjut, Arifki menilai hubungan politik antara SBY dan Jokowi relatif cair dan masih memungkinkan untuk dijaga.
Salah satu indikatornya adalah masuknya Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) ke kabinet sebagai menteri pada era pemerintahan Jokowi.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya kanal komunikasi yang tetap terbuka di tengah dinamika elite nasional.
Dalam konteks ini, langkah SBY dinilai tidak dimaksudkan untuk memicu konfrontasi, melainkan menjaga keseimbangan relasi politik.
“Pilihan SBY tidak masuk ke ruang Debat publik soal ijazah bisa dibaca sebagai upaya menjaga jarak dari konflik, sekaligus mempertahankan relasi politik dengan Jokowi,” kata Arifki.
Menjaga Stabilitas Politik Menuju 2029
Arifki juga menilai konteks politik jangka panjang, termasuk menjelang 2029, menjadi pertimbangan penting di balik langkah yang dipilih SBY.
Isu personal yang dibiarkan berkembang tanpa batas dinilai berpotensi dimanfaatkan oleh aktor politik lain untuk memperlebar konflik elite.
Menurutnya, langkah hukum justru dapat menjadi instrumen untuk mengendalikan narasi politik agar tidak liar di ruang publik.
“Dalam politik, menjaga hubungan tidak selalu dilakukan melalui dukungan terbuka, tetapi juga dengan membatasi eskalasi konflik. Langkah SBY dapat dibaca dalam kerangka tersebut,” pungkas Arifki.




















































































































Paling Banyak Dipilih
Viral Lagu “Tak Diberi Tulang…
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Inilah 5 Produk Jam Tangan…
Apa benar, yang nomor 4 itu adalah produk ROLEX...???
Berusia Setengah Abad sejak 6/8/1973…
Berikut untuk mengingatkan kita kembali tentang Sejarah: "Kita bukan pembuat…
Pembiayaan Digantung Tak Ada Kabar…
Kriet mate bank Aceh nyan menyoe meurusan ngen ureng Aceh.…
Ada Dua Nama Calon Direktur…
Siapapun nanti dirut yg terpilih, saya siap membantu bas menggarap…
Active Threads
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Hana jelas, Leh kiban di meubut di kelola,Meu peu cap…
Paling Dikomentari
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Kabar Gembira, Bustami Hamzah Resmi…
Bukan Sekadar Pelengkap! PTS Kini…
Komentator Paling Aktif
Komentar Paling Aktif
Jeffrey Epstein yahudi nggak jelas dan pelaku pelecehan sensual.
Syukur lah karena seharusnya memang langsung dimakan karena bukan namanya…
Ara lagi salah minum obat. Kami maklum. hahahaha...
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Berita Terpopuler