BANDA ACEH – Kedutaan Besar (Kedubes) Virtual Amerika Serikat (AS) di Iran menyerukan warganya untuk segera meninggalkan Iran. Seruan itu disampaikan Senin (12/1/2026) di tengah kemungkinan serangan AS ke Iran terkait demonstrasi besar-besaran yang mengguncang negara itu.
Kedubes menyatakan, jika warga AS tidak memungkinkan untuk meninggalkan Iran karena kondisi, mereka diimbau untuk membuat tempat aman dengan menyediakan persediaan makanan, air, dan obat-obatan.
“Warga AS harus mengantisipasi pemadaman internet berkelanjutan, merencanakan cara komunikasi alternatif, dan, jika aman untuk melakukannya, mempertimbangkan untuk meninggalkan Iran melalui jalur darat ke Armenia atau Turki,” bunyi pernyataan kedubes, seperti dikutip dari Sputnik, Selasa (13/1/2026).
Selain itu kedubes mendesak warganya untuk mengurangi kebergantungan terhadap pemerintah AS untuk memfasilitasi kepergian dari Iran. Disebutkan pula, warga AS harus menjauh, menghindari, dan tidak terlibat dalam demonstrasi yang terjadi di Iran.
“Tindakan yang Harus Dilakukan: Tinggalkan Iran sekarang. Bikin rencana untuk meninggalkan Iran yang tidak bergantung pada bantuan pemerintah AS. Jika Anda tidak bisa pergi, cari lokasi aman di dalam tempat tinggal Anda atau bangunan aman lainnya. Siapkan persediaan makanan, air, obat-obatan, dan barang-barang penting lain. Hindari demonstrasi, tetap tenang, waspadai lingkungan sekitar,” demikian isi pernyataan.
Sebelumnya Presiden AS Donald Trump mengancam akan menyerang Iran jika korban demonstran terus berjatuhan. Beberapa lembaga HAM internasional menyebut ratusan orang tewas selama demonstrasi yang telah berangsung 2 pekan.
Juru Bicara PBB Stephane Dujarric yakin banyak demonstran tewas selama demonstrasi, namun jumlahnya belum bisa diverifikasi.
“Kami bisa tetap berhubungan dengan rekan-rekan kami melalui sarana elektronik. Kami tidak memiliki angka pasti yang bisa diverifikasi, tetapi jelas bagi kami bahwa sejumlah orang, sejumlah warga sipil, telah tewas,” kata Dujarric.
Sebelumnya seorang sumber pejabat militer di pasukan keamanan Iran mengungkap, lebih dari 500 orang tewas selama unjuk rasa, termasuk 110 polisi dan anggota Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Demonstrasi di Iran pecah sejak 28 Desember 2025 di tengah kekhawatiran tentang meningkatnya inflasi dipicu melemahnya mata uang rial Iran. Para dempnstran mengeluhkan fluktuasi nilai tukar yang menyebabkan kenaikan harga grosir dan eceran, mendorong Gubernur Bank Sentral Iran Mohammad Reza Farzin untuk mengundurkan diri.






























































































